Sketsa News
Home Berita Terkini, Internasional, News Politikus Rusia: Kematian Dubes di Turki Gara-Gara Media Pro-Barat

Politikus Rusia: Kematian Dubes di Turki Gara-Gara Media Pro-Barat

Sketsanews.com , MOSCOW  – Anggota majelis rendah parlemen Rusia, Alexey Pushkov meyakini pemberitaan media pro-Barat yang menyudutkan posisi negaranya terkait konflik Suriah, memiliki andil dalam insiden pembunuhan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov. Ia juga menyalahkan musuh-musuh politik Rusia sebagai pemicu serangan di pameran seni tersebut.

“Kematian Karlov adalah hasil dari histeria politik dan pemberitaan media yang anti-Rusia. Ini adalah buah dari sentimen keliru yang disebarkan oleh musuh-musuh Rusia,” tudingnya, seperti disitat dari The Guardian, Selasa (20/12/2016).
Seperti diketahui, AS dan sekutunya terus menerus menyebut bahwa Negeri Beruang Merah bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan di Suriah. Rudal-rudal koalisi Assad dan Putin dituding menyasar warga sipil dengan sengaja. Sementara ketika AS mengebom rumah sakit dan menewaskan sejumlah warga di Suriah, mereka menjamin itu sebagai tindakan yang tidak disengaja.

Mevlut Met Altinlas (22), pelaku yang menyamar sebagai staf keamanan meneriakkan kampanye peduli Aleppo dan Suriah, setelah menembak jatuh Karlov. Sedikitnya tiga orang terluka, dan sang dubes meninggal di rumah sakit akibat kejadian tersebut.

Pejabat keamanan Turki dan para pendukung Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding ulama Fethullah Gulen berada di balik penembakan ini. Tuduhan yang menurut juru bicara Gulen sangat lucu dan jelas dimaksudkan untuk menutupi lemahnya tingkat keamanan.

Dikutip dari Okezone , dalam sudut pandang internasional, pembunuhan Karlov menimbulkan pertanyaan mengenai proses evakuasi yang sedang terjadi di timur Aleppo. Kesepakatan tersebut diketahui merupakan hasil dari mediasi Turki dan Rusia.

Narasumber yang tahu betul soal negosiasi tersebut mengatakan, Moskow merupakan alasan utama kesepakatan evakuasi tersebut berjalan sesuai rencana sepanjang akhir pekan ini. Dan Dubes Karlov adalah salah satu diplomat yang berperan penting dalam diskusi antara Iran, Rusia, dan oposisi Suriah. Pertemuan itu dimediasi oleh Turki.

Serangan Altinlas juga datang sehari sebelum Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu terbang ke Moskow untuk membahas soal Suriah dengan Rusia dan Iran. Selama beberapa pekan terakhir, ketiga negara ini memang intens membicarakan masa depan Aleppo dan Suriah.

Diduga kuat, mereka sedang bersekutu dan merencanakan axis baru. Dan hal itu harus sudah kuat sebelum Donald Trump resmi dilantik pada 20 Januari 2016. Bahkan, Presiden Vladimir Putin dipandang tengah gencar memanfaatkan peran barunya sebagai kekuatan utama negosiasi perdamaian konflik Suriah.

Mantan agen KGB itu sudah mengagendakan pertemuan lebih lanjut di Astana, Ibu Kota Kazakhstan. Pertemuan akan dihadiri oleh Rusia, Turki dan Iran pada 27 Desember. Putin menegaskan, hasil diskusi tersebut tidak akan bertentangan dengan proses pemungutan suara PBB di Jenewa. Sebaliknya, diharapkan dapat menjadi pelengkap.

“Karier diplomatik Karlov di Turki sangat mengesankan, dia menjadi saksi naik turunnya hubungan kedua negara. Semua orang sekarang mengharapkan peningkatan hubungan lagi antara Rusia dan Turki,” kata Kepala Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Rendah Parlemen Rusia, Konstantin Kosachev yang mengenal Karlov secara pribadi.

Sanjungan lain datang dari Dubes Inggris untuk Turki, Richard Moore. Ia menggambarkan sosok Karlov sebagai orang yang ,”diam-diam menghanyutkan, tetapi profesional yang ramah.”

(Eni)

%d blogger menyukai ini: