Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Ramai-Ramai Kuasai NKRI

Ramai-Ramai Kuasai NKRI

Sketsanews.com – Perusahaan minyak asal Rusia Rosneft disebut ingin membangun kilang minyak di Tuban senilai US$13 miliar. Keinginan itu dinyatakan langsung CEO Rosneft Igor Sechin saat bertemu Presiden Joko Widodo di Rusia, Jumat (20/5).

Perusahaan minyak Rusia ingin membuat kilang minyak di Tuban. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)
Perusahaan minyak Rusia ingin membuat kilang minyak di Tuban. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Dalam pertemuan tersebut Jokowi didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri BUMN Rini Soemarno, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

Melalui keterangan tertulisnya, Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana menyatakan, dalam pertemuan itu Rosneft berharap untuk dapat melakukan kerja sama dengan Pertamina untuk dapat membangun kilang minyak di Tuban, Jawa Timur. Total nilai investasinya sebesar US$13 miliar dengan kapasitas produksi sebesar 320 ribu barel per hari.

Selain bekerja sama untuk dapat membangun kilang minyak di Tuban, Rosneft membuka kesempatan bagi Pertamina agar bisa menambang minyak di Rusia untuk kemudian dibawa ke Indonesia sebagai cadangan minyak nasional.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah melakukan studi kelayakan terhadap ladang-ladang minyak Rusia tersebut dan menemukan kesimpulan bahwa ladang tersebut layak digunakan.

Menteri BUMN Rini Soemarno berkata, potensi ladang minyak di Rusia itu ditargetkan 200 juta barel. “Harapannya dapat 35 ribu barel per hari,” kata Rini.

Jokowi dalam pertemuan itu menekankan agar kesepakatan pembangunan kilang di Tuban tersebut untuk segera diselesaikan. Dengan begitu nota kesepahaman dapat ditandatangani pekan depan.

“Mereka beri janji kepada Presiden akan bekerja sekeras mungkin untuk bisa mencapai target yang diharapkan,” ujar Rini.

Selain membangun kilang, Indonesia menurut Rini juga menjajaki kemungkinan Rosneft mau bekerja sama dalam pembangunan tempat penyimpanan cadangan minyak di Indonesia.

“Mereka (Rosneft) mau memberikan komitmen itu, bahkan mereka ingin menjadikan Tuban sebagai kota penghubung perdagangan minyak,” ujarnya.

Sementara itu Dirut Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, dalam kerja sama dengan Rosneft nantinya, Pertamina akan memiliki peran yang lebih besar.

Senada dengan apa yang dikatakan Dirut Pertamina, Rini Soemarno juga menerangkan bahwa bentuk kerja sama antara keduanya akan berupa joint venture.

Di negaranya, Rosneft dikenal sebagai perusahaan multinasional terbesar yang dimiliki oleh pemerintah Rusia dan menghasilkan berbagai macam produk perminyakan.

Kontraktor Jepang

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan rencana investasi dua perusahaan konstruksi asal Jepang di Indonesia, dengan estimasi modal yang akan ditanam sebesar Rp4 triliun.

Dua perusahaan konstruksi asal Jepang di Indonesia, dengan estimasi modal yang akan ditanam sebesar Rp4 triliun.(REUTERS/Kimimasa Mayama)
Dua perusahaan konstruksi asal Jepang di Indonesia, dengan estimasi modal yang akan ditanam sebesar Rp4 triliun.(REUTERS/Kimimasa Mayama)

Kepala BKPM Franky Sibarani menjelaskan, perusahaan konstruksi Jepang yang pertama merencanakan penanaman modal sebesar Rp3,5 triliun. Sementara yang satu lagi tertarik untuk investasi di bidang usaha depo bangunan dengan rencana investasi senilai Rp500 juta.

“Perusahaan rencananya akan mengikuti dua proyek infrastruktur yang ada di Indonesia senilai Rp2,5 triliun. Selain itu, perusahaan juga merencanakan untuk membangun apartemen di wilayah Jabodetabek dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun,” katanya melalui keterangan pers, Jumat (20/5).

Menurut Franky, investor Jepang yang tertarik untuk membangun depo bangunan merupakan perusahaan penyedia peralatan bangunan untuk distributor kontruksi (home improvement). Untuk usahanya tersebut, perusahaan membutuhkan lahan seluas 2.000 meter persegi sesuai dengan  ketentuan Daftar Negatif Investasi (DNI).

“Mereka serius untuk investasi di Indonesia, terutama setelah mengetahui adanya sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) online,” ujarnya.

Franky menilai kedua perusahaan Jepang tersebut terbilang serius untuk berinvestasi karena telah siap untuk bermitra dengan pengusaha lokal (joint venture).

Pejabat Promosi Investasi kantor perwakilan BKPM (IIPC) Tokyo, Saribua Siahaan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dan mengawal proyek-proyek prioritas pemerintah. Harapannya, investor Jepang dapat merealisasikan minat investasinya dengan cepat dan sesuai dengan target perusahaan.

“Minat investor di Jepang untuk berinvestasi di Indonesia cukup besar. Oleh karena itu, kami siap untuk memfasilitasi kebutuhan para investor dan mengawal proses realisasi investasi mereka, terutama untuk proyek-proyek prioritas pemerintah,” katanya.

Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2015 tumbuh 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai investasi sebesar US$2,87 miliar. Investasi Jepang itu tersebar di 2.030 proyek dan menyerap 115.400 tenaga kerja. Mayoritas modal ditanam di sektor manufaktur, khususnya sektor otomotif, elektronika dan permesinan, serta sektor kimia dan farmasi.

Pada triwulan pertama tahun 2016 ini, investasi Jepang di Indonesia mencapai US$1,58 miliar, yang  terdiri dari 427 proyek dan menyerap 28.377 tenaga kerja.

Posisi Jepang berada di peringkat kedua dari daftar negara sumber investasi di Indonesia, di bawah Singapura dan di atas Hong Kong, China dan Belanda. (Br/CNN Indonesia)

%d blogger menyukai ini: