Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Densus 88 Siapkan Tiga Strategi Penanganan Terorisme

Densus 88 Siapkan Tiga Strategi Penanganan Terorisme

Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi (kedua kanan) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kiri) Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo (tengah), Kepala Pengawas Pasar Modal Nurhaida(ketiga kiri), Direktur Utama BEI Tito Sulistio (kiri), Kepala Densus 88 Eddy Brigjen Pol Eddy Hartono (ketiga kanan) dan Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu di sela-sela Seminar Partisipan KSEI mengenai Diskusi Ekonomi, Politik dan Keamanan Dalam Negeri dalam rangka Perencanaan Strategi Bisnis 2017 di Jakarta, Kamis 16 Desember 2016. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Sketsanews.com, Jakarta – Strategi penanganan terorisme oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri dilakukan dengan tiga strategi yaitu pencegahan, penegakan hukum dan deradikalisasi. Dalam aspek pencegahan, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan.

“Pencegahan langkah utama. Masyarakat harus bisa jadi agen-agen perubahan di tingkat kelurahan, desa. Tokoh masyarakat juga harus gerak,” kata Kepala Densus 88, Brigjen (Pol) Eddy Hartono, dalam Seminar Partisipan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bertajuk Diskusi Ekonomi, Politik dan Keamanan Dalam Negeri dalam Rangka Perencanaan Strategi Bisnis 2017 di Jakarta, Kamis (15/12).

Acara ini dimoderatori Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Investor Daily, dan Beritasatu.com, Primus Dorimulu.

Eddy menuturkan, penegakan hukum dilakukan berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorirsme dan UU 9/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Teroris. Payung hukum pemberantasan terorisme ini tengah direvisi.

“Sekarang sedang digodok supaya tiga hal itu (pencegahan, penegakan hukum dan deradikalisasi) bisa tercakup dalam revisi UU Terorisme,” tuturnya.

Terkait strategi deradikalisasi, dia menyatakan, penting diterapkan. Namun, menurutnya, deradikalisasi tidak mudah. “Banyak yang sudah deradikalisasi, tapi kembali lagi,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya terus memantau ketat para narapidana teroris yang telah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan (lapas).

“Kami pantau ketat. Kami usulkan napi-napi teror ada masa percobaan atau kasih gelang monitor seperti chip,” imbuhnya.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: