Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Wawancara Eksklusif, Ada Upaya Demo Aksi Bela Islam Dibuat Chaos

Wawancara Eksklusif, Ada Upaya Demo Aksi Bela Islam Dibuat Chaos

wawancara-tito-karnavian-sketsanewsSketsanews.com – Wawancara Eksklusif kabarpolisi.com dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian

Di sela-sela kesibukannya yang sangat padat, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Polisi Drs. TITO KARNAVIAN, MA, Phd, meluangkan waktunya wawancara dengan  Pemimpin Redaksi media kabarpolisi.com BEN IBRATAMA TANUR,  Kamis 17 November 2016 di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo No. 3 Jakarta Selatan.

Jenderal Tito Karnavian, pria kelahiran Palembang 26 Oktober 1964 ini memang dikenal sebagai polisi yang cerdas. Penuh prestasi. Lulusan terbaik, penyandang Adhi Makayasa Akabri Kepolisian 1987 ini juga dikenal ramah. Teman diskusi mengasikkan. Wawasannya luas. Bicaranya runut. Gampang dicerna.

Berbagai prestasi gemilang sudah diukir ayah tiga anak ini selama mengabdi di kepolisian.

Tito adalah ketua tim yang berhasil membongkar dan melumpuhkan jaringan teroris pimpinan Noordin M. Top dan Dokter Azhari. Sebelumnya lelaki yang hobi jalan kaki dan baca buku ini juga berhasil membongkar kasus Bulogate dan menangkap Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita.

Tito Karnavian diambil dari nama Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito. Nama Karnavian diambil dari istilah Karnaval.

Mengeyam pendidikan SMA Negeri 2 Palembang dan melanjutkan Akabri Kepolisian tahun 1987, Tito juga menyelesaikan pendidikan di Universitas Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies.

Tito juga menyelesaikan pendidikan di Massey University Auckland di Selandia Baru tahun 1998 dalam bidang studi Strategic Studies dan mengikuti pendidikan di Rajaratnam School of Internasional Studies Nanyang Technological University, Singapura tahun 2008 sebagai kandidat PhD dalam bidang Strategic Studies. Pada Maret 2013, ia menyelesaikan studinya dengan excellent.

Sebelum masuk Akabri Kepolisian, Tito diterima juga di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional Universitas Gajahmada dan Sekolah Tinggi Akuntasi Negara. Empat-empatnya ia lulus tapi dia memilih Akabri kepolisian.

Tito mengawali kariernya  sebagai Perwira Samapta  Polres Metro Jakarta Utara tahun 1987. Kemudian jadi Kanit Jatanras Polres Metro Jakarta Pusat, Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat, Spri Kapolda Metro Jaya 1996,  Kapolsek Metro Cempaka Putih, Kasat Serse Ekonomi  Polda Metro Jaya, Kasat Serse Umum Polda Metro Jaya, Kasat Serse Tipiter Polda Metro Jaya dan Kasat Serse Keamanan Negara Polda Metro Jaya.

Selanjutnya Tito menjabat Koorspri Kapolda Metro Jaya, Kaden Anti Teror, Kapolres Serang Polda Banten dan Kasubden Bantuan Densus 88 anti Teror Bareskrim Polri, Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri, Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri, Kadensus 88 Anti Teror Bareskrim Polri, selanjutnya jadi Deputi Penindakan  dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Tahun 2012 – 2014 Irjen Tito Karnavian menjabat Kapolda Papua, selanjutnya Asrena Polri dan Kapolda Metro Jaya. Tak sampai satu tahun jadi Kapolda Metro Jaya, Tito dipercaya menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Tanggal 13 Juli 2016 Komjen Tito Karnavian dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sepanjang karirnya, jenderal Tito Karnavian memang banyak menghabiskan masa dinasnya di reserse dan Detasemen Khusus Anti Teror karena itu dia paham betul seluk beluk pengungkapan kasus dan penindakan terorisme.

Dalam wawancara dengan kabarpolisi.com, jenderal bintang empat ini membahas berbagai persoalan di Tanah Air, terutama kasus dugaan penistaan agama yang diduga dilakukan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaya Purnama, demo ratusan ribu umat Islam di berbagai kota di Tanah Air 4 November yang lalu. Pun kasus terorisme yang terjadi di Tangerang dan Samarinda.

Revolusi teknologi dengan munculnya media sosial. Kami juga meminta pendapatnya tentang polisi ideal dan masalah di internal kepolisian. Memang saat ini bukan hanya masalah hukum dan keamanan saja yang ditangani oleh jenderal cerdas ini, namun juga kemelut politik yang berkaitan dengan Pilkada 2017.

Berikut petikan wawancara kabarpolisi.com dengan Kapolri Tito Karnavian:

Polri dipuji. Diberbagai media nasional dan media social rakyat memberikan apresiasi atas keberhasilan Polri mengamankan unjukrasa damai umat Islam di berbagai kota di Indonesia 4 November lalu. Juga dalam kasus Basuki Tjahaya Purnama, awalnya public agak pesimis terhadap penanganan kasus ini tapi ternyata Polri berhasil menanganinya  dengan baik dan Akhirnya Ahok jadi tersangka. Bisa dijelaskan metoda yang digunakan hingga unjuk rasa berlangsung damai dan bagaimana prosesnya hingga Ahok  jadi tersangka?

Proses penanganan kasus dugaan penistaan agama sudah kami selidiki sejak  27 September 2016. Kasus ini kan berawal saat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dinas ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu dalam rangka panen Krapu dan kemudian terjadi ucapan yang diduga menodai agama. Ada 14 laporan yg masuk ke kami.

Artinya sebelum kasus ini ramai di publik, Polri rupanya sudah melakukan penyelidikan?

Betul. Memang kami awali dengan penyelidikan. Dari penyelidikan kita tingkatkan ke penyidikan.

Padahal saat Kapolri dijabat Jenderal Sutarman dan Jenderal Badrodin Haiti, ada Surat Telegram Kapolri bahwa jika ada kasus dugaan pidana pada seorang calon kepala daerah kasusnya ditunda prosesnya setelah selesai Pilkada?

Memang ada sedikit kontroversi keputusan saya dengan keputusan Kapolri sebelumnya. Saat Pak Sutarman dan Pak Badrodin Haiti jadi Kapolri, beliau pernah mengeluarkan Surat Telegram Rahasia kepada jajaran dalam rangka Pilkada proses hukum terhadap calon kepala daerah dilakukan setelah selesai Pilkada. Ini dilakukan untuk menjaga netralitas kepolisian.

Jangan sampai ada calon menggunakan tangan kepolisian menjatuhkan lawan politiknya dengan membuat laporan polisi dan sebagainya. Misalnya, lawannya dilaporkan menggunakan ijazah palsu, korupsi dan macam-macamlah. Intinya jangan polisi diperalat dalam kepentingan politik praktis.

Jika demikian kenapa dalam kasus Ahok bisa beda?

Kami melihat kasus Ahok ini sensitive. Karena itu  saya harus mengambil langkah cepat, walau pun melanggar STR Kapolri sebelumnya.  Saya melihat kasus ini harus cepat ditangani.  Ini menyangkut hal yang sangat sensitive bagi umat Islam. Dugaan penistaan agama. Gak main main ini. Makanya kami harus bergerak cepat. Lakukan penyelidikan, periksa saksi dan kumpulkan barang bukti. Saya gulirkan penyelidikan pertengahan Oktober.

Memang kasus ini tidak sederhana. Ini ucapan. Bukan perbuatan penistaan agama. Maaf, misalnya kalau ada yang menista agama dengan merobek Al Quran, bisa langsung kami tangkap. Tapi ini kan ucapan, makanya kami butuh saksi ahli, ahli Bahasa, ahli tafsir. Di kalangan penyidik dan saksi ahli pun tidak satu suara. Ada disenting opinion. Ucapan pun kalo vulgar langsung menodai agama langsung kita tangkap pelakunya. Kasus Pak Ahok ini agak berbeda.

Jadi kasus ini tak seserhana seperti yang dibayangkan masyarakat ya? Dimana bedanya?

Jika kita lihat bahasanya saudara Ahok tidak langsung begitu tegas. Kita juga harus liat konteks kesengajaan sehingga kita memerlukan ahli. Semua saksi diperiksa,  di TKP, saksi yang memvideokan, saksi yang memotong, mengedit karena ada penggunaan kata pakai yang dihilangkan. Kemudian saksi ahli juga kita panggil jumlahnya belasan orang meliputi saksi ahli bahasa, saksi ahli agama Islam mengenai apa pengertian Al Maidah itu sendiri.

Saksi ahli hukum pidana untuk mengetahui adanya mens rea adanya niat untuk menghina. Karena dalam pasal 156 (a) harus ada dengan sengaja artinya kalau penghinaan itu harus dilakukan dengan ada niat – mens rea – kita memerlukan waktu untuk melakukan pemeriksaan itu, tapi memang masyarakat maunya cepat.

Jadi harus hati-hati?

Iya kita hati-hati. Apalagi yang namanya saksi, sekali dipanggil belum tentu datang. Gak bisa kita paksa. Namanya saksi kan? Namun, saudara Basuki cukup koperatif. Belum dipanggil pun sudah datang. Pas kita panggil lagi dia datang. Koperatiflah. Kita melakukan semua ini berdasarkan aturan yg ada di KUHAP.

Karena prosesnya agak lama, muncul kesan di sebagian masyarakat, menuduh polisi melindungi Ahok. Padahal itu sama sekali tidak benar. Saya tegaskan, sebagai Kapolri saya tidak pernah diintervensi oleh siapa pun, termasuk Presiden. Penyidik bekerja profesional. Tanpa tekanan. Tanpa intervensi.

Walaupun polisi sudah melakukan penyelidikan tapi sebagian masyarakat tetap melakukan dengan demo 14 Oktober?

Saya sudah tahu ada rencana tersebut. Mereka demo ke Balaikota dan Bareskrim di Gambir. Alhamdullilah demonya berjalan damai. Kepada teman-teman yang mau demo kita juga sampaikan bahwa proses sedang berlangsung. Beri kami waktu karena kasus ini tidak sederhana. Kami sedang kumpulkan barang bukti dan periksa saksi.

Padahal banyak saksi itu di luar daerah. Jauh. Sekali panggil belum tentu datang. Tapi demo tetap terjadi. Gak apa-apa. Itu hak masyarakat. Ini kan negara demokrasi. Untung demonstrasi berjalan dengan damai, aman dan tertib. Alhamdulillah.

Tapi 4 November demo lagi. Jumlah nya sangat banyak. Ratusan ribu. Anda merasa ditekan?

Kami sudah tahu akan ada demo besar-besaran 4 November. Saya sudah dapat laporan intelijen. Saya tidak merasa ditekan. Tapi harus waspada. Ini jumlah masa yang tidak sedikit. Salah – salah menangani, bisa chaos. Makanya saya perkuat kekuatan Polri. Saya datangkan tambahan bantuan dari daerah  Saya lapor pimpinan. Kita di back penuh oleh Bapak Panglima TNI. Kita akan jaga unjuk rasa ini berjalan aman dan tertib.

Kabarnya ada sekelompok kecil pendemo yang mendorong aksi ini chaos? Benarkah info ini?

Menjelang demo 4 November saya sudah diberitahu intelijen, dan saya berkomunikasi dengan saudara – saudara kita yang akan berdemo dan melihat tanda-tanda demo itu akan besar. Bisa 100 – 200 ribu massa. Laporan intelijen kemungkinan akan ada elemen-elemen tertentu yang akan melakukan aksi anarkis.  Itu semua sudah terbaca dan terditeksi.

Padahal mayoritas pendemo ingin aksi damai?

Betul. Saya prediksi sekitar 80 – 90 persen peserta demo yg benar – benar murni menyampaikan aspirasi. Saya menyebut Islam moderat. Mereka hanya ingin penegakan hukum terhadap saudara Ahok. Nah, pas Magrib yg mayoritas mulai mencair. Pulang dengan tertib.

Namun ada sekitar 10 ribu massa yang masih bertahan. Kelompok ini yang kami prediksi akan mendorong chaos. Mereka punya agenda lain. Intelijen sudah menganalis gerakan mereka. Mereka punya  kepentingan politik. Mulai dari Pilgub DKI, khilafah dan lain-lain yang saya tak mau sebutkan. Kita sudah tahu itu. Ada elemen yang disetting untuk melakukan kekerasan kepada aparat. Nah sehingga yang kita lakukan adalah memperkuat kekuatan.

Saya Tarik beberapa kekuatan brimob dari beberapa daerah ditambah kekuatan dari Polda dan juga dukungan dari TNI. Dari Polri sekitar 18 ribu untuk menghadapi kelompok militan yang sekitar 20 persen itu. Ada kelompok yang ingin membuat situasi chaos dan rencana menduduki gedung DPR RI termasuk melakukan pengepungan ke istana.

Makanya strategi kita adalah yang pertama adalah mempersiapkan kekuatan, melaporkan kepada pimpinan dan rapat koordinasi dengan Panglima TNI dan Menko Polhukam, Mendagri dan lain-lain. Bagi tugas. Sehingga istana kita jaga, DPR juga kita jaga.  Kemudian kita juga membuat tim khusus karena ini masalahnya adalah masalah agama.

Jadi Polri sangat waspada dan ektra hati-hati?

Kewaspadaan itu wajib. Tapi kita juga sadar yang kita hadapi ini adalah saudara kita sendiri. Sama-sama Muslim pula. Kita ini kan sama. Polisi, TNI semua kan orang-orang yang beragama kita  hanya beda pakaian saja. Lepas pakaian sama kita. Kami juga beragama. Saya sendiri juga muslim. Kita melakukan syahadat yang sama, shalat wajib lima waktu.

Kiblat dan kitab suci kita juga sama. Sehingga Polri juga ingin menunjukkan bahwa polisi bukan musuh tapi keluarga sendiri. Sehingga kita bentuk tim zikir, Polwan kita juga banyak yang berjilbab. Muslimah. Kita minta mereka tampil di depan untuk memberikan kesan bahwa kita sama-sama muslim. Kita semua bersaudara .

Sampai Anda keluarkan instruksi petugas tidak boleh bersenjata api?

Memang saya intruksikan karena ini menyangkut psikologi massa mudah sekali terbakar dan kehilangan rasionalitas. Psikologi massa dan psikologi individu beda. Ketika terjadi kumpulan massa psikologi individu hilang dan dia larut dalam psikologi massa yang mudah sekali untuk meletus. Oleh karena itu tidak boleh ada korban. Apalagi kalau ada korban meninggal akan mudah membuat massa meledak dan itu akan digoreng  oleh kelompok yang memiliki agenda lain. Tujuannya bukan masalah Ahok tapi menggoyang pemerintahan yang sah.

Tapi demo ini besar sekali lho Pak Kapolri dan Anda berhasil menangani dengan baik. Boleh dong ini disebut keberhasilan polisi?

Tidak. Tidak.  Ini bukan keberhasilan polisi. Ini berkat kerjasama dengan TNI, dan lembaga pemerintah lainnya. Semua bekerja keras. Dan tentunya dari saudara-saudara kita pendemo sendiri. Alhamdulillah mereka melakukan aksi damai. Alhamdullilah. Mayoitas peserta aksi ingin damai. Murni minta penegakan hukum. Hanya sekelompok kecil yg ingin melakukan aksi kekerasan. Tapi berhasil kita tangani. Yang ingin rusuh itu memang mereka disetting dan dibayar untuk itu. Mayoritas ingin damai, mereka murni berangkat dengan biaya sendiri. Tak ada yang membayar. Kami hargai itu.

Kembali ke kasus Ahok, ada kelompok tertentu yang minta agar Ahok segera ditahan?

Tidak gampang menahan seseorang  apalagi ini kasus dugaan penistaan agama yang di dalam penyidik saja tidak satu suara. Begitu juga para ahli tidak satu suara. Mari kita hormati  proses hukum yang berjalan dari penyelidikan, penyidikan dan berikutnya tentu berkasnya akan segera diserahkan ke jaksa penuntut umum. Jika jaksa menganggap berkasnya sudah lengkap (P21) tentu akan dilanjutkan ke meja hijau. Nah, silahkan kasusnya kita kawal di pengadilan.

Jadi Anda meminta masyarakat menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, kira2 ending seperti apa?

Mari kita hormati proses hukum. Penahanan bisa dilakukan apabila memenuhi dua syarat objektif dan subjektif.  Syarat objektifnya adalah kasus yang dipersangkakan materinya, subtansinya itu mutlak dan telak. Sehingga nantinya seluruh masyarakat melihat proses yang bergulir di pengadilan. Fakta-fakta hukum akan muncul di pengadilan.

Silahkan hakim memutus dan kita semua menyaksikan. Subjektif dalam acara hukum pidana, bahwa penahanan dapat dilakukan, boleh atau tidak jika terjadi tiga kekuatiran. Kekuatiran pertama tersangka melarikan diri. Kekuatiran kedua menghilangkan barang bukti dan yang ketiga mengulangi perbuatannya.

Artinya penyidik tak kuatir Ahok  melarikan diri?

Sejauh ini penyidik tidak kuatir Ahok akan melarikan diri, apalagi menghilangkan barang bukti. Pak Ahok kan sedang ikut Pilkada masak akan melarikan diri? Dan jika melarikan diri tentu merugikan dirinya sendiri. Barang bukti (video asli) pun sudah kita sita. Penyidik juga sudah melakukan antisipasi dengan mencekal Ahok. Dan yang ketiga soal mengulangi perbuatan pidananya dan polisi belum melihat adanya pengulangan tindak pidana tersebut.

Kecuali dalam perjalanan kasus ini terjadi lagi dugaan penistaan agama dan kalau itu terjadi akan dilakukan penahanan. Jika polisi memaksakan Ahok ditahan dan nanti misalnya di pengadilan dia bebas, Polri bisa dituntut.

Kami tidak main-main. Kasus ini segera akan kami naikkan ke kejaksaan. Dan mudah-mudahan segera diajukan jaksa ke pengadilan.

Jadi Anda mengajak masyarakat menghormati proses hukum?

Betul. Berilah kami kesempatan menuntaskan kasus ini. Mari kita hormati proses hukum yang sedang berlangsung. Secepatnya kami limpahkan kasus ini ke penuntut umum dan kemudian jaksa mengajukan perkara ini ke pengadilan. Nanti kita semua menyaksikan proses persidangan secara terbuka di pengadilan.

Dari kasus Ahok saya ingin bertanya soal masalah terorisme. Apalagi baru-baru ini terjadi lagi kasus teroris terhadap polisi di Tangerang dan pelemparan bom molotov di sebuah rumah ibadah di Samarinda. Jatuh korban. Anak kecil meninggal dunia. Prihatin kita. Apakah Anda masih melihat terorisme sebagai ancaman hari ini?

Ya. Masih menjadi ancaman. Persoalan yang terjadi di Indonesia sporadis. Ada kelompok yang ingin mendirikan Negara Islam versi mereka sendiri. ISIS menjadi satu daya tarik militan garis keras melakukan jihad dalam versi mereka. Jihad versi mereka adalah perang. Yang terjadi di Indonesia tumpahan Timteng, Suriah dan Irak. Akarnya Timur Tengah.

Jika ingin masalah terorisme  selesai, selesakan dulu sumbernya di Timur Tengah. Di Indonesia kita hanya bisa mengurangi dan meminimalisir. Di berbagai negara dunia juga terjadi masalah terorisme. Karena itu Polri menggalang kerjasama dengan berbagai negara untuk menangani masalah terorisme.

Bagaimana pandangan Anda tentang revolusi teknologi dan informasi yang berkembang saat ini. Hujatan, fitnah dan caci maki. Gejala apa ini? Hukum tak berdaya?

Alvin Toffler sudah menjelaskan hal ini dalam bukunya The Third Wave atau gelombang ketiga tentang tahapan  perkembangan peradaban. Jadi gak usah heran. Sudah lama diramalkan. Masalahnya hari itu terjadi di negara kita. Tehnologi itu baik untuk tujuan yang baik. Persoalan jika ada orang main medsos memposting sesuatu kabar bohong hanya karena iseng atau ada tujuan politis? Ini yang harus kita diskusikan.

Seperti beberapa kasus yang kami tangani ketika diproses dia mengaku iseng dan kemudian minta maaf. Padahal sudah berapa banyak yang terpengaruh oleh postingan dia. Karena itu saya harapkan masyarakat pengguna media sosial  hati-hatilah menggunakan medsos. Soal hukum, tentu ada aturannya. Kalau ada yang merasa dirugikan tentu kita proses.

Pak Tito, tadi kita sudah bicara soal Ahok, terorisme, masalah medsos. Kini saya ingin menanyakan masalah internal Polri. Gebrakan 100 hari Polri di bawah pimpinan Jenderal Tito cukup berhasil.  Apa pendapat Anda tentang anggota polisi yg disebut gagal atau berhasil dalam menjalankan tugasnya?

Keberhasilan anggota Polri di mata saya, yang  utama untuk kepala wilayah sepanjang tidak ada konflik yang massal konflik aksi anarkis yang menimbulkan gangguan stabilitas kemanan itu dianggap berhasil. Kemudian akan menjadi bonus jika kepala wilayah itu mampu untuk meningkatkan citra polri, misalnya suara masyarakat menilai polisinya baik di daerah itu dengan polisinya sering turun ke bawah, menyelesaikan kasus dengan baik, tidak ada pungli, itu semua dinilai sangat baik.

Sebaliknya jika terjadi aksi anarkis itu berbanding lurus dengan stabilitas keamanan pimpinan Polri di wilayah itu saya anggap gagal. Contoh Kasus Tanjung Balai Sumatera Utara. Ukuran saya nomor satu adalah itu, jika ada wilayah seperti itu saya mengambil langkah cepat dan kita ganti Kapolresnya.

Kalau bidang reserse ukurannya adalah pengungkapan kasus. Bisa  menyelesaikan dengan cepat dan tidak ada korupsidan pungli. Kemudian polisi yang bertugas di staf pendidikan, jika dia memiliki ide-ide yang cemerlang misalnya membuat tulisan-tulisan berbobot yang bisa digunakan oleh pimpinan dalam rangka mengambil kebijakan, itu saya anggap hebat. Walau dia bukan pegang komando. Kalau dia diam, tidak bergerak kemana-mana, tidak punya ide bagus lalu mengharapkan sekolah atau posisi yaa ngak lah.

Kalau intelijen gimana?

Intel yang bagus adalah dia memberikan informasi yang akurat, kemampuan deteksi, dia bisa analisis suatu masalah, analisis situasi, akurat dan mampu meredam dengan cara penggalangan jadi tidak hanya memberikan masukan tapi dia mampu mengatasi. Kalau memberikan informasi saja itu nilainya 50, tapi kalau dia memberikan masukan, setelah itu memberikan solusi dan melakukan sesuai kewenangan dia itu nilainya 100.

Anda punya pengalaman waktu jadi Kapolda Papua?

Pengalaman saya waktu menjadi Kapolda Papua selama dua tahun belum pernah Kapolri datang ke Papua karena ada konflik atau suatu masalah, tapi semuanya datang ke sana dalam rangka kunjungan kerja. Saya tidak ingin membuat pimpinan menjadi beban. Jadi kalo ada masalah terjadi saya harus bisa selesaikan bila perlu tanpa bantuan pimpinan. Ukuran saya begitu.

Jika ada bawahan yang bisa membuat suasana tenang, aman, nyaman tidak ada konflik saya sudah merasa nyaman. Saya sampaikan ke anak buah, jangan berikan saya ‘apa-apa’. Tapi, ‘suap’ saya dengan prestasi dan itu sudah membuat saya sangat bangga.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: