Sketsa News
Home Berita Terkini, News Satelit BRI Jamin Layanan hingga Pelosok Negeri

Satelit BRI Jamin Layanan hingga Pelosok Negeri

Sketsanews – Peluncuran satelit BRI (BRIsat) tinggal menghitung hari. Mengambil tagline “Satelit BRI Menuju Orbit Layani Negeri“, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) menjamin layanan perbankan hingga pelosok negeri.

Persiapan satelit BRI semakin matang. (Foto: Ilustrasi/Sindonews)

“Bank BRI berharap seluruh rakyat Indonesia dapat memberikan doa restunya agar launching BRIsat berjalan sesuai rencana dan satelit tersebut mengorbit di jalurnya, serta memberikan manfaat yang optimal bagi terwujudnya financial inclusion,” ujar Direktur Utama BRI, Asmawi Syam, Selasa (31/5/2016).

Bagi BRI, kehadiran BRISat dapat lebih meningkatkan fungsi intermediasi, coverage service area, business process dan kualitas layanan menjadi lebih kuat, luas, efisien serta lebih baik. “Sedangkan bagi rakyat Indonesia, dengan hadirnya BRIsat pemenuhan kebutuhan akan layanan jasa perbankan menjadi lebih aman, cepat, efisien dan nyaman,” kata Asmawi.

Dia menerangkan, dengan adanya satelit perusahaan akan membangun digital banking. Di mana Informasi Teknologi (IT) menjadi tulang punggungnya.

“Dengan adanya satelit kita bangun digital banking. Kalau hari ini bicara banking maka yang jadi tulang punggung adalah IT, kalau Anda baca buku banking 3.0, perubahan paradigma dari somewhere to go jadi something to do,” ujarnya.

Maksud dari kalimat itu, lanjut Asmawi, sebelum ada teknologi nasabah harus ke bank untuk transaksi dimanapun lokasinya. Sementara, saat ini tidak perlu kemana-mana karena semuanya sudah ada dalam genggaman.

“Dulu belum ada teknologi digital kita mau ke bank mana untuk transaksi, apa yang ada di cabang Sudirman, Kemang atau Jakarta Utara. Dengan adanya digital enggak perlu kemana-mana. Apa yang kita mau semua sudah ada di gadget,” imbuhnya.

Kesimpulannya, kata Asmawi, perbankan harus berinvestasi dari sisi teknologi jika tidak ingin ketinggalan dengan yang lain. Dulu, satu kantor cabang melayani banyak nasabah namun sekarang mereka bisa mengakses melalui dirinya sendiri.

“Intinya bahwa kalau kita tidak ingin ditinggal, kita investasi teknologi, zaman dulu one for many, ada satu kantor cabang layani banyak orang transaksi, itu 1970-1980-an, 1990-an bukan one for many tapi tersebar ATM. Kali ini sudah anyone is bank, semua orang jadi bank pada dirinya sendiri, bank itu hari ini ada di kantong Anda,” pungkasnya. (Dan/Sindo)

%d blogger menyukai ini: