Sketsa News
Home Berita Terkini, News NEWS STORY: Secuplik Cerita Istri Soekarno di Tokyo Metropolitan

NEWS STORY: Secuplik Cerita Istri Soekarno di Tokyo Metropolitan

Sketsanews.com – Bicara tentang sang proklamator dan Presiden RI pertama Ir Soekarno, sudah banyak literatur yang membahas hampir segala sisinya. Tapi ketika bicara tentang aspek humanisnya, yang getol menggalinya adalah Roso Daras.

Mantan wartawan Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos yang belakangan giat membuat buku tentang Soekarno. Beruntung penulis bisa dipertemukan dengannya atas bantuan penggiat sejarah Beny Rusmawan, di sebuah kedai roti bakar di Kota Depok.
Dengan santai dan humble, Mas Roso, begitu penulis memanggilnya, bermurah hati sedikit banyak membeberkan pengalaman perjalanannya ke Jepang, untuk bersua salah satu istri Soekarno, sekira awal November 2016.

Siapa lagi kalau bukan Ratna Sari Dewi Soekarno. Gadis Jepang bernama lahir Naoko Nemoto yang pada 1962 dan ketika itu usianya 19 tahun, dinikahi sang pemimpin besar revolusi sebagai istri kelima.

Di “Negeri Sakura” itu, Mas Roso menelusuri kediaman Ratna Sari Dewi yang berada di salah satu kawasan elite Tokyo Metropolitan, Shibuya.

Jpeg

“Saat di sana itu (rumah Ratna Sari Dewi) yang menarik di depan rumahnya ada papan namanya tapi bukan tulisan Jepang ya, tapi dia tulis di pagar namanya ‘Ratna Sari Dewi Soekarno’,” ungkap Mas Roso mengawali perbincangan kepada Okezone .

“Anaknya, Karina (Kartika Sari Dewi Soekarno) sekarang tinggalnya di London, nikah sama orang Belanda. Ibu Ratna cerita banyak, misalnya tentang buku berbahasa Jepang yang baru dia rilis,” tambahnya.

Mas Roso melanjutkan, buku itu menceritakan kisah perjalanannya di Prancis dan tentunya banyak pula halaman yang menceritakan kisah-kisahnya dengan si “Bung Besar”. Ditambah, Ratna Sari Dewi juga menerbitkan 90 foto yang belum pernah ter-publish selama ini.

“Figurnya (Ratna Sari Dewi) itu menarik. Respeknya terhadap Bung Karno tidak hilang meski sudah jadi sosialita di Eropa. Dia orang cerdas, aktif di LSM yang membantu korban-korban gempa di Jepang. Dia juga mengasuh beberapa acara TV lokal,” imbuh Mas Roso.

Dalam pertemuannya, Roso Daras juga ingin mengonfirmasi tentang dua versi kisah tentang Karina dan Bung Karno. Kisah tentang benar atau tidaknya Karina pernah bertemu dengan Soekarno sebelum wafat 21 Juni 1970 di RSPAD Jakarta.

“Dia (Ratna Sari Dewi) bilang, dua-duanya benar. Dikatakan bertemu, ya memang bertemu dua atau tiga hari sebelum (Soekarno) meninggal. Dia bilang: ‘Saya letakkan Karina di dada Soekarno yang sudah tidak bisa bicara, nafasnya tersengal-sengal’. Tapi kalau mengatakan tidak pernah ketemu, ya karena memang faktanya tak ada interaksi dengan Karina,” sambungnya lagi.


Saat itu, merupakan saat-saat Ratna Sari Dewi sempat kembali ke Indonesia setelah diminta Soekarno ke luar negeri. Saat “takhtanya” sudah jatuh, Soekarno disebutkan memerintahkan dua istrinya yang tengah mengandung, Ratna Sari Dewi dan Kartini Manoppo, ke luar dari Indonesia.

“Ratna awal 1966 sebenarnya sudah disuruh ke luar dari Indonesia. Dia dan Kartini Manoppo saat itu sedang hamil. Ya karena situasi politik saat itu. Soekarno tidak mau terjadi sesuatu pada mereka di Indonesia dan meminta ke luar demi keselamatan mereka,” tandasnya.

Satu permintaan Ratna Sari Dewi yang disampaikannya dalam penghujung pertemuan itu, adalah Ratna Sari Dewi berniat ingin kembali lagi ke Indonesia dan meninggal di Tanah Air.

(Eni)

%d blogger menyukai ini: