Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Perang Suku di Papua Berujung Pemblokiran Jalan ke Bandara Sentani

Perang Suku di Papua Berujung Pemblokiran Jalan ke Bandara Sentani

Sketsanews.com – Aksi blokade jalan dari Jayapura menuju Sentani oleh masyarakat Netar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, dipicu pertikaian antarsuku di wilayah ini.

Ilustrasi
Ilustrasi

Dari data yang dihimpun Rimanews, pertikaian antara Suku Pegunungan dan Suku Sentani di Kab Jayapura terjadi Kamis (24/06/2016) malam. Indisen bermula saat warga suku pegunungan yang berprofesi sebagai tukang ojek membawa penumpang masyarakat Netar dari acara Festival Danau Sentani.

Sesampainya di kampung Netar terjadi perdebatan antara tukang ojek (Masyarakat Pegunungan) dengan masyarakat Netar perihal upah ojek. Tetapi masyarakat Netar tidak mau membayar sehingga menikam masyarakat Pegunungan atas nama Jefri Gombo.

 Pemblokiran jalan akibat perang suku di Papua

Jumat pagi sekitar pukul 06.20 Wit, massa sekitar 20 orang dari masyarakat pegunungan tiba di kampung Netar dan melakukan penyerangan dengan melakukan pengerusakan rumah di daerah pasar ikan kampung Netar. Sontak masyarakat setempat melakukan perlawanan dan memukul mundur masyarakat pegunungan karena kalah jumlah.

Selanjutnya, pukul 06.30 Wit, Anggota Gabungan sekitar 1 Pleton dari Polres Jayapura yang di back up oleh Koramil Sentani mendatangi TKP di kampung Netar.

Pukul 06.50 Wit, sekitar 50 orang massa kampung Netar melakukan aksi pemalangan jalan di Jalan Poros Sentani Waena (mata hati Hilang) dengan menggunakan pagar besi dan kayu.

Pukul 07.55 Wit, Daud Taime yang merupakan salah satu massa dari Kampung Netar yang menyampaikan pihaknya menuntut agar pelaku penyerangan agar ditangkap dan di proses secara hukum. Apabila pelaku tidak ditangkap maka pemalangan akan terus berlanjut karena kejadian ini bukan pertama kalinya di lakukan.

“Kami meminta pihak Pemda dan pihak keamanan agar segera memulangkan para masyarakat pegunungan kedaerahnya masing-masing karena selama ini mereka selalu membuat kekacauan di wilayah Sentani,” kata Daud.

Pukul 08.10 Wit, Kapolres Jayapura AKBP Gustav Urbinas SIK menemui para massa dengan menyampaikan beberapa hal diantaranya Kepolisian meminta kepada masyarakat untuk membuka palang ini karena sudah menghambat lalu lintas juga menghambat aktivitas orang lain. Ia meminta kepada masyarakat untuk duduk bersama di Obhe untuk membicarakan dan menyelesaikan permasalahan ini.

“Kami dari pihak kepolisian tidak bisa mengatasi masalah jika massa masih bertahan di lokasi ini dan saya berharap pemalangan ini di buka,” tutur Gustav.

“Berikan kami waktu untuk mengurus masyarakat pegunungan yang sudah melakukan aksi,” lanjut Gustav.

Pukul 08.15 Wit, Jalur menuju arah Sentani pun di buka. Namun, pukul 08.45 Wit, Jalur di tutup kembali dan masyarakat meminta agar Gubernur Papua dan Bupati Jayapura datang di lokasi.

Pukul 09.05 Wit, Mathius Awoitauw SE.M,si (Bupati Jayapura) tiba di lokasi dan langsung bertemu dengan massa. Mathius mengaku pemerintah sangat menyesalkan kejadian tersebut lantaran apa yang telah terjadi diluar perkiraan. Permasalahan tersebut akan di selesaikan oleh pemerintah dan pihak keamanan.

“Berikan kami kesempatan untuk menyelesaikan persoalan ini. Saya meminta kepada masyarakat agar membuka palang sehingga arus lalu lintas dapat berjalan baik normal kembali,” jelas Mathius.

Pukul 09.10 Wit, perwakilan massa Daud Taime menyayangkan pihak keamanan yang lama merespon atas kejadian tersebut sehingga terjadinya penyerangan. Dirinya meminta kepada pihak Muspida Provinsi Papua, Pihak kemanan baik Polri dan TNI untuk melakukan pertemuan di Obhe nendali jika apabila sudah disanggupi maka pihaknya akan membuka pemblokiran ini. (Zu)

%d blogger menyukai ini: