Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Indonesia Sudah Selayaknya Menjadi Anggota Dewan ICAO

Indonesia Sudah Selayaknya Menjadi Anggota Dewan ICAO

International Civil Aviation Organisation (ICAO)

Sketsanews.com – Indonesia layak untuk menempati posisi sebagai anggota dewan International Civil Aviation Organisation (ICAO) 2016-2019. Potensi yang dimiliki Indonesia sangat mendukung.

Untuk pencalonan menuju keanggotaan Dewan ICAO, yakni badan khusus PBB untuk penerbangan sipil, Indonesia melalui resepsi diplomatik di Den Haag menggalang dukungan dari negara-negara sahabat di kawasan Eropa dan Afrika.

Diwakili oleh Dubes masing-masing, mereka antara lain Bosnia-Herzegovina, Czechia, Estonia, Ghana, Kamerun, Mesir, Slovakia, Sudan dan Senegal serta sejumlah diplomat senior yang mewakili negaranya, termasuk di dalamnya perwakilan Uni Eropa.

“Potensi-potensi Indonesia mendukung pencalonan tersebut antara lain luas wilayah, jumlah penduduk, kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi, penerbangan serta pariwisata yang dimiliki Indonesia,” ujar Dubes RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja kepada detikcom, Jumat (20/5/2016) waktu setempat.

Sementara itu Utusan Khusus Menteri Perhubungan RI untuk ICAO Dr. Indroyono Soesilo memaparkan data dan fakta mengapa Indonesia harus menjadi anggota Dewan ICAO.

“Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat bergantung pada pelayanan transportasi udara untuk menghubungkan lebih dari 17.000 pulau, di samping transportasi laut,” papar Indroyono.

Menurut Indroyono, Indonesia juga memiliki 237 bandara di mana sebanyak 30 bandara melayani penerbangan internasional dan sistem navigasi udara Indonesia melayani 45% (4 dari 9 regional area) penerbangan dunia.

“Sistem navigasi penerbangan Thales dari Prancis saat ini terpasang di mana-mana di Indonesia, baik itu untuk keperluan penerbangan sipil maupun militer,” imbuh Indroyono.

Untuk lebih meyakinkan para Dubes negara sahabat, Indroyono menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 1.142 pesawat dari berbagai jenis dan akan terus bertambah menjadi 1.500 dalam 5 tahun ke depan.

Perusahaan manufaktur pesawat seperti Boeing, Airbus, Embraier dan Bombardier sangat sibuk untuk melayani kebutuhan pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia.

“Jumlah penumpang yang mencapai 90 juta orang per tahun dengan pertumbuhan 14% per tahun menjadikan Indonesia negara nomor 12 tersibuk di dunia dan Bandara Soekarno-Hatta menjadi bandara ke-10 tersibuk di dunia dengan 62 juta penumpang per tahun,” tandas Indroyono.

Di sisi lain Indonesia juga sangat aktif membantu negara-negara berkembang dengan menawarkan 53 jenis pelatihan dan workshop di bidang penerbangan.

Pada 2015 Indonesia juga memberikan kontribusi sebesar Euro 150.000 untuk membantu program ICAO dalam rangka peningkatan pengembangan kapasitas bagi negara-negara Afrika.

“Mempertimbangkan fakta dan data tersebut Indonesia selayaknya dapat mengambil peran dalam penetapan kebijakan penerbangan internasional dengan menjadi anggota Dewan ICAO,” demikian Indroyono.

Indroyono mengharapkan negara-negara sahabat yang hadir agar merekomendasikan kepada pemerintah masing-masing untuk mendukung Indonesia dalam pemilihan anggota Dewan ICAO yang akan digelar di Montreal, Kanada pada 28 September-4 Oktober 2016.

Secara terpisah, Atase Perhubungan RI di Den Haag, I Made Suartika, mengatakan bahwa resepsi diplomatik di Den Haag (18/5/2016) adalah yang ketujuh kali sejak Desember 2015 setelah sebelumnya diadakan di Jakarta, Montreal, Washington DC, Riyadh, Singapura dan Kuala Lumpur.

Menurut Suartika, penggalangan dukungan juga dilakukan dengan kampanye pada pertemuan kelompok penerbangan kawasan seperti LACAC (Latin America Civil Aviation Conference) di Mendoza (Argentina), AFCAC (Africa Civil Aviation Conference) di Mesir, kunjungan ke Kuala Lumpur, Roma, dan Brussel.

Penggalangan dukungan berikutnya dengan menggelar Pertemuan Tingkat Menteri Transportasi yang akan digelar di Bali pada 29-31 Mei 2016 dan akan dihadiri 28 Menteri Transportasi dari Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika.

“Video kampanye juga disiapkan untuk ditayangkan pada semua maskapai internasional yang memiliki penerbangan ke Indonesia serta jaringan CNN, BBC dan FOX,” pungkas I Made Suartika menjelaskan.

(Br/Detik)

%d blogger menyukai ini: