Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Bom Bekasi dan Fakta Kasus Teroris, Sampai Bikin Pengamat Ragu

Bom Bekasi dan Fakta Kasus Teroris, Sampai Bikin Pengamat Ragu

Sketsanews.com, Solo – Beberapa hari ini Densus 88 Antiteror Mabes Polri tengah disibukkan dengan adanya bom Bekasi seberat 3 kilogram di tempat tinggal Dian Yulia Novi (DYN) di daerah Bekasi.

Bom berdaya ledak tinggi ini ditargetkan di Istana Merdeka oleh kelompok yang diduga jaringan Bahrun Naim.

Ada beberapa catatan dan pertanyaan The Islamic Study and Action Center (ISAC) Solo terkait bom Bekasi.

Berikut catatan dan pertanyaan seperti dikutip dari Nasional, dari Sekretaris, ISAC Solo, Endro Sudarsono, Senin (12/12/2016):

1. Bom Bekasi dengan daya ledak tinggi belum meledak, masih di dalam tempat tinggal Dian Yulia Novi.

2. Jika diledakkan, radius 300 meter akan hancur dan jika dinyalakan kecepatannya 4.000 km/jam. Dalam perhitungan matematika bahwa radius diartikan jari-jari, luas lingkaran adalah, L = 3,14 x R x R yaitu 3,14 x 300 m x 300 m = 282.600 meter persegi.

3. Targetnya adalah Istana Merdeka maka sasaran aksi adalah presiden dan atau kantor kepresidenan. Perlu penjelasan dari Polri mengapa pelaku menargetkan presiden dan atau kantor kepresidenan. Siapa yang akan diuntungkan jika bom meledak di Istana Merdeka dan presiden ada di sana?

4. Tidak ada kerusakan fisik, korban jiwa kecuali penangkapan terduga pemilik, perakit maupun pihak pihak yang terkait dengan kasus terorisme.

5. Mencuatnya bom Bekasi pada10 Desember 2016 artinya 3 hari menjelang sidang penistaan agama oleh Ahok dan sekitar 2 pekan menjelang perayaan Natal. Dalam catatan dan pertanyaan ISAC, bahwa mengapa target terorisme akhir-akhir ini cenderung tidak menguntungkan pelaku justru merugikan dirinya sendiri?

Dalam catatan ISAC bahwa, ada kasus terorisme yang justru korbannya dirinya sendiri atau bisa dikatakan target operasi kurang signifikan, yaitu:

1. Kasus pelemparan molotov di Banjarmasin dengan memakai kaus yang bertuliskan Jihad, Isykarima Aumut Syajidan (Hidup Mulia atau Mati Syahid) yang pada akhirnya pelaku ditangkap, dan ada korban 1 anak meninggal dunia.

2. Kasus penusukan anggota polisi di Tangerang dengan pelaku akhirnya meninggal dunia, ada korban luka.

3. Kasus pelemparan bom molotov di sebuah gereja Medan dimana pelakunya ditangkap, terdapat luka pada korban dan kerusakan kecil.

4. Bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta pelaku meninggal dunia dan 1 polisi luka.

5. Bom Thamrin di Jakarta yang meledakan di pos polisi dengan pelaku meninggal dan beberapa korban luka dan meninggal dunia.

6. Bom Kepunton di Solo dimana pelaku meninggal dunia dan tidak ada kerusakan, tidak ada korban jiwa.

7. Bom Cirebon dimana pelakunya meninggal dunia beberapa korban luka.

8. Pelemparan molotov di gereja di Klaten, tidak terbakar pelaku berhasil ditangkap.

9. Bom di Mapolsek Pasar Kliwon yang tidak meledak dan pelaku berhasil ditangkap, tidak ada kerusakan dan korban.

Kasus Terorisme di Indonesia termasuk dalam kategori Extra Ordinary Crime (Kejahatan Luar Biasa).

Namun, mengapa kasus tetorisme dalam data ISAC tersebut justru pelaku tertangkap atau meninggal dunia tanpa ada efek yang signifikan?.

ISAC juga meragukan kasus bom Bekasi terkait dengan Bahrun Naim. Perlu didalami keterlibatannya, penjelasan maupun perannya.

Korelasi bom Bekasi dan Bahrun Naim perlu data, fakta dan bukti maupun saksi yang nantinya akan dibuktikan di pengadilan.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: