Sketsa News
Home Berita Terkini, Foto, News Mahalnya Biaya Sekolah Orangutan…

Mahalnya Biaya Sekolah Orangutan…

1924443IMG-4275780x390

Sketsanews.com – Membentuk orangutan memiliki kemampuan hidup di alam liar memerlukan dana sangat besar.

CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation, Jamartin Sihite, mengungkapkan, dana yang dikeluarkan untuk mendidik satu orangutan antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan.

Dana itu untuk membiayai seluruh kegiatan orangutan mulai belajar hingga kesehatannya selama mengikuti program reintroduksi di sekolah orangutan di hutan Samboja Lestari milik BOSF.

“Terbesar adalah biaya makan,” kata Jamartin di sela pelepasliaran lima orangutan ke hutan Kehje Sewen di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Jumat (27/5/2016).

“Itu hitungan biaya dari sejak masuk sekolah hingga saat dilepasliarkan,” kata Jamartin.

Ditilik dari individu orangutan yang kini dilepasliarkan, angka dana yang dikeluarkan untuk tiap orangutan menjadi fantastis. BOSF segera melepasliarkan tiga jantan dan dua betina, yakni Kenji, Hope, Raymond, Gadis, dan Angely.

Kenji, jantan yang menjalani rehabilitasi selama enam tahun, kini akan dilepasliarkan. Itu berarti selama enam tahun, pendidikan untuk Kenji sudah menghabiskan dana Rp 150 juta.

“Ratusan jutalah untuk satu individu orangutan,” kata Jamartin.

“(Biaya) akan bengkak di hari musim kering, saat air sungai surut. Bisa ada orangutan yang masuk ke kebun warga atau permukiman. Warga meminta ganti rugi sana sini,” kata Jamartin.

Habitat menyempit

Alam liar adalah habitat hidup orangutan. Di sana hampir tak ada pertemuan manusia dengan orangutan. Kenyataan hutan menyempit menyebabkan konflik manusia dengan orangutan meningkat. Hal itu setidaknya terlihat dari banyaknya bayi orangutan yang disita Balai Konservasi Sumber Daya Alam dari tangan warga.

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar Trigunajasa mengatakan, kebanyakan kasus orangutan temuan biasanya setelah habis diburu.

“Kami dapat dari warga setelah diburu, dibawa kemari, dan perlu waktu sampai dilepasliarkan,” kata Sunandar.

Anak orangutan yang ditemukan rata-rata berusia satu tahun atau kurang. Kondisinya beragam, mulai dari yang sangat mengenaskan, seperti penuh luka hingga hanya trauma.

Bayi-bayi sitaan atau temuan itu diserahkan ke BOSF dan menjalani proses rehabilitasi lewat kegiatan sekolah orangutan untuk menjadi individu yang pintar hidup di alam liar.

“Rata-rata belajar 5 hingga 7 tahun. Yang bodoh bisa lebih 9 tahun. Biasalah, orangutan itu juga ada yang malas dan semaunya sendiri. Seperti manusia, ada yang suka bolos sekolah,” kata Jamartin.

Mereka dididik agar memiliki sifat mendekati sifat orangutan liar, mulai dari kemampuan memanjat pohon, mengenal buah dan pakan, mampu membuat dan memperbiki sarang, mengenal bahaya dan kompetitor di alam liar. Kemampuan paling utama adalah selalu hidup di pohon.

Kemampuan itu sejatinya hanya diperoleh selagi bersama sang induk.

“Bayi orangutan itu tidak lepas dari induknya hingga usia 5 hingga 7 tahun. Bandingkan dengan manusia, usia 3 tahun saja sudah lepas,” kata Jamartin.

Untuk berhasil mendidik orangutan agar berhasil bertahan di hutan belantara tidaklah mudah. Orangutan masih terus dipantau selama dua bulan di awal hidupnya di belantara pasca-lepas liar. Selanjutnya pemantauan berlangsung dengan patroli rutin periode-periode tertentu.

Apa 100 persen berhasil? Jamartin mengakui, keberhasilan 90 persen. Namun ini karena didukung patroli rutin yang dilakukan BOSF di Kehje Sewen.

“Saat patrol menemukan yang sakit, kami bawa kembali ke BOSF, dilatih lagi, lalu dilepasliarkan,” kata Jamartin.

Namun demikian ada juga orangutan yang akhirnya mati seusai pelepasliaran. Ia mencontohkan, timnya pernah menemukan bangkai orangutan karena diseruduk babi hutan.

“Ini karena dia tak mau naik lagi ke pohon, bisa karena perkelahaian ataupun berebut betina,” kata Jamartin.

“Itulah mengapa kurikulum pengajaran orangutan ini sangat penting,” katanya.

Begitulah upaya BOSF merawat 700 orangutan dengan dukungan 420 karyawan, baik ahli primata, keaneragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi dan kesehatan orangutan. BOSF sendiri melakukannya sejak berdiri pada 1991.

Mahalnya pelepasliaran

Biaya dengan nilai sangat besar juga terjadi saat melepasliar orangutan. Pelepasliaran bisa dilakukan lewat udara maupun darat.

Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Pengiriman menggunakan helikopter menghabiskan biaya 5.000 dolar AS, namun berlangsung hanya 4 hingga 5 jam.

Perjalanan via udara juga mengurangi dampak stres orangutan. Selain itu, helikopter mampu memindahkan 8 hingga 12 orangutan sekali angkut.

Berbeda bila lewat darat. Seperti upaya yang dilakukan pada Kenji dkk. Kelimanya akan dilepaskan di hutan Kehje Sewen. Jaraknya 2 hari dari Balikpapan. Lamanya waktu di jalanan berisiko bagi orangutan. Stres merupakan dampak bagi orangutan dalam perjalanan via darat.

“Untuk biaya pelepasliaran lewat darat bisa Rp 250 juta,” katanya.

Mengeluarkan dana besar bisa saja tidak dilakukan bila hutan tak rusak dan habitat satwa termasuk orangutan terjaga.

“Sehingga tak perlu mengeluarkan dana besar dan mahal yang sebenarnya bisa dipakai untuk kegiatan, misalnya untuk pembangunan,” kata Sunandar.

“Mahalnya upaya penyelamatan 1 orangutan, apalagi yang tidak bisa dilepasliarkan,” katanya. (Fr/Kompas)

%d blogger menyukai ini: