Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Warga Solo Blokir Jalan

Warga Solo Blokir Jalan

blokir-jalan-warga-solo-pak-jokowi-piye-iki-kuthomu-samsoyo-ajur-QycdJB6Vf6

Sketsanews.com – Gelombang penolakan terhadap kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) yang diterapkan Pemkot Solo, Jawa Tengah, terus bergulir. Warga Laweyan bersama para santri Ponpes Takmirul sejak sebulan lalu terus menyuarakan penolakan sistem satu arah mulai dari Jalan Dr. Rajiman (Bundaran Baron hingga simpang Jongke), Jalan Agus Salim, dan Jalan Perintis Kemerdekaan.

Bahkan mereka berkomitmen sampai kapanpun siap terus melakukan aksi pemblokiran jalan, selama aturan penerapan satu arah ini belum dicabut. Pimpinan Ponpes Takmirul, Laweyan, M Ali Naharrusyurur yang akbrab dipanggil Mbah Ali menuturkan, penolakan pemberlakuan sistem satu arah oleh warga bukan tanpa alasan.

Ada beberapa poin mengapa mereka menolak sistem satu arah ini. Pertama, sejak diberlakukannya sistem satu arah, kemacetan terjadi di jalan-jalan kampung. Kemacetan ini disebabkan banyak kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang memilih lewat jalan kampung karena penerapan sistem satu arah.

“Kondisi ini menyebabkan terganggunya aktifitas warga. Mulai dari anak-anak tak lagi nyaman bila bermain karena banyaknya kendaraan. Ibu-ibu yang tak lagi bisa beraktifitas ke pasar hingga mengantarkan ke sekolah. Dan tempat-tempat ibadah sepi karena mereka malas disebabkan jalan macet,” ucap Mbah Ali, koordinator aksi yang disambut teriakan takbir, Sabtu (4/6/2016).

Menurut Mbah Ali, penerapan SSA adalah kebijakan yang diambil dengan terburu-buru tanpa kajian mendalam yang melibatkan banyak pihak dan tanpa berusaha untuk memperbaiki sistem yang ada.

Kemudian, dia juga mengatakan bahwa pihak Pemkot Solo tidak menjelaskan secara rinci alasan, kajian secara ilmiah dengan data kuantitatif bahwa sistem satu arah akan efektif. Pemkot Solo hanya berdalih, peningkatan volume kendaraan itulah yang menyebabkan SAA diberlakukan.

“Bahwa kebijakan SSA tidak memberikan efek yang lebih menguntungkan bahkan lebih terlihat sebagai kebijakan ‘egois’ dari pemangku jabatan Pemerintah Kota Solo. Kami telah berulang kali memprotes SAA pada Pemkot. Tapi mereka tak menggubris protes kami. Malah mereka tidak nguwongke (memanusiakan) kami,”terangnya berapi-api.

Pantauan Okezone, gelombang aksi penolakan SAA di Kota Solo sudah terjadi sejak awal diberlakukannya uji coba pada 17 Maret 2016, dilakukan dengan cara memblokir jalan. Para perserta aksi, duduk di tengah jalan sambil membentangkan spanduk dan silih berganti berorasi. Spanduk yang dipajang di antaranya bertuliskan: Pak Jokowi Piye Iki Kuthomu Solo Samsoyo Ajur, Pingin Cepet Maburo Pingin Sepi Liwato Kuburan, Ojo Gawe Salah Yen Wegah Disalahke, Demi Proyek Miliaran Rakyat Tega Kau Korbankan, SSA Sistem Salah Arah, Sistem Semrawut Akal-akalan.

Akibat aksi ini, kemacetan luar biasa terjadi dibeberapa ruas jalan Kota Solo. Aparat dari Satlantas Polresta Solo, terlihat bekerja ekstra keras mengalihkan kendaraan agar tak terjebak kemacetan karena adanya aksi pemblokiran jalan.

(Br/Okezone)

%d blogger menyukai ini: