Sketsa News
Home News, Tekno-Sains Server diretas, Universitas Tebus 200 Juta ke Hacker

Server diretas, Universitas Tebus 200 Juta ke Hacker

Sketsanews.com – Bukan hanya “deface,” tapi hacker ini telah mengenkripsi data server universitas sehingga pihak manajemen terpaksa membayar $20.000 dollar atau lebih dari Rp. 200 juta guna mendapatkan kunci enkripsinya.

Laporan Kantor Berita AFP, Rabu (8/6/2016), Universitas Calgary diretas sehingga pihak administrasi di perguruan tinggi tersebut, termasuk pada dosen dan mahasiswa tak bisa mengakses email selama 10 hari.

hacker-anonymous-oplcarus-hacker-Ghost-Squad-Attackers

Setelah 10 hari, para petugas di tempat itu hanya bisa mengisolasi efek dari serangan “hacker” tersebut, dan harus menggunakan kunci untuk membuka server.

Untuk mendapatkan kunci atas server itulah, pihak universitas membayar uang tebusan sebesar 20.000 dollar Kanada atau lebih dari Rp 200 juta.
“Tidak ada indikasi bahwa ada data pribadi ataupun data milik universitas yang terbuka kepada publik,” demikian bunyi pernyataan dari Universitas Calgary.

Sementara itu, aparat kepolisia melakukan investigas terkait serangan “ransomware” tersebut.

Linda Dalgetty dari Universitas Calgary mengungkapkan pembelaannya atas keputusan untuk membayar tebusan itu.

“Kami melakukan riset kelas dunia di sini, dan kami tak ingin mengambil posisi untuk berisiko atas hilangnya potensi kerja banyak orang,” kata dia.
Tak dijelaskan, bagaimana mekanisme pembayaran tebusan yang dilakukan Universitas Calgary kepada peretas tersebut.

David Shipley, yang menjabat sebagai Kepala Departemen Teknologi Informasi di Universitas New Brunswick, mengungkapkan, derasnya kritikan atas kebijakan pembayaran tebusan itu datang, karena hal itu akan memicu serangan lainnya.

“Keputusan Universitas Calgary sungguh membuat marah,” kata Shipley melalui pesan Twitter.

“Mereka menempatkan sekolah lain di Kanada dalam keadaan bahaya,” sambung dia, dilansir dari Tribun)

Serangan ransomware menjadi masalah yang meningkat dalam apa universitas yang disebut “tren global mengganggu serangan malware yang sangat canggih dan berbahaya terhadap organisasi termasuk NASA, lembaga penegak hukum dan lembaga-perawatan kesehatan besar.”

 

 

(in)

%d blogger menyukai ini: