Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, News, Opini Menyoal Money Politic di Indonesia

Menyoal Money Politic di Indonesia

Sketsanews.com – Money Politic atau sering juga di sebut politik uang, ungkapan ini sering kita dengar di kalangan pekerja kantor, kepolisian, pegawai negeri sipil, anggota dewan, dan bahkan saat pemilihan kepala daerah, maupun pemilihan kepala negara tidak lepas dengan yang namanya permainan uang atau politik uang.

ilustrasi-duit-atau-uang

Bukan hanya sampai di sini saja bahkan politik uang juga merambah instansi-instansi pemerintah maupun instansi umum, negara atau perseorangan, tidak lepas dengan politik uang. Contohnya kantor perpajakan untuk memudahkan para pembayar pajak haruslah ada uang pelicinnya, sering mereka sebut uang bensin atau uang makan, seperti yang juga di lakukan oleh kawan kita saat membuat SIM jarang sekali yang lulus tes secara murni, pastinya ada permainan uang.

Toh mereka yang ngotot melakukan tes pasti tidak akan lulus tes itu entah ada yang salah atau di salahkan dalam pengisian jawaban, tanpa ada kejelasan yang mana yang salah dan yang mana yang benar, tidak ada pelatihan tentang apa yang harus di lakukan. Jika dia ingin cepat jadi maka harus dengan uang, makanya di lakukanlah tes isi soal, tes mengendarai motor atau mobil, dan tes tes yang lain.

Tidak berhenti di situ bahkan para pengendara yang terkena razia di jalan mereka akan di tawari damai atau sidang, damai di tempat langsung dengan para aparat yang bertugas atau sidang dengan di takut takuti besarnya biaya sidang, mereka akan di mintai uang dengan jumlah tertentu, biar tidak mengikuti persidanagan,

Politik uang atau permainan uang tidak hanya merambah dunia pemerintahan saja bahkan politik uang juga di lakukan oleh oknum – oknum para pekerja proyek-proyek pembangunan gedung, bahkan kami pernah menjumpai pelaku permainan uang di pekerjaan pemasangan plafon gipsum, jadi yang memborong pembangunan gedung memberikan borongan ke orang lain untuk memborong pemasangan plafonnya, terus yang memborong plafon memberikan sejumlah uang ke pemborong gedung.

Pernah juga terjadi di sebuah lembaga swasta memiliki tim pembangunan, mereka memorongkan pekerjaan itu ke orang yang maun memberi sejumlah uang permeternya sekian persen untuk tim pembangunan itu. Money Politic atau politik uang sudah bukan menjadi rahasia yang tidak semua orang tau tapi sudah menjadi rahasia umum, dari pemerintah sampai warga biasa, tidak lepas dengan yang namanya politik uang, tapi walaupun sudah tidak asing lagi, politik uang di masyarakat, pemerintah tetap saja menutupi, dengan janji janji mereka, pemerintahan yang jujur bebas korupsi, itu slogan yang sering di pakai para calon pemimpin negra, daerah,atau caleg sekalipun untuk memuluskan keinginan mereka.

Kabar terhangat kita saat ini adalah banyaknya impor daging dari luar sampai. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia, Padahal menurut Mujiono Hadi, seorang peternak sapi pedaging di Sanan Kelurahan Purwantoro, Kota Malang mengatakan rencana pemerintah mengimpor daging sapi memicu harga sapi hidup turun, apalagi jika pemerintah benar-benar merealisasikan rencana itu.

“Masih kabar impor saja sudah membuat harga turun. Para peternak sapi pedaging mengeluhkan rencana impor itu,” kata Mujiono di Malang, Jumat, 3 Juni 2016. Ia menambahkan, meski harga turun, tak membuat penjualan ikut terdongkrak naik tapi justru turun. Sebelumnya, rata-rata per hari ada 10 ekor sapi di kawasan Sanan dibeli konsumen. Namun sejak dua hari ini, hanya lima ekor sapi keluar dari penggemukan.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf saat berkunjung ke Universitas Islam Malang (Unisma) pada Kamis, 2 Juni 2016 kemarin mengatakan, sudah saatnya pemerintah menghentikan impor daging sapi lantaran hal itu tak strategis. “Kalau bisa itu impor bibit bakalan sapi. Nah, sapi impor hidup itu bisa disilang dengan sapi lokal agar menghasilkan kualitas lebih bagus,” kata Syaifullah.

Pria yang karib disapa Gus Ipul ini menambahkan, impor daging sapi hanyalah upaya singkat menekan harga. Tapi jika kualitas sapi lokal bagus dengan menghasilkan daging lebih banyak, kekurangan kebutuhan daging ke depan akan bisa ditutupi.

Jawa Timur sendiri tak membutuhkan ada daging impor yang masuk. “Karena ketersediaan daging di Jawa Timur masih mencukupi. Kita bahkan masih bisa mengirim daging ke Jakarta,” kata Gus Ipul. Bukti ini menandakan bahwa ada apa pemerintah sampai mengimpor daging sapi. wakil gubernur jawa timur sendiri tidak menyetujui rencana pemerintah itu.

Bisa kita lihat dari penjelasan di atas pengusaha penggemukan sapi dan wakil wali kota. Tidak setuju dengan rencana pemerintah yang ingin mengimpor daging sapi, bahkan dari Malang Jawa Timur sendiri mampu memenuhi kebutuhan untuk daerah di malang jawa timur sendiri, dan bahkan para peternak mampu dan memenuhi kebutuhan pasar di jakarta.

Sekali lagi sebuah keputusan yang di ambil oleh pemerintah adalah tetap mengesampingkan kemakmuran rakyat, para pengusaha dari penggemukan sapi itu sendiri, dan seolah olah ada maksut yang diingini oleh beberapa pihak, entah oknum pemerintahan itu atau memang sudah menjadi rencana bersama. Bersama sama, ramai ramai memanfaatkan momen, momen untuk mengambil keuntungan pribadi dari rakyat.

Pada awal Romadhon di medan ada daging sapi impor yang di pasarkan di sana dengan harga Rp80.000,00 per kilonya, sedangkan para penjual daging sapi di pasar menjual dengan harga Rp125.000, sampai Rp 130.0000 saat itu, kalau seperti ini sangat merugikan para peternak, pengusaha potong hewan, yang jelas sangat merugikan rakyat.

Yang seharusnya pemerintah mengambil kebijakan untuk mensejahterakan rakyat. Di lain tempat juga di sebuah siaran radio RRI pada acara dialog yang membahas kenaikan daging sapi, dari para pendengar ada yang bertanya kepada nara sumber, pak bagus mana daging sapi beku (daging beku yang di maksud disini adalah daging impor) atau daging sapi segar, beliau menjawab bahwa bagus daging beku, karena daging beku terjaga keseterilannya, kalau daging segar kan penyimpanannya kita gak tahu, dan daging segar mudah terkontaminasi. Jelasnya pada para pendengar. (Roh)

 

 

 

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: