Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Ungkap Temuan di Rawa Bebek, Buwas Minta Freddy Budiman di Hukum Mati Secepatnya

Ungkap Temuan di Rawa Bebek, Buwas Minta Freddy Budiman di Hukum Mati Secepatnya

Sketsanews.com – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas), geram dengan terpidana mati kasus narkotika Freddy Budiman, yang diduga masih mengendalikan narkoba yang terungkap dalam penggerebekan di Rawa Bebekm Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/6).

Fredy Budiman
Fredy Budiman

Meski sudah dua kali divonis hukuman mati, Freddy masih saja berupaya mengendalikan peredaran narkoba di Indonesia.

“Yang bersangkutan (Freddy) ternyata dihukum mati, sudah dua kali. Makanya saya mintakan untuk ditindaklanjuti karena hukuman ketiga mati lagi pasti panjang urusannya,” kata pria yang akrab disapa Buwas itu di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/6), dikutip dari JPNN.

“Salah satunya di LP Cipinang (Akiong) dan itu ada rangkaiannya dengan jaringan yang dipimpin Freddy Budiman. (Freddy) yang jelas aktif. Jaringan itu masih berhubungan kontak,” kata Buwas.

Buwas mengharapkan, agar Freddy dihukum mati secepatnya. Buwas menilai, Freddy merupakan lawan negara karena kerap mengedarkan narkoba dan hukum juga berkata demikian.

Dalam rilis resmi di laman BNN 15 JUN 2016 . 14:18:51, Bekerjasama dengan Ditjen Bea dan Cukai, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek sebuah rumah di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/6). Dalam penggerebekan BNN berhasil menyita 9 buah pipa besi yang didalamnya terdapat ± 40 kg sabu kristal.

Dari pengungkapan kasus tersebut, BNN mengamankan 5 (lima) orang tersangka, masing-masing berinisial HE, EN, ED, GN dan DD. Tersangka ED, GN dan DD diamankan petugas di lokasi kejadian, sementara HE dan istrinya, EN, diamankan di kediamannya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

HE merupakan Mantan Napi Lapas Cipinang yang saat ini berstatus bebas bersyarat. Seolah tak jera, dimasa pembebasan bersyaratnya, HE kembali berulah. Dalam melakukan transaksi, HE menggunakan identitas EN untuk membuka rekening dan alamat tujuan pengiriman barang.

Dari hasil penyelidikan, kasus ini melibatkan Napi Lapas Cipinang berinisial AK yang diduga tergabung dalam jaringan Narkotika Freddy Budiman. HE mengenal AK semasa berada di dalam Lapas yang sama dan AK memiliki kendali penuh terhadap penyelundupan sabu tersebut.

Keterlibatan para tersangka dalam jaringan Narkotika tak dibayar dengan harga sedikit. Dari hasil penyelidikan, diketahui jaringan ini telah beberapa kali melakukan penyelundupan. Sebagai dedengkot, HE menerima upah Rp 50-150 juta per transaksi, sementara ED, GN dan DD mendapat upah masing-masing Rp 10 juta per transaksi.

Penggerebekan dipimpin langsung Kepala BNN, Budi Waseso (Buwas) dan Dirjen Bea dan Cukai, Heru Prambudi. Buwas mengatakan, timnya bersama tim DJBC sudah lama melakukan penyidikan kasus ini dan melakukan penangkapan setelah cukup bukti. Sementara Heru Pambudi mengatakan, pihaknya senantiasa melakukan analisa impor untuk mencegah masuknya barang haram itu ke Indonesia.

Hingga kini kasus tersebut masih dalam pengembangan. Atas perbuatannya para tersangka terancam pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

 

(in)

%d blogger menyukai ini: