Sketsa News
Home Headlines, News, Wawancara Kesaksian Seorang Serdadu Baret Merah, Dari Balibo Hingga Santa Cruz

Kesaksian Seorang Serdadu Baret Merah, Dari Balibo Hingga Santa Cruz

Sketsanews.com -Kolonel (Purn) Gatot Purwanto, mantan prajurit baret merah (Kopassus) adalah prajurit yang kaya pengalaman operasi di Timor-Timur, dia adalah salah satu tokoh kunci pada peristiwa Balibo (1975) dan Santa Cruz (1991).

Kolonel (Purn) Gatot Purwanto
Kolonel (Purn) Gatot Purwanto

Prajurit komando ini harus mengakhiri karir militernya di Mahkamah Militer karena kasus Santa Cruz. Pada saat itu Gatot adalah satu-satunya lulusan Akademi Militer angkatan 1971 yang telah mencapai pangkat Kolonel, mendahului rekan-rekan lainnya seangkatan. Gatot juga membeberkan dugaan adanya pengkhianat dari internal TNI sehingga terjadi peristiwa Santa Cruz. Pada saat peristiwa Santa Cruz, Gatot menjabat sebagai Asisten Intelijen merangkap Komandan Satgas Intelijen.

Banyak pengalaman menarik yang dialami oleh Gatot Purwanto saat menjalankan tugas di Timor-Timur. Gatot pernah mengkondisikan musuh dalam kondisi terjepit sehingga memudahkan pasukan Prabowo Subianto melakukan eksekusi. Selain itu Gatot juga membeberkan analisisnya tentang keterlibatan Prabowo Subianto dan Sjafrie Sjamsoeddin di Peristiwa Santa Cruz 12 November 1991.

Berikut petikan wawancara dengan Kolonel (Purn) Gatot Purwanto, yang dilakukan pada tanggal 24 April 2015 oleh Stanislaus Riyanta. Kolonel (Purn) Gatot Purwanto dalam wawancara mengizinkan materi ini untuk direkam, ditulis, dipublikasikan

Bagaimana awal penugasan di Timor-Timur?

Saya lulus dari Akademi Militer tahun 1971 dan menyelesaikan pendidikan Komando. Kemudian saya dikirim ke Kalimantan Barat melawan PGRS/Paraku. Saat itu saya perwira operasi, dengan Kasi 1 Kapten Hendropriyono dan komandan Satgas Sintong Panjaitan. Setelah dari Kalimantan  saya ditugaskan ke Timor-Timur.

Saya masuk dalam Tim Susi sebagai perwira operasi, tim yang pertama kali ditugaskan oleh Kopassanda. Operasi Tim Susi didesain sebagai operasi tertutup. Kopassanda bertugas untuk pengkondisian.

Hal ini dilatarbelakangi dorongan politik oleh dunia barat yang disponsori oleh Amerika, Autsralia karena kekhawatiran adanya suatu negara yang berhaluan komunis, Timor Portugis. Saat itu hampir semua negara jajahan Portugis sebelum dilepas masyarakatnya banyak yang menentukan pilihannya dalam partai-partai.

Bagaimana dengan Peristiwa Balibo, dan kenapa Kopassus begitu disudutkan dalam peristiwa itu?

Operasi Balibo sebenarnya operasi serangan untuk melemahkan titik-titik kuat sebelum pasukan besar datang. Yang ingin saya tekankan kepada banyak pihak, yang melakukan serangan tersebut bukan hanya Tim Susi atau Kopassanda saja, kita hanya sebagian kecil. Seluruh anggota tim hanya 64 orang, yang berangkat maksimal 60 orang karena ada yang jaga di belakang.

Milisi pro Indonesia Apodeti yang kita rekrut dan persiapkan jauh lebih banyak. UTD terusir dari Dili dan berlarian ke Atambua. UTD karena menyebrang ke wilayah kita, Atambua, kemudian kita rekrut untuk membantu kita, Tim Susi. Dalam penyerangan ke Balibo, Kopassanda hanya sebagian kecil. Sebagian  besar adalah Apodeti dan UDT.

Saat itu ada 5 wartawan asing menjadi korban tertembak di Balibo?

Yang menembak itu jangan dipastikan itu Kopassanda, karena tim Kopassanda hanya sebagian kecil.

Ada data bahwa kemudian jenazah wartawan tersebut dibakar, apakah ada perintah untuk membakar?

Dibakar untuk menghilangkan jejak. Saat itu komunikasi dengan Jakarta masih susah. Dibakar karena sudah tertembak dan mati. Penembakan tersebut terjadi karena inisiatif anggota di lapangan. Pak Yunus (Yunus Yosfiah) pun tidak tahu, Pak Yunus sedang minta petunjuk ke Jakarta. Pak Dading (Dading Kalbuadi) di Batu Gede, kita bisa kontak ke Batu Gede. Lalu Pak Dading sedang meminta pentunjuk kepada Pak Benny (Benny Moerdani) di Jakarta, belum ada jawaban. Anak-anak (Milisi) di lapangan sudah melihat gerakan yang mengkhawatirkan dari gerakan wartawan itu akhirnya ditembak.

Uskup Belo pernah menyatakan bahwa September 1981, ABRI sampat mengepung Gunung Aitana dan melakukan pembantaian besar-besaran dan menewaskan lebih dari seribu orang?

Saya tahun 1981 tidak di Timor Timur, baru tahun 1982 saya kembali ke sana. Kalau operasi di Gunung Aitana dan gunung yang lain itu sudah biasa karena konsentrasi lawan di sana. Tapi kalau menewaskan sampau seribu orang saya tidak yakin. Posisi Uskup Belo saat itu dalam posisi yang sulit, dia Pastor biasa yang baru lulus dan dijadikan Uskup, sementara Pastor-pastor disekelilingnya adalah senior dia. Dia akhirnya mencari pelarian supaya jangan selalu dicap sebagai agen Indonesia, dia berusaha menunjukkan bahwa dia membantu. Kalau di satu titik penyerbuan hingga korban seribu itu tidak mungkin

Bagaimana hubungan dengan Gereja setempat?

Dengan Uskup Belo saya baik, saat Uskup Belo disiapkan di Mess Kodam Udayana Jatinegara waktu mau dijadikan Uskup, bersebalahan ruangan dengan saya, jadi sering ngobrol.

Tahun 1983, tim Nanggala Kopassus berhasil  membuka akses komunikasi dengan Jose da Conceita, Asisten Politik Fretilin untuk Sektor Timur di Los Palos. Kontak ini kemudian menjadi jalan untuk bertemu dengan Xanana Gusmao. Bagaimana cerita keberhasilan kontak damai tersebut?

Itu diawali saat saya menjadi komandan Nanggala di sana, Pak Sahala Raja Guguk baru selesai melaksanakan operasi kikis. Dimana beliau mengerahkan ribuan tentara ribuan orang dibariskan dari pantai utara sampai pantai selatan lalu bergerak maju. Hasil dari operasi itu Pak Sahala menyatakan musuh sudah hancur dan Xanana sudah tertembak mati.

Pada saat itu musuh tercerai berai. Walaupun kenyataannya tercerai berai bukan berarti pasukan Fretelin hancur, itu tidak. Tetapi Pak Sahala menyatakan bahwa sudah selesai, GPK sudah hancur, sehingga pada saat itu Kopassus yang 6 kompi dikurangi menjadi 2 kompi, Batalyon Infanteri yang biasa 14 batalyon dikurangi menjadi 6-8 batalyon. Sehingga pada saat itu GPK yang sementara tercerai berai karena operasi kikis pelan-pelan mulai konsolidasi dan melakukan serangan balik.

Saya sebagai komandan nanggala keteteran terus. Kalau kita lapor nanti dibilang kita panakut karena musuh dikatakan sudah hancur. Saya kontak dengan musuh yang tertangkap dengan Jose, mereka menyatakan tidak hancur, mereka mengaku tercerai berai, dan baru konsolidasi dan mulai mengambil inisiatif untuk melakukan serangan.

Kalau saya ngomong ke belakang dibilang penakut, karena begitu maka saya harus tau persis berapa kekuatan GPK itu. Dari situ saya kontak Jose dan Jose kontak orang sektor tengah sehingga saya bisa mengetahui persis berapa jumlah kekuatan GPK dan saya bisa kontak Xanana.

Bagaimana hubungan dengan Xanana saat itu?

Setelah terjadi kontak damai saya berusaha menyelesaikan pertempuran di sana, kemudian secara politik juga tidak tuntas, kemudian setelah itu saya dengan Xanana tidak ada hubungan apa-apa. Waktu itu ada kunjungan ada anggota parlemen Australia, lalu Xanana meminta supaya bisa menemukan rombongan Australia itu dengan Xanana. Saya meminta petunjuk ke Komandan Korem Pak Purwanto, tetapi tidak diijinkan. Akhirnya saya menghindar terus. Situasi menjadi renggang.

Situasi sebenarnya sudah mulai tidak kondusif dengan Xanana, dia merasa saya membohongi. Situasi ini digunakan untuk mulai mendekati hansip-hansip kita yang kemudian banyak yang terpengaruh. Disamping kita mulai banyak menurunkan GPK turun menjadi masyarakat, tetapi banyak hansip yang terpengaruh juga. Lalu ada peristiwa Klaras, ada beberapa hansip kita yang bisa dipengaruhi membunuh tentara kita. Sejak itu hubungan dengan Xanana menjadi memburuk.

Bagaimana sebenarnya peristiwa Santa Cruz 12 November 1991 ?

Saya belum membuat riset secara ilmiah, tetapi secara umum kita merasakan bahwa peristiwa itu banyak diciptakan oleh Prabowo (Prabowo Subianto) dengan Abilio. Karena Abilio sudah tahu ada kunjungan Human Right dari PBB, pada saat itu tidak ada masalah, peristiwa sudah baik-baik saja. Satu minggu sebelum kedatangan Human Right ini masa yang dikendalikan Abilio melakukan provokasi ke Gereja, mereka menembak mati Sebastion. Peristiwa ini terjadi satu minggu sebelum kedatangan human rights.

Menurut saya itu semua diciptakan sehingga pada saat Human Right datang Abilio juga bisa masuk ke dalam kelompok yang anti pemerintah untuk membuat tabur bunga yang mengerahkan masa banyak.

Apa motifnya untuk menciptakan peristiwa itu?

Untuk menjatuhkan kita, para pimpinan militer yanga ada di sana.

Apa intelijen tidak membaca akan ada peristiwa itu?

Itulah, saya juga ditegur oleh Pak Sintong, kenapa kamu tidak mewaspadai. Saya bilang Prabowo datang saya tidak pernah terpikir bahwa orang kita akan mengkhianati kita. Saya pikir kalau Prabowo datang dia dalam rangka bagaimana membantu secara tidak langsung kegiatan operasi militer di sana. Saya tidak mewaspadai Prabowo datang. Saya sering ditegur sama Panglima, Gatot itu kan yunior kamu, kamu tegur donk kan sama-sama Kopassus. Prabowo datang kan seenak sendiri.

Apakah sudah ada keresahan dari pejabat-pejabat militer di sana kalau Prabowo datang?

Kalau keresahan tidak, kita semua tidak pernah berprasangka buruk terhadap Prabowo. Kita pikir Prabowo datang untuk memotivasi kelompok-kelompok Abilio, memberikan semangat atau dukungan untuk membantu kita. Saya berpikir positif, tapi salah saya. Pengkhianatan teman, ya terus gimana? Bowo kan tentara saya pikir dia datang dalam rangka memberikan bantuan, tidak taunya dialah mengkoordinir segala sesuatunya.

Saat itu Mayor Geerhan Lantara ditikam?

Jadi saat ada tamu dari PBB itu ada tabur bunga satu minggu setelah Sebastion mati dan melibatkan orang banyak, rombongan melewati samping Kodim, ada Pak Geerhan dan ditikam.

Apakah penikaman itu yang memicu prajurit melepaskan tembakan

Itu mempermudah karena andaikan Geerhan tidak ditikam, mereka sampai Santa Cruz pasti tentara di Tai Besi yang sedang beristirahat akan dikompor-kompori.

Apakah ada skenario pihak ketiga yang merencanakan peristiwa Santa Cruz?

Saya menduga ada, karena memang persiapan pihak lawan, wartawan asing yang akan meliput peristiwa itu ada. Sepanjang tidak ada perintah, tidak bisa prajurit TNI menembak, pasukan sedang istirahat.Tapi kenyataan begitu Geerhan ditusuk dan masa berteriak-teriak di Santa Cruz lalu tentara datang menembak. Kalau saya dianggap gagal, mungkin karena saya dianggap tidak waspada terhadap teman-teman sendiri, ya.

Semua tentara Indonesia harusnya bersinergi dan memenangkan ini, saya tidak pernah curiga kalau Bowo datang ke sana bertemu dengan Abilio untuk mempersiapkan.

Bagimana dampak Peristiwa Santa Cruz 12 November 1992 terhadap intelijen dan para penanggung jawab pasukan saat itu?

Setelah itu ada proses pergantian pimpinan dijabat oleh Pak Theo Syafei, lalu semua jabatan disana diganti. Kita ditarik ke SUAD ada sidang Mahkamah Militer. Dari Pangdam, Pangkolapops dan Asisten sampai Dandim, hukumannya bervariasi. Semua yang berstatus komandan langsung diberhentikan dengan hormat. Kalau yang tidak berstatus komandan seperti Asisten Operasi hanya tidak diberi jabatan militer tetapi tetap dinas.

Apa reaksi  ketika diberhentikan dengan hormat dari dinas militer

Saya sangat terkejut, tidak menyangka kalau seperti itu. Tapi setelah itu tahu kalau masalahnya latar belakang politik. Kita sudah mulai tahu kalau sebenarnya pekerjaan Prabowo. Sebelum diputuskan kalau komandan diberhentikan dengan hormat kita sudah tahu kalau putusannya akan seperti itu. Jadi semuanya karena Prabowo selalu ke Pak Harto, lalu Pak Harto memerintahkan ke Pak Edi Sudrajat dan memerintahkan pak Faisal Tanjung sebagai komandan Mahkamah Militer. Ini ambisinya Prabowo untuk …. kan pada waktu Prabowo mau naik yang menghambat dia banyak perwira yang non muslim, seperti Pak Benny, Pak Sahala Raja Guguk, Pak Sintong, Pak Luhut Panjaitan dan lain-lain.

Apa operasi intelijen yang pernah dilakukan di Timor Timur?

Secara umum kegiatan intelijen ya sama, yang dikendalikan Komandan Satgas Intel semua hanya kegiatan, bukan operasi. Pernah saya membantu Prabowo untuk membantu pasukannya Den-81, Prabowo sebagai komandannya, mau pulang hasilnya masih kurang bagus, Prabowo menghadap saya minta bantu untuk mendapatkan target bisa nembak mati musuh dan merampas senjata.

Keberhasilan kegiatan intelijen yang paling dirasakan saat itu?

Kalau kegiatan ya rutin-rutin saja, tapi kalau operasi saya pernah berhasil mengatur gerombolan GPK turun dari bukit waktu tertentu jam tiga sore, turun dari bukit jalan kaki, lali tim anggota Prabowo tinggal nembak-nembakin saja dari jarak sangat dekat sekali. Jalan setapak itu tidak lebar, setengah meter, anggota gerombolan turun, pasukan sudah siap, pasukan dari Den-81.

Kegagalan intelijen di Timor Timur?

Kalau karena pengkhianatan dari belakang ya Santa Cruz boleh juga dianggap yang paling gagal. Walaupun sebenarnya tidak bisa disalahkan karena yang menggerakkan teman-teman sendiri yang bukan musuh. Ketika teman-teman kita, Abilio, malam-malam mengadakan patroli sesama satuan Indonesia ya tidak apa-apa, ternyata memprovokasi Gereja dan menembak mati.

Saya kira intelijen dikatakan berhasil baik juga tidak, dikatakan gagal juga tidak, normal-normal saya. Satuan-satuan Batalyon masing-masing menguasai wilayahnya, dan dijalankan dengan baik, hasilnya ada yang bagus ada yang nenurunkan gerombolan dan mendeteksi lokasi-lokasi tertentu, itu rutin.

Pada waktu operasi 1975 intelijen yang masuk ke Timor Timur bukan dari Kopassus saja, ada yang dari Bakin dll, sehingga keputusan untuk melakukan penyerbuan bukan hanya dari kami saja.

Bagaimana koordinasi di lapangan antar tim intelijen?

Di lapangan kami tidak berkoordinasi tapi di pusat ada koordinasi, wilayahnya masing-masing. Kami Tim Susi wilayah ada di Timor, Target Operasinya beda-beda. Kalau yang dari bakin mereka melakukan dari kota Atambua. Kalau kami masuk ke dalam ke wilayah Timor Portugis.

Pengalaman yang paling menarik di Timor Timur ?

Yang paling menarik dan tidak bisa dilakukan orang lain saya bisa bertemu dan bertukar …. dengan Xanana, dan yang saya senang sekali karena saya bisa mengetahui persis kekuatan GPK tidak hancur, saya bisa membuat foto dan saya bisa laporkan ke Jakarta. Itu operasi intelijen.

Pak Sahala yang sudah menyatakan bahwa gerombolan di Timor Timur sudah habis, ternyata tidak begitu, dan Pak Sahala menyatakan Xanana sudah mati, saya bisa membuktikan karena saya ketemu Xanana.

Saat itu kondisi ekonomi Indonesia sedang turun, sebelumnya Xanana pernah mengatakan menjajaki kemungkinan ada Timor Timur menjadi daerah otonomi, tapi Xanana tiap hari monitor radio BBC akhirnya bisa tahu bahwa Indonesia sedang kesulitan keuangan, akhirnya mereka membuat strategi dan mempengaruhi hansip-hansip itu untuk membunuh tentara kita, peristiwa Claras itu.

Peristiwa yang paling tidak disukai di Timor Timur ?

Kalau teknis dilapangan misalkan ada musuh tertembak tapi tidak mati-mati, ususnya keluar berjam-jam minta tolong, kalau begitu ya terkesan, tapi ya…..

Bagaimana dengan peristiwa Santa Cruz?

Satu-satunya Asisten yang berpangkat Kolonel yang langsung turun lapangan ya saya, Asisten Operasi yang harusnya bertanggung jawab malah terbang pakai helikopter lihat dari atas. Begitu saya mendengar tembakan dari markas Korem saya ke lapangan. Dampaknya akhirnya saya diberhentikan dengan hormat karena saya komandan Satgas.

Kejadian di Timor Timur yang kira-kira belum diketahui publik namun perlu disampaikan untuk pelurusan sejarah?

Bahwa saya pernah membantu Prabowo untuk menaikkan hasil dari satuannya, tapi kemudian pada saat saya jadi komandan satgas intel dikhianati oleh Prabowo. Itu secara pribadi.

Tentang Santa Cruz?

Peristiwa itu terjadi karena ada skenario, ada pengkondisian, diatur,  sehingga saya tidak bisa terlalu menyalahkan, berkali-kali saya sudah katakan bahwa kita-kita ini termasuk saya  menghadap ke depan.

Sepertinya pada saat itu Sjafrie (Sjafrie Sjamsoeddin) masih ada disana. Sjafrie pasukannya sudah keluar, tapi karena saya masih sibuk dengan tamu Human Right, saya tidak punya tendensi apa-apa. Saya bilang kepada Sjafrie “Kamu jangan pulang dulu, selesai Human Right pulang, kita pesta-pesta, potong kambing, kita makan-makan kamu baru pulang”

Padahal kehadirannya Sjafrie dalam peristiwa Santa Cruz dia kan bisa membantu idenya Prabowo karena dia memang orangnya Prabowo. Ini peristiwa terjadi tidak kecil perannya Sjafrie juga, yang waktu itu tidak jabatan apa-apa. Karena saya tidak punya pikiran apa-apa waktu itu maka saya minta Sjafrie tinggal dulu.

Santa Cruz tercipta oleh suatu kondisi yang memudahkan, saat itu saya tidak pernah curiga karena itu teman, mana nungkin Bowo dan Sjafrie mengkhianati kita.

Yang menyatakan itu bukan hanya saya saja, Pak Sintong juga menyatakan hal yang sama.

Pada saat diberhentikan dari dinas militer, sebelumnya mempunyai karir yang bagus, bagaimana dengan hal itu? Apakah ada kekecewaan?

Saya ngacau nggak karuan, pergi ke diskotik, hura-hura dam lain, ya ngacau. Tapi setelah saya bergabung dengan grup Tommy Winata saya diberi kesibukan saya mulai berubah. Yang memang kadang-kadang sekarang ini merasa tertekan, karena misal katakanlah yang simple menghadiri acara perkawinan, ada tempat tertentu bagi para perwira tinggi (jendral), sedang saya Kolonel.

Sedangkan saya tahu yang perwira tinggi masuk situ kan orang-orang yang kalau diukur ya apa, yang dari Ajen, dari Keuangan, nongkrongnya di tempat yang terhormat. Karena dia mulus-mulus saja, dia mendapatkan tempat yang terhormat, sedangkan saya mesti duduk di belakang. Itu yang kadang-kadang kalau ada undangan saya males.

Sebetulnya mereka tidak membatasi walaupun saya cukup bangga saat ini karena kalau saya masuk ke mereka juga tidak berani negur, misal Pak Kiki (Kiki Syahnakrie) tetap saja menghargai saya.

Hubungan dengan Xanana sekarang?

Hubungan saya dengan Xanana sampai sekarang baik, mereka mendapat bantuan cukup banyak dari Indonesia, sembilan bahan pokok dari Indonesia kecuali beras. Pemenang tender pembangunan kebanyakan dari Indonesia. Ketergantungan mereka dengan Indonesia sangat tinggi.

Beberapa waktu yang lalu kira-kira tiga minggu yang lalu, saya pergi ke Dili, pengawal-pengawalnya Xanana bergabung karena tahu saya buka meja. Mula-mula lagu barat tidak begitu, tapi begitu diganti lagu dangdut mereka lebih enjoy, pengaruh budaya Indonesia begitu besar.

Saran bagi TNI dan Pemerintah agar peristiwa disintegrasi seperti ini tidak terulang?

Ini tidak bisa dilihat hanya dari kacamata militer, apalagi hanya intelijen, tapi ada banyak faktor. Dari sisi militer, hal tidak logis adalah seorang tentara yang mengkhianati tentara lain. Kalau saya buat saran, kalau operasi militer kita juga tetap mewaspadi garis belakang, mewaspadai teman-teman kita yang  akan menusuk kita menusuk di dalam selimut. Yang paling parah kan itu.

(Br/JurnalIntelijen)

%d blogger menyukai ini: