Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Sejak 2002 – 2016, Ada 260 Serangan dan 1.050 Orang Ditangkap dalam Kasus Terorisme

Sejak 2002 – 2016, Ada 260 Serangan dan 1.050 Orang Ditangkap dalam Kasus Terorisme

Hasil Program Deradikalisasi, Umar Patek Kerek Bendera Merah Putih

Sketsanews.com, Jakarta – Temuan bom panci di Bekasi, Jawa Barat pada Sabtu (10/12) lalu menambah panjang daftar kasus terorisme di Tanah Air.

Pengamat aksi terorisme Universitas Indonesia (UI) Solahudin mencatat, dari 2002 hingga 2016, lebih dari 260 serangan dan 1.050 orang ditetapkan sebagai tersangka maupun terpidana dalam kasus terorisme.

Diterangkan Solahudin, terus maraknya kasus terorisme di dalam negeri tak lepas dari peran ‘pemain lama’. Mereka tidak berhenti melakukan regenerasi menyebarkan paham radikalisme. Mereka menyasar kawula muda.

“Misalnya pemuda yang tinggal jauh dari keluarga dan memiliki banyak masalah, ditambah emosinya yang labil,” jelasnya.

Semakin mudah ketika penyebaran radikalisme tersebut menyasar orang-orang muda yang mempunyai kekecewaaan besar terhadap pemerintahan. “Kalau sudah tahap ini diomongi apa saja maka akan diterima. Bahkan mereka siap mati atas nama agama,” terang Solahudin.

Apakah media sosial bisa disalahgunakan menyebarkan radikalisme? Solahudin menuturkan tidak menutup kemungkinan untuk itu. Namun sekarang potensinya sangat tipis karena kepolisian telah membentuk tim cyber crime.

“Sekarang cukup sulit, web berbau radikal, polisi akan segera melaporkan ke Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika,Red) untuk segera di blokir,” ungkapnya.

Lebih lanjut diterangkan Solahudin, aksi terorisme dipengaruhi oleh persaingan 5 kelompok besar jaringan ISIS. “Masing-masing memiliki pemimpun yang inigin menunjukkan menunjukkan kekuatan di mata pemimpin pusat. Untuk itu mereka berlomba-lomba menebar teror di Indoneia,” terangnya.

Dari mana para pelaku mendapatkan ilmu merakit bom? Solahudin menduga memakai cara klasik, yakni telegram. Meskipun terkesan lawas, tapi cara ini sulit dideteksi aparat.

Terkait beragam profesi para terduga teroris, Solahudin mengatakan hal tersebut hanya untuk penyamaran. “Mereka harus mampu menutupi identitasnya dan dan memiliki kehidupan layaknya masyarakat umum. Tapi kelemahannya kurang bisa beradaptasi terutama bila tinggal di wilayah yang tidak sejalan dengan pola pikir mereka,” urai dia.

Anggota Komisi III DPR RI Mohamad Toha mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terbujuk dengan paham radikal yang mengarah pada terorisme.  Hal itu disampaikan Toha saat menjadi pembicara dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan di kawasan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Senin (12/12).

Menurutnya terduga terorisme didominasi oleh kaum muda dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. Tingginya intelegensia tersebut menjadi bumerang setelah doktrin keagamaan ditanamkan.

Pria yang pernah menjabat sebagai wakil bupati Sukoharjo itu menyebut pemerintah harus menanamkan ideologi Pancasila sebagai dasar hidup bernegara lewat beragam cara. Namun yang paling ampuh adalah dari keluarga. “Orang tua harusnya tahu bagaimana pemikiran sang anak dan apa saja yang dilakukan,” imbuhnya.

Faktor ekonomi, kata Toha, disebut sebagai akar terjadinya kejahatan. Kondisi ekonomi yang relatif sulit serta terbatasnya lapangan pekerjaan membuat masyarakat putus asa dan mudah dipengaruhi paham radikal.

Dari sisi regulasi, pembahasan revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemberantasan Terorisme masih dalam tahap penyusunan daftar inventarisasi masalah (DIM). Di internal panitia khusus (pansus) cukup alot membahas pelanggaran Hak Asasi Manusia(HAM) ketika menangkap orang yang masih terduga teroris.

Persoalan ini cukup pelik mengingat ada standar ganda yang harus dilakukan pihak kepolisian khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan.

“Kita tidak bisa menangkap orang sebelum dia melakukan tindakan. Tetapi menjadi bahaya ketika sudah duaarrr (meledak, red) baru ditangkap. Ini yang menurut kami pentingnya mencegah,” papar Toha.

Budayawan Kota Solo, Tundjung W Sutirto, menilai peran masyarakat sangat penting meminimalkan pengaruh radikalisme. “Peran masyarakat mulai kendor makanya terorisme bisa berkembang,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, imbuh Tundjung dipengaruhi oleh kemunduran fungsi-fungsi social. Kesadaran dalam bermasyarakat mulai terkikis. “Dari pemberitaan, gelagat terduga teroris sebenarnya sudah terendus warga. Misalnya jarang menghadiri pertemuan di tingkat RT RW maupun kelurahan,” katanya.

Dikutip dari BatamPos, ketika masyarakat peka, kecurigaan tersebut bisa diteruskan ke RT, RW, kelurahan dan aparat. Tapi karena saling acuh, baru kebakaran jenggot setelah ada penangkapan atau penggeledahan oleh aparat.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: