Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Strategi Komunis Kuasai Indonesia

Strategi Komunis Kuasai Indonesia

pb120159_-_copy

Sketsanews.com – Partai Komunis Indonesia mulai mengambil peran dan simpati pasca 1948. Dengan mengkaji kegagalannya pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, maka sepanjang tahun 1948-1952, PKI tidak mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar. Sisa-sisa anggota Commite Central (CC) PKI seperti Alimin dan Tan Ling Djie tak mampu berbuat banyak untuk mengonsolidasikan partainya.

Situasi ketidakberdayaan PKI pasca 1948 telah membuat trio kader mudanya (Aidit, Lukman, dan Njoto) mengambil alih kepimpinan PKI pada tahun 1951. Di bawah kepimpinan trio pemuda itu PKI mengubah strategi dari partai kader seperti garis politik Alimin, menjadi partai massa.

Itu sepenggal sejarah tentang kegagalan PKI yang puncaknya ketika terjadi penculikan dan pembunuhan para jenderal yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) PKI tahun 1965.

Namun dalam beberapa bulan yang lalu, kampanye anti komunis begitu kuat. Berbagai sweeping kaos merah bermotif “palu arit” serta aksi massa menolak kehadiran komunis mulai gencar dilakukan. Puncaknya, kebebasan berekspresi dan berkumpul mulai terancam.

Perlu diketahui munculnya kebangkitan komunis di Indonesia ketika Presiden Gus Dur intensif mengkampanyekan pencabutan TAP MPR Pelarangan Komunisme /PKI. Ditambah lagi sikap dan pandangan keliru banyak Tokoh Indonesia, yang menyamakan larangan terdhadap komunisme sebagai pelanggaran HAM dan demokrasi.

Padahal Komunisme pernah mati suri pasca runtuhnya uni sovyet dan komunisme eropa timur. Tapi komunisme china makin kuat dan bermetamorfosis. Komunisme Indonesia sama saja. Tidak pernah mati. Mereka kini bangkit kembali, menguat, menyusup kemana-mana, termasuk ke PDIP dan Pilpres.

Kebangkitan kembali komunisme Indonesia sedang terjadi. Mereka siap-siap merebut kekuasaan tanpa disadari rakyat Indonesia. Apa buktinya? Bukti kebangkitan komunisme Indonesia, dapat disaksikan dgn banyaknya acara-acara dan kegiatan-kegiatan yang secara terbuka mengusung isu komunisme.

Budiman Sujatmiko, Rieke “Oneng” Pitaloka, Ribka Tjiptaning, Adian Napitupulu dll, gencar bikin acara-acara usung dan sosialisasikan komunisme. Celakanya, banyak aktifis, tokoh-tokoh, politisi-politisi, akademisi, bahkan ulama, tanpa sadar ikut terlibat dan membantu gerakan komunis ini. Mereka sadar atau tanpa sadar mendukung bangkitnya komunis Indonesia yang membonceng isu HAM, demokrasi, hak-hak buruh, anti SARA dan seterusnya.

Sejarah Kebangkitan Komunisme di Indoensia Saat ini

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pernah mencurahkan isi hatinya ketika acara ILC (Indonesia Lawyer Club) yang digelar oleh TV one, Senin, 08/11/2016. Dia menegaskan bahwa JELAS ADA Konspirasi Global dan Bahaya Kuning terhadap kedaulatan NKRI.

Strategi Perang Chandu di China di masa lalu dengan cara melemahkan sebuah negara dr dalam, sudah dilancarkan kepada Rakyat Indonesia yang 5% rakyat sudah terkontaminasi dan dilemahkan oleh Narkoba. Sumbernya adlh Chandu dr China.

Pernyataan Jenderal Gatot ini sebelumnya sudah berkali-kali dia lontarkan dimana2 dan di berbagai kesempatan diskusi. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengarkan. Pemerintah, Politikus dan Penggembira di sekitar Jokowi semua abai pada seruan keprihatinan Panglima TNI tersebut. (sketsanews.com)

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengungkap enam perspektif ancaman terhadap Bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Keenam ancaman tersebut adalah menipisnya cadangan minyak dunia, meningkatnya jumlah penduduk dunia, berkurangnya sumber pangan, air dan energi, masalah  terorisme, meningkatnya penyalahgunaan narkoba dan persaingan ekonomi global yang ketat.

“Indonesia sebagai negara equator yang sangat kaya akan sumber daya alam adalah warning yang patut menjadi kekhawatiran  bangsa Indonesia dimasa yang akan datang,” terang Gatot.

panglima-tni-jenderal-tni-gatot-nurmantyo

Menurutnya, Indonesia harus belajar dari beberapa negara Arab Spring seperti Irak, Libya dan Suriah yang saat ini mengalami konflik akibat perang saudara yang dipicu oleh permasalahan dalam negerinya seperti  agama dan terorisme. Permasalahan itu dijadikan sebagai jalan masuknya negara lain untuk ikut campur urusan dalam negeri. Padahal lebih jauh dari itu, kepentingan mereka adalah terkait kepentingan minyak, kata Gatot dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (11/11).

Pernyataan Gatot ini dikomentari Pengamat dari Soekarno Institute for Leadership, Gede Siriana. Bagi dia, pernyataan yang dilontarkan Gatot di Pangkalan Udara TNI AU Soewondo Medan itu untuk mengkritik para pendukung Ahok yang terindikasi berbau-bau pengaruh Partai Komunis Cina.

Analisis Gede, dalam konteks geopolitik, Cina memang sedang berusaha menguasai Asia Pasifik dan mengambil alih pengaruh AS dengan kebijakan SILK ROAD Maritim. Dengan instrumen OBOR, Cina ingin negara-negara Asia Pasifik menyediakan pembangunan infrastruktur bagi kepentingan ekonomi Cina.

“Bahkan Panglima TNI menghargai setiap proses demokrasi, termasuk demonstrasi oleh warga Indonesia. Artinya Panglima secara jeli melihat bahwa demonstrasi 411 adalah merupakan reaksi kemarahan umat atas kasus penistaan agama oleh Ahok. TNI pasti sudah tahu siapa dalang yang sebenarnya ingin merusak kebhinekaan NKRI,” terang dia.

Gede menambahkan, kondisi saat ini sama dengan situasi menjelang G30S PKI 1965 ketika kelompok komunis berusaha menguasai pengaruh di istana presiden.

Strategi Komunis Menguasai Indonesia

Apabila kita mengkaji sejarah masa silam berkenaan dengan bagaimana PKI mampu menguasai pemerintahan orde lama, dari sana bisa ditemukan titik pangkal penyebab mereka mengendalikan penguasa pada saat itu karena ketidakstabilan perekonomian, program pembangunan nyaris tidak jalan, kemiskinan dan kebodohan merajalela. Kondisi ekonomi yang serba rumit itu lebih diperparah lagi dengan munculnya berbagai pemberontakan seperti DI/TII dan PRII-Permesta.

Kondisi itu dimaksimalkan PKI untuk mengembangkan perekrutan massal anggotanya. Di bidang pertanian, PKI mendorong kader-kadernya untuk melakukan reclaiming lahan, mendorong Soekarno untuk melakukan program Land Reform. Janji bagi-bagi lahan menjadi program utama PKI.

Demikian pula kondisi hari ini, kondisi ekonomi yang tidak jelas ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperburuk kondisi masyarakat. Diantara strategi yang dilakukan oleh mereka dengan memberikan dana kepada orang-orang tertentu sebagai ujung tombak mereka melancarkan aksinya.

Strategi pertama menguasai kekayaan alam dengan memberikan dana, buktinya masalah proyek reklamasi pulau G.

ahokrekla1

Ceritanya, pulau hasil reklamasi, Pulau G sudah dijual ke Hongkong. Dari kepulauan yang sudah diserahkan Inggris ke Republik Rakyat Cina (RRC), pengusaha Pulau G, Agung Podomoro Land (PT.Wisesa) yang dimiliki Sugianto Kesuma alias AGuan, diperoleh dana segar sekitar Rp 40 Triliun dari lembaga keuangan disana.

Dari dana yang diperoleh itu diserahkan kepada AHok Rp 12 triliun, nah yang Rp 10 triliun itu diserahkan AHok kepada Megawati. Dari dana itu pengusaha yang memperoleh hak atas tanah reklamasi Pulau G, diwajibkan juga membangun 40 ribu rumah susun. “Pulau (reklamasi) G itu gak boleh gagal atau dibatalkan. Siapapun yang membatalkan atau menggagalkannya, jangankan AHok, Jokowi pun, pasti kami lengserkan. Enak aja udah terima, mau batalkan proyek itu,”ujar informan itu menirukan kata-kata pengusaha tersebut.

Desas desus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri menerima uang Rp 10 Triliun, mulai tampak titik terangnya. Seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang diketemui informan indonesiapolicy.com menyatakan info tersebut valid.

Strategi berikutnya adalah dengan memasukan orang-orang asing di seluruh penjuru nusantara yang mana dengan kehadiran mereka menambah maraknya peredaran narkoba, prostitusi dan sabotase.

Pengamat kebijakan publik Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah mengatakan bahwa Indonesia harusnya belajar dari Tibet. Sejak 700 tahun lalu, China sangat berbaik hati sama Tibet. Dengan gaya yang terkesan santun, China membantu Tibet dalam membangun infrastruktur.

Proyek dikerjakan militer China, yang dikirim ke Tibet sebagai pekerja pada proyek-proyek investasi pembangunan kereta api, jalan dan lain-lain. “Namun, pada saat yang sudah ditentukan para pekerja itu mengeluarkan senjata mereka menodong polisi dan tentara, sampai akhirnya peradaban di Tibet hancur.”

Dengan pola yang sama, Amir Hamzah melihat hal ini juga sedang dijalankan China di Indonesia kini. Selain berinvestasi di Indonesia, investor China juga telah menyelundupkan para militer China ke Indonesia dengan dalih tenaga kerja proyek.

Dan kini, daerah pesisir Indonesia, dari Pelabuhan Belawan Bagian Timur Sumatera kemudian masuk ke Banten, sampai akhirnya sampai ke Surabaya, sekitar 97 persen telah dikuasai oleh China.

“Dan tidak mustahil apartemen-apartemen tempat-tempat tertentu di pesisir pantai itu mereka gunakan sebagai tempat persembunyian mereka untuk mengintai perairan Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian, katanya, di Sulawesi Tengah ada Pabrik Nikel yang cukup besar, yang bahkan dari 6.700 pegawai 5.000 di antaranya merupakan pegawai dari China. Belum lagi di Banten dan di Katapang.

Strategi berikutnya adalah menghancurkan umat Islam di Indonesia karena Islam merupakan kekuatan yang real di Indonesia bersama TNI dan Polri.

Dan kondisi hari ini yang sedang terjadi di Indonesia adalah bentuk nyata dari rencana mereka dengan cara membenturkan umat Islam dengan TNI maupun Polri. Ini seharusnya disadari oleh semua pihak yang mana sejatinya mereka sedang menghancurkan atau menghilangkan umat Islam.

Mereka berusaha sekuat tenaga dan berbagai cara yang penting rencana mereka berhasil, kita dapat lihat bagaimana maraknya sentimen anti islam dilancarkan melalui konspirasi global, agen-agennya AWaS, kader-kader Moerdani dan komunis. Lihat bagaimana oknum-oknum KPK ditunggangi mereka untuk menghancurkan simbol-simbol islam melalui kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh partai islam.

Kita lihat bagaimana media-media massa dimanfaatkan utk membonsai tokoh-tokoh Islam dan mengorbitkan tokoh-tokoh sekuler sebagai IKON di tengah-tengah masyarakat. Kita lihat bagaimana media massa sangat gencar mengeksploitasi aib para ulama, ustad dan tokoh Islam, baik yang riel atau pun jadi-jadian. Karena Indonesia sekarang menganut demokrasi liberal dimana kekuasaan harus diraih melalui partai politik, aktifis-aktifis komunis ramai-ramai masuk partai.

Partai yang paling mengakomodir para tokoh-tokoh komunis ini adalah PDIP. Karena romantisme sejarah atau pun karena pertimbangan praktis. Tokoh-tokoh eks PRD, FORKOT dan ormas-ormas lain berpaham kiri, sosialis utopis, komunis, ramai-ramai masuk PDIP. Sekarang mereka mau kuasai PDIP.

Faksi komunis di PDIP semakin menguat ketika PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC). PDIP mengirim kader-kadernya belajar ke PKC. Sedikitnya tiga kali atau 3 gelombang pengiriman kader-kader PDIP belajar PKC China. Disana mereka belajar dan merevitalisasi ideologi komunis.

Kesimpulan

Panglima TNI Gatot mengibaratkan Indonesia saat ini seperti gadis seksi yang menjadi rebutan negara lain. Itu tak lain karena Indonesia kaya akan sumber daya alam yang menjadi salah satu negara equator di dunia, dimana pertumbuhan  vegetasinya tidak pernah habis.

“Indonesia sebagai negara equator yang sangat kaya akan sumber daya alam adalah warning yang patut menjadi kekhawatiran  bangsa Indonesia dimasa yang akan datang,” terang Gatot.

Komunisme adalah musuh nyata yang akan memecahbelah bangsa Indonesia oleh karenanya semua harus bersatu baik umat Islam dengan bimbingan para ulamanya dan didukung oleh kekuatan baik TNI maupun Polri. Jadi kekuatan TNI dan Polri bukan malah memusuhi dan menghancurkan umat Islam.

(hr)

 

 

.

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: