Sketsa News

Ada Apa Dengan Demo 212 ?

Members of hardline Muslim groups hold a big national flag as they attend a protest against Jakarta's incumbent governor Basuki Tjahaja Purnama, an ethnic Chinese Christian running in the upcoming election, in Jakarta, Indonesia, November 4, 2016. REUTERS/Beawiharta TPX IMAGES OF THE DAY
Sketsanews.com – Mengapa polisi sangat anti dengan demo 212 nanti? Pertanyaan ini mungkin memenuhi kepala masyarakat Indonesia.

Alasan utamanya adalah  karena acara utama demo 212 nanti adalah “Sholat Jum’at”. Mengapa demikian?

Seperti yang telah kita ketahui bersama, sholat jum’at adalah kewajib bagi laki-laki muslim tanpa terkecuali. Disinilah masalah terbesarnya, pada saat dikumandangnya adzan pada hari jum’at 212 nanti semua laki-laki muslim termasuk polisi yang menjaga demo 212 pasti akan menghentikan aktivitasnya untuk bersiap-siap menunaikan sholat jum’at.

Maka disinilah saat-saat yang sangat ditakuti oleh para Jendral Polisi ini. Mengapa?

1. Dalam menunaikan ibadah sholat berjamaah, makmum berada dibelakang imam, mengikuti setiap gerakan serta komando dari imam. Sholat jum’at berlangsung selama 30-60 menit. Jadi karena para polisi pada pengawalan demo 212 temasuk perwira lapangannya yang kemungkinan paling tinggi berpangkat Jendral yang muslim juga harus mengikut sholat jum’at maka secara otomatis selama sholat jum’at dilaksanakan saat itu juga status mereka tidak lagi menjadi polisi, melainkan menjadi makmum sholat. Artinya selama sholat jum’at ditegakkan, komando polisi muslim tersebut berada dibawah komando imam dan khotib sholat jumat.

2. Sholat jum’at berbeda dengan sholat wajib lainnya karena didahului oleh 2 khutbah. Karena imam dan khotib sholat jum’at pada demo 212 nanti bukan permintaan dari kepolisian, maka ini menjadikan mereka was-was. Kira-kira apa yang akan disampaikan oleh khotib, tidak ada seorangpun yang mengetahui.

Sedangkan yang akan menjadi khotib nanti adalah ulama yang ahli dan sangat menguasai ilmu agamanya maka tema yang disampaikan bisa sangat situasional.

Saat sholat jum’at, komando ada ditangan khotib dan imam, bukan di tangan Jendral, padahal dalam barisan makmum sholat paling tidak ada 2/3 kekuatan polisi yang akan mengamankan Demo 212. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya Jendral Tito yang selama sholat jum’at kehilangan kendali 2/3 pasukannya?

Isu makar pada Demo 212 adalah cara yang mereka anggap paling tepat untuk menggagalkan demo tersebut, karena demo 212 nanti mengambil konsep demo dengan menyelenggarakan sholat jum’at maka sangat tidak mungkin disusupi oleh provokator. Mengapa?

1. Para pendemo pastilah hanya orang muslim saja yang hadir. Apakah ada non muslim ikut menunaikan sholat jum’at?
2. Hanya orang gila yang mau membuat kerusuh disaat sholat ditegakkan.

Kesimpulan

Jendral Tito cs, sebenarnya lebih takut dengan sholat jum’at yang dikoordinir oleh GNPF MUI dari pada acara demo 212 yaitu orasi dan unjuk rasa.

Kepada panitia demo 212 :

Masyarakat berterimakasih kepada para ulama yang tergabung didalam GNPF MUI serta yang telah menunjukkan kepada masyarakat luas tentang “The Power of Sholat Jumat”, sehingga di Indonesia negara yang tercintai ini ternyata Sholat jum’at telah menjelma menjadi hal yang menakutkan bagi para non muslim.

(Im/Group WA)

%d blogger menyukai ini: