Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Negeri Bahari Impor Ikan

Negeri Bahari Impor Ikan

Sketsanews.com – Kali ini rakyat Indonesia berdecak heran, pasalnya pemerintah melakukan impor ikan dalam skala besar. Apalagi, kebijakan itu dilakukan setelah pemerintah gembar-gembor melontarkan perang terhadap kapal-kapal pencuri ikan dan berkomitmen membangun industri perikanan di tanah air. Dalih Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, bahwa izin impor itu dibuka untuk mengatasi kekurangan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri, sungguh tak masuk akal. Sebab, sebelumnya, Menteri Susi pernah mengatakan bahwa ketersediaan ikan di dalam negeri berlimpah setelah kapal-kapal pencuri ikan ditenggelamkan atau diusir. Hal itu juga dikuatkan oleh data kantor BPS (Biro Pusat Statistik), yang pada April lalu menyatakan terjadi deflasi 0,45 persen, dengan penyumbang deflasi adalah kelompok bahan makanan, termasuk ikan segar dan ikan olahan.

Picture1
Kebijakan impor ini jelas bertolak belakang dengan janji pemerintah belakangan ini. Sejumlah anggota komisi IV DPR, yang membidangi masalah perkebunan, pertanian, dan perikanan, juga mempersoalkan kebijakan ganjil Susi itu. Langkah tegas pemerintah membasmi praktek penangkapan ikan liar rupanya tidak diikuti pembangunan sarana penunjangnya. Ikan di laut makin berlimpah, tapi sistem distribusi ikan dari laut ke sentra industri pengolahan masih terhambat, lantaran minimnya armada kapal pengangkut. Akibatnya, industri pengolahan ikan kekurangan bahan baku.

Pemerintah tak boleh mengeluarkan kebijakan yang sepotong-sepotong demi membenahi industri perikanan. Namun harus menata ulang sarana penopang industri perikanan dari hulu hingga hilir. Berkali-kali sejak pemerintahan Jokowi, negara memaklumatkan perang secara terbuka terhadap kapal-kapal asing pencuri ikan di laut Indonesia. Yang berlari dikejar, yang tertangkap ditenggelamkan. Sekian banyak bahtera asing yang bertahun-tahun terbiasa mencuri ikan di laut Indonesia dihancurkan dan ribuan yang lain ditahan. Ada suasana heroik setiap kapal asing pencuri ikan dihancurkan.

Saat itu pun rakyat bergembira, sebab membayangkan para nelayan yang selama ini lekat dengan stereotip miskin, murung, bakal banyak pulang membawa ikan yang berarti dompetnya akan tebal. Menteri Susi boleh saja merinding karena bangganya setelah Mei lalu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa hasil dari menangkap ikan itu 100% tertutup untuk investasi asing. Ini artinya perikanan akan jadi paradiso bagi para nelayan Indonesia. Alih-alih nelayan berpesta, justru di tengah euforia lenyapnya kapal-kapal pencuri ikan, Indonesia membuka keran impor ikan.

Sebab, meskipun ikan melimpah, pengusaha ikan dalam negeri yang mempunyai kapal eks asing tak bisa melaut. Sementara itu, izin kapal baru tak semudah yang mereka bayangkan. Namun, yang lebih konyol lagi, paling tidak diantisipasi, ialah penyimpanan ikan hasil tangkapan, ternyata tak mempunyai sistem rantai dingin yang memadai, yakni meliputi gudang pendingin, listrik, pabrik es, dan air bersih. Kalaupun nelayan mambawa banyak hasil tangkapan, itu akan dibuang karena tidak mempunyai alat pendingin. Sekitar 200 lebih perusahaan pengolahan ikan dalam negeri pun menjerit karena hasil tangkapan nelayan turun drastis. Tidak ada pilihan. Arus impor pun dibuka selebar-lebarnya. Bahkan, volume dan jenis ikan pun tidak dibatasi sepanjang untuk mengatasi kekurangan bahan baku ikan dalam negeri.

Dalam pengelola sumber daya laut, dalam hal ini adalah ikan. Indonesia seperti kesebelasan yang energinya dihabiskan untuk menyerang, tapi lupa untuk mempertahankan diri dan lupa mengantisipasi. Alih-alih nelayan berpesta dengan tangkapannya, dompet kian tebal, tapi justru malah gigit jari ketika memandangi kapal-kapal membawa ikan impor. Dengan adanya impor ini justru semakin menyakitkan dan nelayan seperti dibohongi, karena produksi ikan yang digembor-gemborkan melimpah, akan tetapi kenyataannya ada impor.

Impor kebutuhan pokok selalu menjadi alasan sebagai solusi sementara. Namun, lama-lama hal tersebut menjadi kenikmatan, karena tak repot memproduksi. Kemudian yang menjadi kebiasaan itu pun akan berubah menjadi ‘impor pangan’. Siapa yang bisa menjamin impor ikan juga sementara?

Disisi lain, bahaya dari impor ikan ini adalah membanjirnya ikan asing di pasar lokal. Hal itu bisa terjadi, mengingat lemahnya pengawasan pemerintah selama ini. Situasi tersebut juga akan berdampak terhadap nelayan dan industri perikanan Indonesia. Jadi, impor ikan -apalagi jenis ikan yang diimpor banyak terdapat di laut kita- jelas kurang tepat. Saat ini sudah ada 23.652 ton ikan yang masuk ke Indonesia dari Januari hingga April. Kebijakan itu merupakan ancaman nyata bagi nelayan dan industri perikanan Indonesia. (Vi/Zu)

%d blogger menyukai ini: