Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News Dollar Memperlancar Drama Terorisme di Indonesia

Dollar Memperlancar Drama Terorisme di Indonesia

Sketsanews.com – Terorisme adalah sebuah istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia mulai dari anak-anak sampai usia lanjut. Sebuah nama yang tidak dengan mudah orang itu melupakannya mulai dari orang awam sampai para politikus negeri ini.

Dengan seringnya muncul aksi terorisme di media baik cetak maupun elektronik menjadikan istilah terorisme laksana hantu yang menyeramkan. Selain itu aksi terorisme yang kemudian dilanjutkan dengan penangkapan para terduga pelaku aksi seakan-akan menjadi sebuah rutinitas yang terjadi setiap tahun.

Perhatikan di tahun 2016 ini sudah berapa banyak aksi yang terjadi, mungkin masih ingat kasus bom Thamrin di awal tahun 2016 yang dalam waktu satu hari pihak kepolisian bisa menangkap pelaku aksi tersebut. Bahkan bisa mengungkapkan siapa dalangnya sehingga muncul nama Bahrun Naim yang hari ini menjadi tokoh sentral dari setiap aksi teror di  Indonesia.

Berita terkini  menjelang akhir tahun adalah tim Detasemen Khusus Anti Teror (Densus AT 88) berhasil menjinakan benda yang diduga bom dengan kekuatan daya ledak tinggi di salah satu kamar kontrakan yang terletak di Jalan Bintara Jaya VIII, Kecamatan Bekasi Barat, Sabtu 10 Desember 2016 malam.

Benda yang diduga bom oleh pihak tim gegana merupakan sebuah bom model rice cooker dengan bahan peledak seberat 3 kg dan berdaya ledak tinggi atau high explosive. Bom Bekasi tersebut rencananya diledakan di pos penjagaan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat keesokan harinya.

“Rencana serangan mereka sebetulnya memang adalah di pos penjagaan (Istana Kepresidenan) itu. Pada saat terjadi pergantian jaga itu kan biasanya menarik banyak massa. Alhamdulillah dapat kita gagalkan sehingga tentunya tidak ada korban dan lain-lainnya,” kata Tito di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu 11Desember 2016 malam.

Dengan seringnya mendengar dan melihat aksi terorisme yang terjadi maka hal ini memunculkan pertanyaan, benarkah ini merupakan murni sebuah aksi terorisme atau sebuah kejadian yang sudah direkayasa atau ada skenarionya. Karena kasus terorisme merupakan kasus yang masih laku untuk dijual dalam rangka mendapatkan keuntungan material untuk pihak-pihak tertentu.

Peran Intelijen

Para peneliti terorisme secara aklamasi menyetujui bahwa intelijen merupakan sesuatu yang penting dalam perang melawan terorisme. Intelijen memberikan informasi strategis dan taktis yang vital untuk membuat keputusan dan untuk melakukan serangan kontra terorisme. Seperti informasi vital untuk memformulasikan kebijakan kontra terorisme dan keterlibatan dalam perang baik dari aspek defensif maupun aspek ofensif.

Dari semua peristiwa penangkapan para terduga aksi terorisme tidak pernah luput dari peran intelijen. Belajar dari kasus bom Bali I, bahwa tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab terhadap peledakan bom tersebut yang telah mengubah surga pariwisata di pantai Legian Kuta menjadi sebuah neraka. Serangan bom itu merupakan salah satu yang paling dahsyat, bahkan untuk ukuran dunia. Korban yang jatuh disebut terbesar kedua setelah serangan 11 September 2001.

Joe Vialls, seorang pengamat masalah terorisme dan bahan peledak meyakini bahwa bom yang digunakan dipastikan dari bom jenis non konvensional yang dikenal singkatan SADM (Special Atomic Demolition Munition). Dia menyatakan bahwa dunia Islam belum memiliki akses kepada SADM. Negara yang memiliki senjata micro nuke SADM adalah Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Rusia. Namun pihak kepolisian Indonesia membantahnya dan menyatakan bahwa bom itu dirakit dari bahan ledak TNT. (Baca: Hantu Indonesia Bernama Terorisme)

Lantas bagaimana dengan aksi-aksi teror hari ini masihkah ada permainan intelijen tingkat tinggi, hari ini banyak beredar di media sosial baik whatsapp maupun facebook tentang bocoran bagaimana cara menciptakan para teroris.

Bocoran ini berasal dari seorang kerabat orang dalam intel densus 88, orang itu menjelaskan tentang cara-cara Densus membuat orang jadi tersangka teroris, di antaranya:

Pertama, Densus88 mempunyai intel di akun-akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (akun) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid/yang sering memposting berita berita jihad.

Kedua, setelah target di temukan, maka akun intel Densus88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan mulai bertanya-tanya di mana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakkan syariat di Indonesia. Kalo semua lancar, maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.

Ketiga, bagi yang akun yang sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid.

Keempat, setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban Densus88 ini akan langsung di beri latihan militer atau langsung di persenjatai.

Kelima, setelah itu calon korban di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi Densus88 untuk menyerbu (kita tahu rata semua penyergapan “teroris” adalah rumah kontrakan).

Keenam, setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan, biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi Densus88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).

Ketujuh, perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru Densus88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap.

Kedelapan, setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan “teroris”, dan akan di siarkan biasanya secara langsung di tv nasional yang sudah diberi tahu sebelumnya.

Kesembilan, saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama Densus88, sehingga saat mereka tahu bahwa yang datang Densus88, para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan Densus88 adalah mati syahid.

Kesepuluh, perlu diketahui bahwa yang direkrut para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi tumbal Densus88 agar terus eksis, selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di Indonesia.

Kesebelas, Anggota/Regu Densus88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenario ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/jaringan Al-Qaeda.

Keduabelas, si korban akan langsung di tembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya.

Adapun yang masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalo yang merekrut mereka ini adalah intel Densus88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid. (Red-mujahidin buatan Densus).

Anehnya sampai tulisan ini diturunkan belum ada sanggahan dari pihak-pihak terkait kepada sumber yang dalam tulisan tersebut hanya menuliskan identitas “Muhammad MT”.

Sebenarnya apa yang mendasari itu semua karena ingin menciptakan stigma bahwa Islam adalah agama teroris, padahal menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, terorisme adalah kekerasan yang direncanakan, bermotivasi politik, ditujukan terhadap target-target yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok sempalan atau agen-agen bawah tanah dalam rangka mempengaruhi khalayak. (Hudson dan Majeska, 1999: 12)

Berdasarkan pada definisi tentang terorisme tersebut maka tidak satupun yang berkaitan antara terorisme dengan agama tertentu. Secara umum terorisme terkait dengan berbagai motif politik dalam arti hubungan antara individu, kelompok, masyarakat dengan negaranya.

Kemungkinan yang berikutnya karena untuk mendapatkan kucuran dana yang besar apabila bisa menangkap atau mengatasi kasus terorisme ini. Seperti apa yang disampaikan Menko Polkam Luhut Binsar Panjaitan. Menurutnya bahwa ANCAMAN terorisme yang kian nyata membuat pemerintah merasa perlu untuk memperkuat pasukan antiteror. Dana fantastis pun siap digelontorkan untuk satuan penumpas teroris, Detasemen Khusus (Densus) 88.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran hingga Rp 1,9 triliun untuk itu.

Luhut menilai, selama ini Densus 88 yang berada di jajaran Polri kurang mendapatkan dana yang memadai untuk mendukung kegiatan maupun personelnya. Karena itu, pemerintah ingin memberikan alokasi khusus agar bisa dimanfaatkan secara optimal. “Anggarannya akan dimasukkan dalam APBN Perubahan 2016,” katanya.

Secara teknis, dana tersebut akan dimasukkan dalam alokasi anggaran Polri sebagai induk Densus 88. Dengan catatan, anggaran Rp 1,9 triliun khusus dialokasikan untuk pasukan berlambang burung hantu itu. Luhut tidak ingat detail anggaran yang diberikan Polri kepada Densus 88 pada 2016 ini.

“Tidak terlalu besar. Makanya, kami nilai harus ditambah,” lanjutnya. Sebelumnya, Polri pernah memublikasikan anggaran Densus 88 pada 2011 sebesar Rp 60 miliar.

Lantas, untuk apa saja dana Rp 1,9 triliun tersebut? Menurut Luhut, dana itu akan dialokasikan untuk memperkuat Densus 88, mulai peremajaan alat persenjataan atau intelijen, peralatan pendukung, remunerasi atau tambahan gaji, pelatihan, hingga fasilitas asrama untuk sekitar 400 personel Densus 88.

Kesimpulan

1. Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia adalah rekayasa permainan intelijen.
2. Ingin menciptakan stigma bahwa Islam adalah teroris.
3. Faktor anggaran yang begitu menggiurkan apabila bisa mengungkap kasus terorisme.

(Tgh)

%d blogger menyukai ini: