Sketsa News
Home Headlines, News, Opini Ahok dan Misteri Kudeta ‘6-3-16’

Ahok dan Misteri Kudeta ‘6-3-16’

basuki_purnama_640x360_bbc_nocredit

Oleh : Gatot Swandito

“Memakai jalur independen, sama saja saya mengejar jabatan wali kota,” kata Tri Rismaharini seperti yang dikutip oleh berbagai media, termasuk Kompas.com.

Katanya, dengan dipercaya PDIP, Risma merasa dipercaya oleh partai untuk menduduki jabatan kepala daerah sebagai amanat rakyat. Ia menegaskan bahwa tidak sepeser pun ia memberikan mahar politik kepada partai pendukungnya.

Risma ada benarnya. Pertama, jalur independen memang disediakan oleh UU untuk seseorang yang ingin menjadi kepala daerah tanpa melalui mekanisme parpol. Kedua, jalur ini bisa juga diperuntukkan bagi tokoh daerah potensial yang tidak mau bersentuhan dengan parpol. Dan ketiga, bisa juga sebagai jalan bagi masyarakat yang ingin mendudukan seorang tokoh untuk menjadi kepala daerah tanpa melalui parpol. Nah, hanya yang katagori ketiga yang bisa disebut tidak mengejar jabatan.

Pada Pilgub 2012 Faisal Basri dan Hendardji Supandji termasuk calon kepala daerah yang tidak mau bersentuhan dengan parpol. Jadi keduanya bisa disebut sebagai tokoh yang mengejar jabatan.

Ahok termasuk yang mana?

Sama seperti Risma, Ahok pun menjadi tokoh yang diinginkan parpol untuk menduduki suatu jabatan. Kalau dari sisi ini, Ahok tidak bisa dikatakan sebagai orang yang mengejar jabatan.

Ahok juga diminta maju oleh masyarakat lewat relawan yang menamakan dirinya Teman Ahok. Dari sisi ini (seharusnya) Ahok pun bisa dibilang tidak mengejar jabatan, karena masyarakatlah yang memintanya untuk melanjutkan jabatannya sebagai gubernur atau maju sebagai calon gubernur petahana.

Kok, pakai kata “seharusnya” yang ditutupi kurung? Ya, karena ada sesuatu yang membuat “seharusnya” harus disisipkan.

Tapi, sebelum menuliskan soal “seharusnya”, mending dikorek-korek dulu apa benar majunya Ahok lewat jalur independen merupakan perjudian besar?

Kalau lewat jalur parpol dalam hal ini PDIP, pertama Ahok harus melewati sejumlah tahapan. Kedua, dan sekalipun kemungkinan besar akan lolos dari proses penjaringan bakal cagub PDIP, Ahok harus berkampanye untuk dapat memenangi Pilgub DKI 2017. Kalau lewat jalur Independen, Ahok sudah tidak perlu melewati serangkaian proses dan bisa langsung berkampanye untuk memenangi pilgub. Apalagi ketika memutuskan nyagub lewat jalur independen, KTP yang sudah terkumpul sudah jauh melebihi batas yang ditentukan.

Selain itu Ahok pun sadar betul kalau dalam pilkada, pilpres, dan bahkan pileg, profil calon lebih menentukan kemenangan ketimbang dukungan atau latar belakang parpol. Jokowi-Ahok pada Pilgub DKI 2012 dan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 bisa dijadikan contohnya. Lebih lagi sebagai calon petahana Ahok memiliki tingkat popularitas yang hampir menyentuh angka 100 % dan elektabilitas yang berkisar di antara 43 %- 53 %.

Jadi, pilihan Ahok lewat jalur independen bukan perjudian besar, tapi merupakan pilihan logis yang sangat menguntungkan. Kembali ke “seharusnya”. Dari “seharusnya” ini bisa dipikirkan apakah apakah Ahok mengejar jabatan atau tidak. Untuk itu pemberitaan tentang Ahok yang memutuskan maju lewat jalur independen perlu ditengok lagi.

Awalnya, Ahok berencana maju dengan menggaet Djarot Saiful Hidayat yang merupakan kader PDIP. Kepada PDIP, Ahok memberi batas waktu sampai satu minggu untuk memutuskan Djarot sebagai cawagubnya. Pemberian deadline itu disampaikan Ahok pada Jumat 4 Maret 2016.

Teman Ahok
Teman Ahok

Tetapi, baru berselang dua hari, atau pada 6 Maret, tiba-tiba Ahok mendeklarasikan pencalonannya lewat jalur Independen. Keputusan terjadi setelah Ahok ditemui Teman Ahok. Dalam pertemuan yang berlangsung 4 jam itu, Ahok yang awalnya bersikeras ingin berpasangan dengan Djarot, mendadak berubah pendirian.

Jadi kalau melihat dua peristiwa itu, pernyataan-pernyataan tentang alasan Ahok yang memilih jalur independen, karena PDIP belum juga memberikan persetujuan atas permintaan Ahok yang meminta Djarot, merupakan pelintiran dari para pendukung Ahok.

Kemudian, desakan Teman Ahok yang berselang hanya dua hari setelah Ahok memberikan deadline-nya kepada PDIP, memunculkan serangkaian pertanyaan. Kenapa Teman Ahok seperti harus mendahului keputusan PDIP yang masih menyisakan waktu 5 hari lagi? Jika jawabannya adalah masalah pengisian nama cagub yang masih kosong dalam formulir, apakah waktu 5 hari menjadi sigifikan dibanding seratusan hari lebih yang masih tersisa? Apalagi, Teman Ahok pastinya bisa menambah jumlah personel untuk melakukan tugas pengisian.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 4 jam itu, ternyata, Ahok memutuskan untuk lebih memilih berangkulan dengan relawan yang baru kemarin sore, dekat dengan dirinya ketimbang bergandengan tangan dengan PDIP, yang telah dekat dengannya selama sekian tahun. Sampai-sampai Ahok menjilat ludahnya sendiri dengan mengambil keputusan sebelum deadline yang ia tentukan sendiri? Apa yang membuat Ahok harus memutuskan saat itu juga?

Teman Ahok sendiri memang aneh. Kemampuan yang dimilikinya melebihi kemampuan yang dimiliki relawan pada umumnya. Umumnya, relawan tidak memiliki nilai tawar, tetapi Teman Ahok bahkan memiliki kekuatan untuk menekan Ahok hingga menuruti kehendaknya. Maka muncullah pertanyaan, apakah Teman Ahok sedemikian kuat atau sebegitu besar pengaruhnya terhadap Ahok hingga mampu mendikte Ahok sedemikian rupa?

Dan, ini pertanyaan yang tidak kalah menarik, kenapa Ahok yang dikenal keras tiba-tiba harus tunduk manggut-manggut kepada desakan anak-anak muda yang menyebut dirinya sebagai relawan? Bahkan, hanya untuk deal 5 hari pun Ahok tidak sanggup. Apakah kegagahan Ahok ketika menghadapi DPRD dan birokrat nakal telah berhasil dikudeta oleh Teman Ahok.

Dan jika pertemuan itu dikaitkan dengan pernyataan Risma, maka akan muncul pertanyaan, jika Ahok tidak mengejar jabatan, kenapa ia seperti dikejar-kejar setan untuk mengambil keputusan secepat-cepatnya? Bahkan keputusan itu diambil tanpa menghargai deadline-nya yang ditentukanya sendiri kepada PDIP.

Okelah, secara pribadi Ahok tidak mengejar jabatan, tetapi jika melihat peristiwa 6 Maret tersebut, muncul kesan jika ada kekuatan yang mendesak Ahok untuk meneruskan jabatannya. Artinya, kekuataninilah yang mengejar jabatan untuk Ahok.

Itulah misteri yang tidak akan terjawab. Dan biarkan menjadi misteri, karena kemisteriusan adalah keindahan.** (ak)

(Kompasiana)

%d blogger menyukai ini: