Sketsa News
Home Foto, Internasional, News Antara Kasus Narkoba Rita Krisdianti dan Mary Jane

Antara Kasus Narkoba Rita Krisdianti dan Mary Jane

7413f43c-1827-4251-b611-5c04d4b5decf

Sketsanews.com – TKW asal Ponorogo, Rita Krisdianti, dijatuhi vonis mati di pengadilan tingkat pertama di Penang, Malaysia karena membawa narkoba. Kasus Rita disebut serupa dengan Mary Jane Veloso, TKW asal Filipina yang dijatuhi vonis mati di Indonesia.

Mary Jane Veloso (31) ditangkap di bandara Yogyakarta pada April 2010 lalu, setelah kedapatan membawa 2,6 kilogram heroin. Dia mengklaim narkoba tersebut dijahitkan di dalam kopernya tanpa sepengetahuan dirinya. Selama di persidangan, Mary Jane bersikukuh dia tidak bersalah.

Mary Jane, putri bungsu dari 5 bersaudara dari keluarga tak mampu. Dia menikah muda, di usia 17 tahun dan memiliki 2 anak. Namun Mary Jane bercerai dengan suaminya. Untuk membiayai kehidupan dan kedua anaknya, Mary Jane akhirnya menjadi TKW ke Dubai, Uni Emirat Arab pada 2009. Di Dubai, Mary Jane bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) selama 9 bulan.

Majikan Mary Jane saat itu mencoba memperkosanya hingga akhirnya dia keluar dan kembali ke Filipina. Seorang teman yang dikenal keluarga Mary Jane akhirnya menawarkan pekerjaan sebagai ART di Malaysia, demikian dilansir GMA Network edisi 8 April 2015.

Sesampainya di Malaysia, Mary Jane diberi tahu bahwa lowongan ART di Malaysia sudah tidak tersedia dan diberitahu ada lowongan ART di Indonesia. Akhirnya Mary Jane pun diminta terbang ke Indonesia.

Mary Jane dititipi sebuah koper dengan upah US$ 500. Namun, sesampainya di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, pada 2010 lalu, Mary Jane ditangkap dengan barang bukti heroin seberat 2,6 kilogram.

Kasus Mary Jane ini terbilang dramatis.

Grasi Mary Jane, bersama 11 nama terpidana mati, ditolak Presiden Jokowi melalui Keputusan Presiden (Keppres) tertanggal 30 Desember 2014. Tim pengacara Mary Jane bahkan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kedua di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 27 April 2015. Saat itu, tinggal menghitung hari eksekusi mati yang ternyata jatuh pada 29 April 2015. PK Mary Jane kemudian ditolak PN Sleman sehari setelah diajukan.

Saat itu, Mary Jane sendiri sudah dipindahkan dari LP Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta ke LP Nusakambangan pada 24 April 2015 sekitar pukul 01.40 WIB, untuk menjalani persiapan eksekusi mati. Bak lolos dari lubang jarum, eksekusi mati Mary Jane yang seharusnya dilaksanakan ketika hari berpindah ke 29 April 2015 dibatalkan di detik-detik terakhir. Mary Jane tak masuk daftar terpidana yang dibawa ke lokasi eksekusi di Lapangan Limus Buntu sekitar pukul 00.00 WIB. Dia dibawa keluar selnya dan dikembalikan ke LP Wirogunan.

Sehari sebelum eksekusi mati dilaksanakan, pada 28 April 2015, seseorang yang bernama Maria Kristina Sergio tiba-tiba menampakkan diri di Kepolisian Provinsi Nueva Ecija, Filipina, pukul 10.30 waktu setempat. Dia mengaku merekrut Mary Jane, napi mati yang hendak menanti detik-detik eksekusi pada malam harinya.

Divisi Biro Investigasi Anti Perdagangan Manusia Filipina mengajukan tuntutan kasus perekrutan ilegal terhadap Mary Jane yang dilakukan Kristina bersama partner yang tinggal bersamanya Julius Lacanilao dan seorang berkewarganegaraan Afrika ‘Ike’, ke Departemen Kehakiman. Bersama Kristina, Lacanilao juga menyerahkan diri ke polisi.

Dalam wawancara dengan media Filipina, ABS-CBN, Kristina membantah tuduhan itu. Kristina mengatakan bahwa dia hanya ingin menolong Mary Jane mendapatkan pekerjaan di Malaysia. Kristina mengatakan bahwa bagaimanapun saat di Malaysia, Mary Jane sering bertelepon dengan seseorang. Beberapa hari setelah tiba di Malaysia, Mary Jane menghubunginya bahwa dia terbang ke Indonesia.

Kristina berdalih tak mengetahui penerbangan Mary Jane ke Indonesia dan terkejut saat mengetahui bahwa Mary Jane tertangkap karena membawa narkoba di Bandara. Kristina bahkan menantang yang menuduhnya merekrut Mary Jane secara ilegal itu untuk memakai detektor kebohongan.

“Kebenaran akan terkuak. Saya tidak bersalah,” kata Kristina dalam bahasa Tagalog sambil menangis di depan kamera.

Modus serupa, diduga terjadi pada Rita Krisdianti, TKW dari Ponorogo Indonesia, yang divonis mati di pengadilan pertama Penang, Malaysia. Rita adalah buruh migran asal Ponorogo yang berangkat ke Hong Kong melalui PT Putra Indo Sejahtera pada Januari 2013. Baru 3 bulan bekerja, Rita dikembalikan ke agen di Hong Kong kemudian dipindah ke Makau untuk menunggu pekerjaan dan visa.

Juli 2013, Rita berencana pulang ke Indonesia karena sudah 3 bulan berada di penampungan agensinya di Makau. Saat hendak pulang, ada temannya yang menawarkan pekerjaan berupa bisnis kain sari dan pakaian. Rita diterbangkan ke New Delhi, menginap di sana. Di sana ada seseorang menitipkan koper yang katanya berisi pakaian.

Rita diminta membawanya ke Penang, Malaysia, karena ada orang yang mau mengambil koper tersebut. Tanggal 10 Juli 2013 di Bandara Penang, Rita ditangkap Kepolisian karena koper tersebut ternyata berisi narkoba 4 kg.

Guna mengupayakan keadilan bagi Rita, Kemlu melalui KJRI Penang telah menunjuk Kantor Pengacara Goi & Azzura untuk memberikan pendampingan hukum sejak awal munculnya kasus ini. Kemlu juga telah bekerjasama/berkoordinasi dengan KJRI Hong Kong dan Pemda/DPRD Ponorogo dalam mengupayakan saksi meringankan bagi Rita.

Namun, tak bisa juga dinafikkan sederet fakta terpidana kasus narkoba yang sering berdalih dengan mengaku menjadi korban penipuan atas barang bawaan yang ternyata berisi narkoba. Sebutlah Schapelle Corby. Corby ditangkap membawa obat terlarang di dalam tasnya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Indonesia pada 8 Oktober 2004.

Saat itu dalam tas Corby ditemukan 4,2 kg ganja, yang menurut Corby, bukan miliknya. Dia mengaku tidak mengetahui adanya ganja dalam tasnya sebelum tas tersebut dibuka oleh petugas bea cukai di Bali. Petugas Bea Cukai menentang pernyataan ini dan mengatakan bahwa Corby mencoba menghalangi mereka saat akan memeriksa tasnya. Corby divonis 20 tahun bui dan meminta grasi dari Presiden SBY karena alasan sakit mental. Presiden SBY mengabulkan grasi itu dan mengurangi hukumannya menjadi 15 tahun bui. Corby mendapatkan pembebasan bersyarat pada 2014, dan dikenai wajib lapor di Bali setiap bulan hingga 2017.

Ada pula Maria Elvira Pinto Exposto, ibu 4 anak asal Sydney, ditangkap di bandara internasional Kuala Lumpur, Malaysia, pada 7 Desember 2014, setelah petugas bea cukai menemukan 1,5 kilogram sabu yang dijahit di dalam kompartemen sebuah ransel. Pengacara Maria mengatakan bahwa Maria ditipu oleh seseorang. Dia dititipi tas oleh seseorang di Melbourne yang menyebut isi tas itu adalah pakaian. Maria saat itu tengah melakukan perjalanan dari Shanghai ke Melbourne via Kuala Lumpur. Maria Elvira juga terancam vonis mati.

Saran datang dari Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah Anis Hidayah. Terkait kasus Mary Jane dan Rita Krisdianti, Anis yang dihubungi Senin (30/5/2016) mengatakan mafia yang memanfaatkan para buruh migran harus dibongkar. “Pemerintah RI juga harus melakukan upaya investigatif membongkar sindikat narkoba yang menjadikan buruh migran jadi objek sindikat mereka,” dorongnya. (Fr/Detik)

%d blogger menyukai ini: