Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Opini Ideologi Komunis Biangnya Perang Saudara

Ideologi Komunis Biangnya Perang Saudara

Sketsanews.com – Kondisi perekonomian secara nasional di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla diklaim memuaskan. Setidaknya itu merupakan hasil survei terbaru lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kinerja Pemerintahan, Dua Tahun Pilpres.”

Tetapi untuk tahun ketiga ini, sudah sangat jelas bahwa kepemimpinan Jokowi – JK mengalami permasalahan di berbagai bidang. Janji-janji kampanye yang tidak terealisasi,  adanya aset negara yang mau dilelang, berkembangnya idiologi komunis yang mengancam keutuhan NKRI, dan masih banyak lagi.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diwaspadai;

1. TERCIUM BAU PKI DI NKRI

“Di bidang ideologi, paham-paham komunis emang sudah tidak eksis. Namun masih ada sampai sekarang segelintir dari nomor dua,” kata Kivlan Zen.

Menurutnya, indikasi penganut komunis itu terlihat dari sebutan kawan pada pendukung Jokowi . Sebutan itu adalah panggilan kamerad untuk para aktivis komunis.

“Ada foto-foto Jokowi yang bertuliskan kawan Jokowi . Sebutan kawan itu sama-sama sebutan kamerad, itu bau-bau PKI, bau-bau komunis,” terangnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan adanya informasi dukungan China untuk membangunkan kembali ideologi komunis. Hal itu terlihat dari banyaknya propaganda yang menyerang wacana nasionalisme yang didengungkan Prabowo .(Merdeka.com)

2. PARA AKTIFIS ANTI KOMUNIS DITANGKAP

Rezim Joko Widodo (Jokowi) menggunakan cara-cara Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan menangkap aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ikut demo 4 November 2016 pada malam hari.

“Menangkap aktivis HMI pada tengah malam itu cara-cara PKI. Rezim ini sudah keterlaluan terhadap aktivis Islam,” kata Ketua Front Anti Komunis Bangkit (FKAB) Ahmad Bahrani dalam pernyataan kepada suaranasional, Selasa (8/11).

Kata Bahrani, Rezim Jokowi sudah tidak suka terhadap aktivis Islam yang menyuarakan kritik terhadap penguasa. “Kalau cara-cara PKI ini dilakukan perlawanan terhadap penguasa makin menguat,” ungkap Bahrani. Bahrani mengatakan, penangkapan terhadap aktivis HMI menunjukkan penguasa saat ini ingin bermusuhan dengan umat Islam. “Aktivis HMI itu ada di mana-mana, dan tindakan penguasa dengan menangkap pada malam dini hari sudah menunjukkan cara yang tidak baik,” papar Bahrani.

Kata Bahrani, harusnya pihak kepolisian menangkap kader HMI yang diduga provokator pada demo 4 November bukan pada malam dini hari. “Ini kesannya ingin menakut-nakuti para pengkririk penguasa,” pungkas Bahrani.(Suaranasional.com)
3. PARA PURNAWIRAWAN JENDRAL DITANGKAP, PASAL YANG DITUDUHKAN MAKAR

Ketua Persatuan Purnawirana Angkatan Darat (PPAD) terpilih, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri akhirnya buka suara terkait dugaan keterlibatan dua tokoh purnawirawan TNI dalam isu makar.

Ia menilai Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein dan Brigjen TNI (Purn) Adityawarman tidak pernah merencanakan isu makar terhadap presiden RI Joko Widodo.

Kiki pun meminta agar isu tersebut tidak dibesarkan dan ditanyakan kembali. “Nggak ada (rencana) mereka mau makar ah, ngarang itu ya, jadi itu barangkali tidak usah dibesar-besarkan lagi,” ujar Kiki, saar ditemui di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (5/12/2016). Menurutnya, isu dugaan makar tersebut sebaiknya tidak perlu dibahas agar tidak menimbulkan keresahan.(Tribunnews.com)

4. ADU DOMBA PERANG SAUDARA ADALAH IDIOLOGI KOMUNIS

Pertentangan kelas menjadi doktrin kuat yang dianut oleh para kader Marxisme. Karena prinsip ideologi komunis semacam itu, maka para petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin menjadi ladang garap utamanya.

Komunis Uni Soviet membangun kekuatan partai di lingkungan para pekerja (buruh). Adapun komunis Cina membangun garda pertahanan partainya di wilayah berbasis petani. Kalangan fakir, miskin, orang-orang lemah, orang-orang tertindas, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya komunisme.

Di Indonesia tak jauh berbeda. Sejarah perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) tak bisa dipisahkan dari kaum proletar (rakyat jelata, seperti kaum buruh, petani, dan nelayan). Dalam keorganisasian pun, PKI memiliki organisasi sayap, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), dan organisasi berbasis massa lainnya.

Melalui organisasi sayap petani, BTI, PKI melakukan aksi pertentangan kelas. Dengan dalih membela para petani miskin, PKI menuntut dilaksanakannya Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian (UU No. 2/1960) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5/1960).

Sejalan dengan propaganda yang dicanangkan, dalam rangka mempertajam pertentangan kelas sesuai dengan doktrin Marxisme-Leninisme, PKI mengampanyekan pula sikap anti “Tujuh Setan Desa”. Adapun yang dimaksud sebutan “Tujuh Setan Desa” adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemungut/pengumpul zakat.

Demikianlah orang-orang komunis. Melalui organisasi tani BTI, mereka menghasut anggota dan simpatisannya untuk bertindak onar tanpa kendali. Mereka hendak memaksa pemilik tanah untuk menyerahkan tanahnya dengan dalih melaksanakan undang-undang. Akibat tindakan mereka terjadilah konflik di berbagai daerah.

PKI menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Termasuk menggunakan cara adu domba, yang mereka sebut dengan “pertentangan kelas”. Pertentangan antara kelas borjuis (pemilik tanah) dan kaum proletar (rakyat jelata, buruh tani miskin). (antikomunisme.com)

Dari beberapa fakta di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa NKRI merindukan para pecintanya. Membutuhkan jiwa-jiwa pejuang tempo dulu yang berjuang tanpa pamrih. NKRI HARGA MATI !

(ip)

 

%d blogger menyukai ini: