Sketsa News
Home Berita Terkini, News Ekonomi RI Diprediksi Hanya Tumbuh 5,02%, Ini Penyebabnya

Ekonomi RI Diprediksi Hanya Tumbuh 5,02%, Ini Penyebabnya

Sketsanews.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2016 hanya tumbuh 4,92 persen. Bank Indonesia pun pada akhirnya memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sebelumnya 5,2-5,6 persen menjadi 5-5,4 persen.

ekonomi-ri-diprediksi-hanya-tumbuh-5-02-ini-penyebabnya-cdivQyj48x

Namun, pertumbuhan ekonomi sesuai target APBN sebesar 5,3 persen diprediksi sulit untuk tercapai. Menurut Ekonom Bank Permata Joshua Pardede, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diperkirakan hanya mencapai 5,02 persen. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi tahun ini masih sangat bergantung pada besaran belanja pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi kami perkirakan sedikit di atas 5 persen yaitu 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi akan sangat heavy pada government spending,” kata Joshua Pardede di Hotel Aryaduta, Tangerang, Sabtu (28/5/2016).

Perkiraan pertumbuhan ekonomi masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu sebesar 4,79 persen. Hal ini didukung oleh mulai naiknya harga bahan komoditas.

“Tentang arga komoditas, current account memang masih tergantung komoditas. Tapi kita lihat harga minyak sudah mulai naik, harga batu bara juga msh tumbuh meskipun rendah pertumbuhannya. Yang cukup penting juga kelapa sawit (CPO) naik 23 persen karena El nino dan dampak penurunan produksi global,” imbuhnya.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia masih diuntungkan oleh pelemahan impor. Keadaan inilah yang mendorong neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami surplus hingga saat ini. Namun, pemerintah masih perlu waspada terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang juga akan berdampak pada kenaikan impor. Pasalnya, hal ini akan mengganggu kestabilan neraca perdagangan yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik.

“Yang cukup penting juga adalah current account Indonesia. Kuartal satu defisitnya mengecil, kita juga diuntungkan degan impor yang masih lemah. Neraca barang terlihat surplus karena impor turun, lebih rendah dibanding ekspor,” jelasnya.

“Neraca barang ekspektasinya tahun ini masih positif, tapi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer cenderung meningkat. Meski kegiatan impor rendah, tapi defisit neraca jasa akan terus membengkak. Ini yang harus diperhatikan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution juga mengingatkan hal yang sama. Menurut Darmin, Indonesia harus dapat mengendalikan impor apabila ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, butuh pembangunan berbagai sektor produktif, terutama dalam sektor industri.

Kendati demikian, pada tahun ini pertumbuhan ekonomi diprediksi masih tertekan oleh ekonomi global. Sehingga, sekalipun neraca perdagangan surplus, keadaan ini belum dapat menjamin pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. (Dan/Okezone)

%d blogger menyukai ini: