Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, Headlines Perlukah Pendidikan Seks?

Perlukah Pendidikan Seks?

Perlukah Pendidikan Seks

Sketsanews.com – Ditengah carut marut dunia pendidikan Indonesia, masyarakat juga disuguhi dengan berderet kasus asusila, pencabulan, foto dan video porno. Hal itu, menandai gagalnya sistem pendidikan akhlak dan moral. Bangsa ini memang bisa dikatakan berhasil mendidik anak bangsa menjadi orang yang cerdas atau sedikit cerdas, tetapi gagal mendidik anak bangsa menjadi orang yang berakhlak dan bermoral.

Melihat beberapa fenomena belakangan ini mengenai perilaku seks bebas yang terkadang berujung pada kematian yang mengenaskan. Ini sungguh fenomena yang menggerahkan jiwa dan menggairahkan akal untuk membuat kesimpulan kecil, akan buruknya moral generasi bangsa saat ini. Tentu saja, tidak perlu disebutkan satu-persatu. Berita yang berangkat dari fakta akan potret perilaku seks bebas yang ada di negeri ini, karena yang terpenting saat ini adalah membesarkan porsi perhatian pada generasi masa depan bangsa mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, mungkin juga bagi lansia (lanjut usia). Mereka merupakan generasi penerus yang akan menjelajahi dan menggantikan posisi kita.

Mungkin bagi sebagian masyarakat menolak, dalam hal perbincangan seputar pendidikan seks, jika ingin diaplikasikan maka kata seks harus dihilangkan dengan menggantikan kata-kata atau bahasa lain, namun mengandung makna yang serupa. Persoalannya, saat orang menyebutkan kata tersebut, hubungannya pasti dengan kata kerja seks atau terkesan porno, vulgar, dan sebagainya. Namun dalam realitas kehidupan masyarakat tidak dapat menghindari keingintahuan para remaja, sebab persoalan seksual adalah hal yang alamiah. Sehingga, banyak dari kalangan remaja yang pada akhirnya melampiaskan rasa keingintahuan mereka dengan internet yang semakin mudah diakses, buku-buku porno, teman-teman bermain mereka dengan tidak memperhatikan etika.

Orang tua di sini memilki peran yang sangat penting, ibarat seorang sopir mobil dalam suatu perjalanan. Orang tua yang akan memberikan arahan atau bimbingan kepada anak-anaknya akan pendidikan seks. Nah, adapun maksud dari ungkapan pendidikan seks di sini, bukanlah memberikan praktisi kegiatan seks kepada anak. Namun, mencoba memberikan pemahaman akan bahaya seks tersebut. Pendidikan seks secara sempit dapat diartikan, pemahaman atau informasi persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. Pemahaman ini bertujuan untuk membimbing serta mengasuh perilaku laki-laki dan perempuan.

Sekali lagi, mungkin sebagian dari masyarakat, ketika dihadapi dengan pembahasan tentang seks ini merupaka hal yang tabu dan kotor, sehingga terkadang menjadi hal yang sensitif untuk diperbincangkan. Namun, dewasa ini banyak dari kalangan cendekiawaan menilai pendidikan seks ini sudah saatnya diberi pemahaman dan disebarluaskan, mengingat dewasa ini para remaja telah mengenal akan pergaulan bebas.

Mengapa menjadi titik pandang orang tua di sini, karena orang tua merupakan dunia pendidikan pertama bagi anak, dan dengan asuhannya akan lebih memberikan jaminan akan tumbuh dengan baik. Pendidikan seks terhadap anak hendaknya diberikan sedini mungkin, untuk membimbing ke arah yang lebih baik.

Selanjutnya, orang tua dalam hal ini ayah, ibarat sebagai nahkoda, dan ibu sebagai juru bantunya, kemudian anak-anaknya sebagai penumpang, yang akan siap kemana akan dibawa. Pendidikan seks dalam kaitan ini akan menjadikan kesadaran bagi anak-anak sebagai generasi ke depan untuk lebih berhati-hati dalam bergaul. Meskipun  hal ini bukan merupakan obat mujarab, setidaknya bisa mematahkan pundi-pundi seks bebas yang beredar di masa ini, dan tidak menyebar ke masa depan.

Dunia pendidikan sebagai tempat mencetak generasi intelektual, tentu sangat sadar betul eksistensi dan perannya, untuk mencerdaskan anak bangsa agar menjadi generasi berkualitas dan mampu membangun bangsa ini. Selain itu agar mencetak anak didik yang mampu bersaing dan bertahan di masa mendatang.

Pendidikan negeri ini sedang dilanda cobaan, untuk menguji seberapa jauh efektifitasnya dalam mendidik anak, hingga tidak sekedar cerdas secara intelektual namun juga cerdas secara emosional. Memiliki nurani dan budi pekerti dalam menerapkan ilmu dan pengetahuannya secara benar dan tidak menyimpang. (Vi)

%d blogger menyukai ini: