Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Fakta di Seputar Geger Vaksin Palsu

Fakta di Seputar Geger Vaksin Palsu

Sketsanews.com – Polisi berhasil mengungkap sindikat produsen dan peredaran vaksin palsu setelah melakukan penyelidikan sejak tiga bulan lalu. Berikut fakta-fakta seputar geger temuan vaksin palsu.

Terungkap vaksin palsu karena adanya korban meninggal dunia setelah divaksinasi

Pengungkapan jaringan pengedar vaksin palsu khusus bayi bermuara dari informasi masyarakat yang melaporkan tentang keanehan kondisi anaknya setelah dilakukan vaksin dan berita dari tayangan televisi tentang adanya korban meninggal dunia setelah divaksinasi.

“Kasus ini sudah Kita selidiki sejak tiga bulan lalu dan sekarang terungkap bahwa peredaran vaksin palsu untuk imunisasi bayi sudah berlangsung selama belasan tahun,” ujar Dirtipideksus Brigjen Agung Setya melalui pesan pada Sindonews, Jumat (24/6/2016).

10 Orang menjadi tersangka terkait vaksin palsu

Dirtipideksus-Brigjen-Agung-Setya-dan-Karopenmas-Brigjen-Agus-Rianto-Rilis-Vaksin-Palsu-BayiDirektur Tipideksus Brigjen Agung Setya mengatakan, kini sudah ada 10 orang tersangka yang terdiri dari lima orang produsen atau pembuat, dua orang kurir, dua penjual, dan satu orang pencetak label. Pengungkapan kasus ini sudah dilakukan di beberapa tempat dalam satu bulan terakhir.

Pengungkapan vaksin palsu ini dilakukan di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Awalnya tim melakukan penyelidikan karena diketahui ada beberapa penjual vaksin yang tidak memiliki izin melakukan peredaran vaksin.

“Itu yang kita dalami. Ada di Karang Santri Bekasi, kita temukan banyak vaksin yang kita ketahui palsu. Dikembangkan dan menangkap saudara J sebagai pemilik toko Aska Medikal. Kita temukan banyak vaksin palsu dan kasus ini kita kembangkan,” ujarnya dikutip dari Okezone.

Vaksin palsu diproduksi oleh tiga kelompok produsen di lokasi berbeda

“Pertama, di Puri Hijau Bintaro dengan tersangka S; kedua, Jalan Serma Hasyim Bekasi Timur, diamankan tersangka HS; dan (ketiga) Kemang Regency, diamankan sepasang suami-istri yakni saudari R dan saudara H,” kata Agung di Bareskrim Polri, Kamis (23/6/2016).

Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, warga Perumahan Kemang Regency, Jalan Kumala 2, Nomor M29, RT 09 RW 05, Bekasi Timur, Kota Bekasi, ditangkap Bareskrim Mabes Polri, pada Rabu 22 Juni 2016. Kedua pasutri diduga terlibat pembuatan vaksin palsu bayi yang baru saja diungkap oleh Bareskrim Polri.

Selain produsen tersebut, Subdit Indag Dittipideksus juga melakukan penggeledahan terhadap distributor yakni Apotek Rakyat Ibnus Sina yang diduga sebagai tempat penjualan vaksi palsu.

Selanjutnya dua kurir yakni di Jalan Manunggal Sari diamankan tersangka T dan di Jalan Lampiri Jati Bening diamankan tersangka S.

Vaksin dibuat cairan infus yang ditambah dengan vaksin tetanus

“Bahan dasar, dilakukan injeksi ke dalam botol. Mereka masukan dengan cara disuntikkan. Zat yang disuntikkan, air infus ditambah vaksin tetanus. Satu kotak vaksin tetanus seharga Rp150 ribu, bisa dijadikan ratusan ampul vaksin hepatitis,” terangDirektur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya, di Bareskrim Polri, Kamis (23/6/2016).

“Dia campurkan dan masukan ke dalam sesuatu yang tidak sesuai aturannya. Untuk menyempurnakan diperlukan alat ini (alat press) dan dikemas jadi barang (vaksin),” lanjut Agung, dikutip dari OkeZone.

Dari semua tersangka diperoleh keterangan bahwa botol yang digunakan yaitu bekas vaksin yang diisi larutan buatan tersangka. Sedangkan label dicetak di percetakan yang berlokasi di Kalideres.

Larutan buatan tersebut dibuat oleh tersangka dengan cara mencampurkan antobiotik gentacimin dengan cairan infus, kemudian dimasukkan ke botol vaksin dan diberi label.

“Semuanya tidak dilakukan sendiri. Kita temukan pembuat paking botol dan kardusnya. Kita ketahui dari tiga tempat yang diamankan ini total 10 orang, lima produsen atau pembuat, dua kurir, dan dua penjual, termasuk salah satunya pemilik apotek dan satu orang pencetak label. Mereka (pencetak label) tahu karena diperuntukkan untuk vaksin palsu,” tukasnya.

Bareskrim sebut ada 5 jenis vaksin yang dipalsukan

Menurut temuan Bareskrim Mabes Polri, ada lima jenis vaksin yang dipalsukan. Kelima vaksin tersebut antara lain, campak, polio, BCG, tetanus, dan hepatitis B. Terkait kemungkinan adanya jenis lain vaksin palsu, Dinas Kesehatan Kota Bekasi sedang melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Tetty menyatakan, pemeriksaan sampel vaksin di rumah sakit dan klinik-klinik swasta sekarang sedang dilakukan. Tetty menduga tidak mustahil ditemukan adanya vaksin palsu jenis lain.

Sulit membedakan antara vaksin palsu dan asli kecuali uji laboratorium

“Secara kasat mata, vaksin yang palsu itu dari sisi packaging-nya kasar, kode batch yang ada di kardus itu agak buram cetakannya, lalu warna agak berbeda dengan vaksin asli,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bekasi Jawa Barat, Tetty Manurung kepada Republika, Jumat (24/6).

Tenaga medis seperti dokter atau bidan juga belum tentu mengetahui vaksin yang dia gunakan asli atau palsu. Dalam beberapa kasus, vaksin sudah disiapkan langsung dari klinik atau apotik tanpa sepengetahuan dokter. Karena itu, menurut Tetty, banyak hal yang harus diselidiki.

 Vaksin Palsu diproduksi sejak 2003 dan raup untung 100 Juta/bulan

“Keuntungan sebanyak 100 juta rupiah untuk pembuat dan 80 juta rupiah untuk distributornya,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Brigjen Pol Agung Setya Imam Effendi, di Jakarta, Jumat (24/6), dikutip dari KoranJakarta.

Menurut pengakuan para pelaku, mereka termasuk penyuplai dan penyebar vaksin palsu telah beroperasi sejak 13 tahun yang lalu. Keuntungan yang besar membuat para pelaku nekad membuat vaksin tersebut. “Sejak 2003 jadi sudah 13 tahun,” kata Agung.

Vaksin Palsu memperlemah kondisi tubuh bayi

Menurut Agung, bila peredaran vaksin palsu untuk bayi ini terus terjadi akan mengancam tumbuh kembang anak Indonesia. Mengingat vaksin tersebut bukannya memperkuat tapi malah memperlemah kondisi tubuh bayi.

“Penyidik masih terus mendalami keterlibatan pihak-pihak lain dalam kasus ini. Ini sangat berbahaya karena dampaknya sangat besar bagi kesehatan anak-anak Indonesia,” ujar Agung.

“Kami akan koordinasi dengan Kemenkes untuk mendata balita-balita yang pernah mendapat vaksin palsu agar bisa dipulihkan kondisinya dengan pemberian vaksin asli,” tutup Agung.

Imunisasi Ulang

Menteri Kesehatan sepakat untuk menyarankan masyarakat yang tidak yakin dengan imunisasi sebelumnya agar melakukan imunisasi ulang.

“Kita harus catch up, memberikan kembali imunisasi agar kekebalan dicapai sempurna oleh seorang anak. Himbauan kami baik ibu-ibu, dokter anak, dengan terbuka memberi informasi dan imunisasi kembali, kalau anak dapat vaksin palsu,” ujar Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, dikutip Vivanews.

(in)

%d blogger menyukai ini: