Sketsa News
Home Berita Terkini, News Lemah Pengawasan, BPOM Tolak Disebut Kecolongan

Lemah Pengawasan, BPOM Tolak Disebut Kecolongan

Sketsanews.com – Direktur Produksi Produk Terapetik BPOM Togi Junice Hutajulu enggan dinilai kecolongan atas kasus pemalsuan vaksin ini. Menurutnya, pihaknya terus berupaya melakukan pengawasan terhadap aksi pemalsuan obat ini. Terbukti dari keberhasilan pihaknya menangkap oknum pemalsu vaksin pada 2013 lalu.

1023196-vaksinasi-780x390-696x348

”Kami mendapat laporan pada 2013 lalu. Setelahnya ditelusuri dan berhasil ditangkap. Satu orang sudah dijatuhi hukuman, tiga lainnya tengah diproses,” ungkapnya.

Diakuinya, aksi kejahatan ini seringkali dilakukan oleh pihak yang sama. Meski, produk yang dipalsukan berbeda. Karenanya, ia berharap mereka bisa diproses hukum secara tegas. ”Mereka ini memang on-off. Kita juga terus berusaha untuk melakukan pengawasan dengan adanya pemeriksaan di tempat produksi maupun sarana penjualan,” tuturnya.

Diketahui, Bareskrim Polri masih terus mendalami jaringan peredaran vaksin palsu untuk bayi. Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan, polisi telah menggeledah belasan lokasi penjualan vaksin palsu di wilayah Jabodetabek.

Agung mengatakan, diduga sindikat ini telah beroperasi sejak 2003 dan memiliki jaringan penjualan di sejumlah apotek dan toko obat di Jakarta dan sekitarnya.

Sebelumnya, praktik pemalsuan vaksin yang dijual ke sejumlah rumah sakit berhasil dibongkar aparat kepolisian. Bareskrim berhasil membongkar dan menggerebek para pelaku di pabrik mereka di Pondok Aren Tangerang Selatan, Banten, Selasa 21 Juni. Bareskrim mengamankan lima pelaku, yakni M, T, A, S, dan L.

“Pabrik pembuatan vaksin palsu ini membuat vaksin campak, polio, dan hepatitis B, tetanus, dan BCG,” jelas Agung, Rabu (22/6) kemarin.

Agung menjelaskan, di lokasi pabrik ditemukan tempat yang tidak steril dan penuh dengan obat berbahaya lainnya. Polisi juga menemukan alat untuk membuat vaksin mulai dari botol ampul, bahan-bahan berupa larutan yang dibuat tersangka dan labelnya.

“Pelaku mengisi ampul dengan cairan buatan sendiri yang menyerupai vaksin aslinya dengan menempelkan merk dan label. Cairan buatan pelaku tersebut berupa antibiotic gentamicin dicampur dengan cairan infus,” kata dia.(Dan/Radarlampung)

%d blogger menyukai ini: