Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Proxy-War, Siapa Dalang Yang Bermain di Dalamnya

Proxy-War, Siapa Dalang Yang Bermain di Dalamnya

proxy-war

 

 

Sketsanews.com – Berbagai konflik sosial yang terjadi di tanah air tidak terlepas dari campur tangan asing. Berbagai cara dilakukan untuk memecah Indonesia. Model perang terbaru adalah proxy war atau perang proksi.

Perang proksi terjadi ketika lawan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Perang ini menyerang lawan tanpa menyebabkan perang skala penuh.

Pengertian proxy war adalah perang terselubung di mana salah satu pihak menggunakan orang lain atau pihak ketiga untuk melawan musuh. Dengan kata lain, proxy war artinya perang tidak tampak menggunakan cara-cara halus untuk menghancurkan dan mengalahkan lawan menggunakan pihak ketiga.

Contohnya begini, Amerika Serikat secara terselubung melalui sebuah konspirasi dan desain besar menyatakan perang kepada Indonesia. Namun, hal itu dirahasiakan dan tidak dinyatakan secara terbuka. Mereka memilih untuk perang dengan cara proxy menggunakan “orang atau negara lain “.

Menurut pengamat militer dari Universitas Pertahanan, Yono Reksodiprojo menyebutkan Proxy War adalah istilah yang merujuk pada konflik di antara dua negara, di mana negara tersebut tidak serta-merta terlibat langsung dalam peperangan karena melibatkan ‘proxy’ atau kaki tangan.

Lebih lanjut Yono mengatakan, Perang Proksi merupakan bagian dari modus perang asimetrik, sehingga berbeda jenis dengan perang konvensional. Perang asimetrik bersifat irregular dan tak dibatasi oleh besaran kekuatan tempur atau luasan daerah pertempuran.

“Perang proxy memanfaatkan perselisihan eksternal atau pihak ketiga untuk menyerang kepentingan atau kepemilikan teritorial lawannya,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, ancaman  Perang Proksi itu sangat berbahaya karena negara lain yang memiliki kepentingan tidak langsung berhadapan. Menurut Ryamizard, perang ini menakutkan lantaran musuh tidak diketahui. Kalau melawan militer negara lain, musuh mudah dideteksi dan bisa dilawan.

“Kalau perang proksi, tahu-tahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur, di Semarang tak hancur. Tapi, kalau perang modern, semua hancur. Itu bahaya,” tuturnya.

Ryamizard menambahkan, perang modern tidak lagi melalui senjata, melainkan menggunakan pemikiran. “Tidak berbahaya perang alutsista, tapi yang berbahaya cuci otak yang membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara,” ucapnya.

Mengingat Indonesia kaya akan sumber daya alam, maka negara ini disebut-sebut darurat terhadap ancaman Proxy War. Kecemasan yang demikian dalam kurun setahun terakhir telah dikemukakan oleh Panglima TNI.

Pihak ketiga yang dimaksud, bisa berupa negara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan sebagainya. Selain negara, pihak ketiga bisa jadi sebuah organisasi (NGO), pergerakan, partai dan lain sebagainya.

Akibatnya, Indonesia dijajah secara tak kasat mata yang berujung pada kerusuhan, bentrok, ketidakamanan, bahkan sampai pada penjajahan sumber daya alam (SDA). Sudah menjadi rahasia kita penguasaan tambang emas,yang berada di papua.

Grasberg
Lokasi   : Papua, Indonesia
Penambang : PT Freepot Indonesia
Produksi :    1,440 juta troy ounces (tahun 2011)
Cadangan :   29,8 juta troy ounces  emas dan 2,35 miliar ton material bijih atau ore yang mengandung mineral berharga.
Jumlah tenaga kerja :  20.000 orang

Tambang emas ini menjadi pro dan kontra bukan hanya dari sisi lingkungan,  tapi juga karena keuntungan darei emas yang dihasilkan dari tambang ini tidak berdampak besar bagi peningkatahn kualitas kehidupan rakyat di sekitarnya.

Cadangan emas di Papua yang mencapai 29,8 juta troy ounces  ini merupakan cadangan terbesar atau mencakup 95 persen dari total cadangan emas Freeport di dunia.

Perusahaan tambang yang berinduk di Amerika Serikat (AS) ini kontraknya akan habis pada 2021. Freeport sedang menunggu kepastian dari Pemerintah RI  agar kontrak bisa diperpanjang hingga 2041.

Baru emasnya yang sangat besar belum lagi dengan gas bumi, minyak, sawit, dan masih banyak lagi kekayaan nusantara yang sadar atau tidak sudah dikuasai oleh asing.

Terserah kita mau diapakan negara kita, membiarkan kekayaan yang kita miiki di nikmati oleh asing, atau merebut dengan melawan.

 

(Ro)

%d blogger menyukai ini: