Sketsa News
Home Berita Terkini, News Mulai 2017, Gagal Panen di Purwakarta Bakal Diganti Asuransi Rp 10 Juta

Mulai 2017, Gagal Panen di Purwakarta Bakal Diganti Asuransi Rp 10 Juta

1aac151a-af38-4d19-bc56-59324729375e_169

Sketsanews.com, Jakarta – Pemkab Purwakarta mengeluarkan kebijakan baru terkait perlindungan para petani di daerah. Kali ini perlindungan tersebut berbentuk asuransi ganti rugi Rp 10 juta untuk setiap satu hektar sawah yang mengalami gagal panen.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menjelaskan, kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada awal Januari 2017 berlaku bagi seluruh petani dengan berbagai jenis tanaman seperti padi, palawija, dan hasil produksi lain.

Mulai 2017, Gagal Panen di Purwakarta Bakal Diganti Asuransi Rp 10 JutaFoto: Istimewa

Menurut Dedi, sudah seharusnya para petani mendapatkan perlindungan yang memadai. Pasalnya sejak awal menanam hingga panen mereka sudah mengeluarkan banyak biaya dan tenaga. Namun kerja keras mereka bisa sirna seketika setelah terjadi gagal panen.

“Kami di Purwakarta ingin membuat para petani nyaman dalam menjalani profesinya. Sekaligus menumbuhkan kembali minat bertani bagi pemuda, yang kini cenderung ingin bekerja instan sebagai buruh pabrik,” jelas Dedi, Minggu (27/11/2016).

Dedi mengungkapkan, pola asuransi terebut adalah peingkatan dari program pemerintah pusat dengan cangkupan lahan yang lebih luas dan nilai ganti rugi yang lebih besar.

Pola asuransi tersebut akan dilakukan dengan cara Pemkab Purwakarta membayar premi Rp 46-100ribu perbulan dengan sasaran 46ribu hektar lahan pertanian. Dengan seperti itu maka setiap petani yang gagal panen akan mendapatkan ganti rugi maksimal Rp 10 juta.

“Mobil dan barang mewah saja diasuranikan, masa tanaman pertanian tidak. Justru ini penting untuk mendukung ketahanan pangan,” tuturnya.

Pihaknya berharap dengan berbagai upaya pemerintah menjamin hasil pertanian tidak ada lagi masyrakat yang tergiur untuk menjual lahannya kepada pihak lain karena nantinya malah beralih fungsi. Pasalnya saat ini minat masyrakat terutama peuda terhadap sektor pertanian sudah sangat minim.

“Pemerintahkan sudah berusaha menjaga bahkan menguntungkan petani dengan asuransi, ayo dong tolong jangan jual-jual lagi sawahnya. Generasi muda saat ini kurang mencintai pertanian, tahunya hanya menjual sawah. Ini ancaman bagi Indonesia ke depan,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan mengatakan, saat ini pihaknya telah melakukan verifikasi untuk memuluskan program yang akan segera bergulir.

Agus mengugnkapkan, sejauh ini program asuransi yang digulirkan pemerintah pusat kurang diminati oleh petani di Kabupaten Purwakarta. Pasalnya kasus gagal panen jarang terjadi sehingga petani memilih tidak mengitkuti asuransi dengan membayar premi bulanan.

“Kami tidak mau asuransi yang digulirkan ini tidak diminati seperti apa yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Karena sekarang premi sudah ditanggung pemerintah daerah,” terang Agus dikutip dari Detik.

Seperti diketahui Pemkab Purwakarta sangat konsen terhadap alih fungsi lahan pertanian yang dijual oleh warga. Sehingga sejak tahun 2008 di bawah kepemimpinan Bupati Dedi, pemerintah melarang pembangunan perumahan dan kawasan industri di areal pertanian produktif.

Selain itu dengan pola pendidikan berkarakter berbudaya yang diterapkan sejak lama, para pelajar pun diajak turun langsung ke sawah untuk praktik langsung mulai dari menanam hingga memanen tanaman di lahan pertanian. Hal tersebut tidak hanya sejalan dengan tujuan pendidikan yang menghasilkan generasi produktif dan kreatif, namun juga untuk menarik minat pelajar dalam bidang pertanian.

 

Tri

%d blogger menyukai ini: