Sketsa News
Home Headlines, News Jokowi Rapat di Atas KRI Imam Bonjol, Ketua MPR: Kedaulatan Harga Mati!

Jokowi Rapat di Atas KRI Imam Bonjol, Ketua MPR: Kedaulatan Harga Mati!

29974a68-ee81-436b-b544-21af1370068c_169 29974a68-ee81-436b-b544-21af1370068c_169

Sketsanews.com – Presiden Jokowi menggelar rapat di atas KRI Imam Bonjol di perairan Natuna. Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan hal ini penting sebagai pertanda Jokowi memperjuangkan kedaulatan NKRI.

“Saya mengapresiasi Pak Jokowi ke Natuna, rapat di sana dan kita harus menunjukkan kedaulatan,” kata Zulkifli dalam siaran pers MPR, Kamis (23/6/2016).

Zulkifli menegaskan sudah diatur di konstitusi NKRI harga mati. Sinyal yang ditunjukkan Presiden sudah sangat tepat.

“Pembukaan UUD 1945, konstitusi kita tegas, kedaulatan itu harga mati, tidak ada kompromi, negosiasi, atau apapun,” tegas Ketum PAN ini.

Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas bersama beberapa menteri di atas KRI Imam Bonjol-383 yang berlayar di perairan Natuna, Kepulauan Riau. Rupanya sang Presiden memberikan sinyal keberanian menghadapi tekanan asing.

“Kita memberikan sinyal. Presiden juga kebetulan belum pernah kemari, beliau datang kemari lihat dan ini mungkin Presiden pertama juga yang datang kemari,” ucap Menko Polhukam Luhut Pandjaitan di KRI Imam Bonjol, Kamis (23/6/2016). Kepergian Presiden ke Natuna tak lama setelah insiden penangkapan kapal ikan China oleh KRI Imam Bonjol di Natuna pada Jumat 17 Juni lalu.

Luhut mengatakan, Presiden ingin kawasan Natuna dikembangkan dari sisi ekonomi termasuk eksplorasi minyak dan gas (migas). Bukan cuma itu, pemerintah tengah mengkaji posisi Natuna untuk memperkuat sektor pertahanan RI.

“Tadi tadi Bu Menlu (Retno Marsudi) sampaikan kita tidak ingin mengganggu stabilitas keamanan di kawasan ini,” ujarnya.

Rapat berlangsung sekitar satu jam di salah satu ruangan di KRI Imam Bonjol 383 yang berlayar di perairan Natuna, Kamis (23/6/2016). Rapat dipimpin Presiden Jokowi dengan tema percepatan pembangunan di Natuna.

Hadir Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menlu Retno Marsudi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Seskab Pramono Anung, Menteri ESDM Sudirman Said, KSAL Laksamana Ade Supandi dan Kepala Bappenas Sofyan Djalil.

Dalam rapat tersebut Presiden memberikan sejumlah arahan khusus.

Pertama, Presiden meminta agar perkembangan ekonomi di wilayah Kepulaun Natuna dan sekitarnya dikembangkan terutama untuk dua hal, yaitu perikanan dan migas,” ucap Menlu Retno Marsudi usai rapat.

Retno mengatakan berdasarkan paparan menteri ESDM Sudirman Said diketahui bahwa di perairan sekitar Natuna terdapat sekitar 16 blok untuk migas, di mana 5 blok sudah berproduksi dan 11 blok sedang bereksplorasi.

“Sementara itu Ibu Susi tadi menyampaikan mengenai pengembangan sektor perikanaan terutama pembangunan sentra kelautan dan perikanaan secara terpadu,” ujar Retno.

Retno menegaskan bahwa sejak awal pemerintahan, Presiden selalu menekankan perkembangan wilayah terluar harus diperhatikan dan menjadikan prioritas. Lalu mengenai kedaulatan dan hak berdaulat harus terus terpelihara dan terjaga.

“Panglima TNI juga menyampaikan paparan mengenai rencana pengembangan pertahanan di wilayah Natuna dan sekitarnya,” imbuhnya tak merinci rencana dimaksud.

Usai rapat terbatas, Presiden bersama menteri yang hadir meninjau perairan Natuna sambil berbincang dengan KSAL Laksamana Ade Supandi di atas KRI Imam Bonjol. KRI Imam Bonjol ini adalah kapal yang digunakan Koarmabar untuk menangkap kapal China yang diduga menangkap ikan di perairan Natuna pada 17 Juni lalu. Penangkapan ini berbuah protes dari pemerintah China yang menyebut nelayan itu mencari ikan di wilayah pemancingan tradisional China.

(Br/Detik)

%d blogger menyukai ini: