Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Di SDS Kuala Sidang Mesuji, Upah Guru Dibayar Pakai Bumbu Dapur

Di SDS Kuala Sidang Mesuji, Upah Guru Dibayar Pakai Bumbu Dapur

sds

“Saat ini, 25 November 2016 adalah hari guru nasional. Karena itu di tengah kesibukan duniawi, ada baiknya sejenak mengambil nafas. Lalu, melihat kondisi SD Swasta (SDS) Kuala Sidang, sekolah terpencil yang kian rapuh di Kabupaten Mesuji. Potret buram pendidikan yang digambarkan Ernawati, guru relawan yang sudah belasan tahun mengabdi di sana.”

 
Sketsanews.com – BAGI Ernawati, SDS Kuala Sidang adalah segalanya. Potret seorang guru yang menomorsatukan pendidikan siswanya di atas segalanya, bahkan kehidupan pribadinya.

Dikutipdari RadarLampung.co.id, Dengan kemampuannya mengajar, ia sebenarnya bisa saja pindah ke sekolah lain yang lebih menjanjikan. Atau, ganti profesi. Ketimbang bertahan menjadi guru dengan bayaran sekadarnya.

Ya, di SDS Kuala Sidang inilah seorang guru benar-benar dikenalkan dengan kata ”pengabdian” yang sebenarnya. Mendidik tanpa memikirkan sepeser rupiah yang didapat.

Mereka, enam guru itu biasa digaji dengan ikan, bumbu dapur, atau apa saja. Hanya sebagai tanda terima kasih dari masyarakat yang anak-anaknya bersekolah di sana.

Beruntung sekarang ada anggaran dari pusat untuk guru daerah terpencil (gudacil), namun hanya untuk empat pendidik. Per orang mendapat sekitar Rp500 ribu per bulan. Karena itulah uang yang terkumpul akhirnya dibagi enam.

Untuk menuju ke sekolah yang dindingnya dari papan seadanya dan melapuk di makan usia, mereka harus naik perahu. Risiko terjebur ke air kuala muncul saat naik atau turun perahu.

Begitulah cara sehari-hari guru di sana menemui 77 orang siswanya dari kelas 1-6. Hanya ada dua lokal untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Siswa kelas satu sampai lima harus belajar bergantian dalam satu hari.

Sementara, kelas enam mempergunakan satu lokal yang tersisa. Maklum, mereka sebentar lagi menghadapi ujian akhir sekolah (UAS) SD. Tentu butuh konsentrasi lebih dibanding adik-adiknya.

Nah di tengah keikhlasannya, tentu ada keinginan besar yang diinginkan Ernawati yang juga menjadi kepala SDS Kuala Sidang. Sekolah yang dibangun dengan keringat masyarakat sendiri. Harapan ini ia tuangkan dalam guratan pembuka novel Maafkan Aku, Kuala Mesuji.

Ia memberi judul catatannya sama dengan lagu Children with No Land ciptaan Kim Commanders, musisi perdamaian asal Lampung Timur. Dia memang terinspirasi syair lagu balada yang ditulis dalam bahasa Inggris itu.

Begini penuturannya:

Anak-anakku…

Ibu tulis catatan harian ini di dua pertiga malam saat riak air mulai terpaku di antara jilatan lentera. Ibu tahu, esok seharusnya Ibu menyampaikan isinya pada kalian setelah pagi tiba, tepat saat berkas cahaya matahari mengoyak anyaman kabut di kaki muara Kuala Mesuji. Kalian tentu paham, Ibu memang sudah biasa melakukannya.

Menulis adalah satu-satunya jalan mengadu pada Tuhan saat satu dari kalian kembali harus terperosok di papan lantai sekolah kita yang berlubang. Atau, ketika kita harus mencari sudut paling aman sebab hujan tak berjeda terus menitikkan air melalui atap berkarat yang renta.

Sungguh, di saat-saat seperti itu, Ibu akan menyampaikannya pada gemulai daun nipah agar ia tahu; kita masih di sini sebagai teman. Kalian benar, kekasih rumpun rasau itu bahkan adalah sahabat yang selalu memeluk saat ruang kelas kita bergerak-gerak dihempas gulungan badai. Ia selalu berjuang untuk menyelamatkan kita.

Jika sampai hari ini kita masih disini dan tetap sendiri, ingatlah, jangan salahkan siapa pun, Nak. Mengutuk tak akan merubah keadaan, mencaci tak akan membalik situasi. Ibu akan tetap berada di sini untuk terus bersama kalian sampai nafas Ibu terhenti. Percayalah, masih banyak anak-anak lain yang jauh lebih tragis dari kita. Di sebuah belahan dunia lain, mereka bahkan harus beradu deru dengan dentuman bom dan amukan meriam.

Ibu hanya berharap, kalian akan terus mengingat pesan Kim Commanders dalam lagunya Children with No Land. Sebab dia benar tentang itu. Dan karenanya, jangan lagi kita menghakimi siapa pun mulai hari ini. Sebab kita akan terus menjaga Kuala sebagaimana Ibu yang akan terus menggenggam tangan kalian.

Tersenyumlah, Nak. Biarlah semua kegetiran ini untuk Ibu saja.

Tulisan serupa curahan hati seorang ibu pada anaknya tersebut bukan dibuat-buat. Ernawati sebenarnya bukanlah orang asli Mesuji. Ia dari Provinsi Sumatera Selatan ang berbatasan dengan Mesuji, Provinsi Lampung.

Pengabdiannya dimulai ketika dia menyelesaikan bangku kuliah pada 2000. Kala itu dia berkunjung ke tempat kerabatnya di Kuala Sidang. Hatinya langsung terketuk melihat kondisi anak-anak di sana yang banyak tidak bersekolah.

Ernawati awalnya memberi pendidikan formal kepada anak-anak di salah satu rumah warga. Melihat antusias bocah-bocah itu menuntut ilmu, masyarakat setempat akhirnya tergerak mendirikan sekolah secara swadaya.

“Saya mau anak-anak didik saya tidak minder dengan kondisi sekolah yang seperti ini. Saya ingin mereka juga tidak kalah berprestasi dengan sekolah-sekolah negeri yang lainnya yang lebih layak,” ungkap Erna –sapaan akrabnya.

Selama 16 tahun mengabdi sebagai guru, hingga kini Erna masih berstatus honorer. Gaji yang dia dapat tentu jauh dari kata cukup. Namun Erna tetap mensyukurinya. Dia bahkan meyakinkan semangat para guru dan siswa tidak akan pernah surut mesi kondisi sekolah jauh dari kata layak.

“Kami akan tetap mengabdikan diri agar pendidikan di daerah ini tetap berjalan demi menjadikan anak-anak generasi bangsa di Kuala Sidang bisa mengenyam pendidikan layak,” tegasnya.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: