Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Kapan Sinetron “Terorisme” ini Berakhir

Kapan Sinetron “Terorisme” ini Berakhir

Sketsanews.com – Indonesia adalah Negara yang unik dan kaya akan seni budaya warisan nenek moyang bangsa ini yang berkembang di seluruh pelosok daerah. Namun sangat disayangkan kebudayaan yang menandakan ciri khas bangsa ini pemerintah tidak memberikan perhatian yang cukup sehingga lama kelamaan pudar dan bahkan hilang sama sekali.

Bangsa ini sudah banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang luar biasa apalagi didukung oleh banyaknya sarana yang membantu jalannya perubahan. Dengan kemajuan teknologi dan informasi inilah yang memperlancar perubahan bangsa ini.

Dulu masyarakat Indonesia sering disuguhi dengan tontonan kebudayaan daerah seperti ketoprak, wayang orang atau kulit, ludruk dan lain sebagainya, namun hari ini sudah mengalami pergeseran mulai dari sinetron anak-anak, dewasa dan sinetron bersambung yang entah kapan akan berakhirnya.

Sebagaimana cerita rakyat awalnya masyarakat tidak hapal alur cerita apalagi harus memahami dan memberikan kesimpulan, mereka akan blank tetapi karena seringnya mendengar dan melihat mereka mampu memberikan kesimpulan akan jalannya cerita tersebut.

Demikian juga dengan sinetron yang sedang ditayangkan di layar lebar bangsa ini mulai kasus korupsi, narkoba, penistaan agama dan yang tidak kalah serunya adalah sinetron bersambung “Terorisme”.

Sutradara pembuat sinetron terorisme ini tidak pernah kehabisan ide untuk memunculkan artis-artis terkenal yang mampu mengalahkan ketenaran artis Hollywood gaya Amerika atau artis Bollywood ala India.

Masyarakat Indonesia mulai dari anak-anak sampai manula kenal siapa bintang film “Rambo” dan “Mahabarata”. Dan sekarang pun mereka sangat kenal dengan nama bintang sinetron “Terorisme” mulai dan Noordin M Top, DR. Azhari, Santoso dan yang lagi in hari ini adalah Bahrun Naim.

Coba bayangkan setiap tahun mesti penangkapan terhadap orang-orang yang diduga sebagi pelaku aksi terorisme yang kemudian dihubungan dengan tokoh sentral tersebut, jadi wajar kalau masyarakat Indonesia hari akrab dengan nama-nama terebut.

Mari kita coba buka lembaran-lembaran kasus terorisme mulai dari tahun 2012 sampai 2016 dan setiap akhir tahun.

Sebagaimana dilansir voaindonesia, satuan Jihandak Gegana Brimob Polda Sulawesi Tengah berhasil menjinakkan sebuah bom aktif, Selasa (25/12/2012). Bom aktif yang di samarkan dalam wadah tas laptop berwarna hitam, ditemukan oleh Polisi yang hendak bertugas pada pukul enam pagi waktu Indonesia Tengah. Bom tersebut diletakkan oleh orang tidak dikenal di laci meja yang berada di dalam Pos Pengamanan Natal dan Tahun Baru, di Jalan Pulau Sumatera, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso.

Dari hasil penguraian bom yang berhasil dijinakkan tersebut, Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Eko Santoso mengungkapkan bahwa bom tersebut merupakan bom aktif yang di picu dengan timer yang dapat diaktifkan dengan menggunakan perangkat telepon genggam. Material bom terdiri dari serbuk putih yang dikemas dalam jerigen berkapasitas lima liter, dua buah detonator, serta 550 paku berbagai ukuran.

Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri menangkap tiga tersangka teroris yang disinyalir akan melakukan aksi teror di Hari Natal dan pergantian tahun baru 2014

“Kelompok ini antara lain yang diperkirakan akan melakukan aksi di Hari Natal dan tahun baru. Kita waspadai agar mereka tak sempat lakukan aksi,” ujar Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/12), demikian dikutip dari rmol.

Densus berhasil menangkap Dodi kuncoro (31), tersangka teroris di Sukoharjo, Jawa Tengah, sudah merencanakan aksi pengeboman untuk mengacaukan malam pergantian tahun. Sebuah kafe di Kota Solo menjadi target sasaran pengebomannya.

“Dari hasil pemeriksaan, tersangka memang sudah merencanakan pengeboman di salah satu kafe di Solo. Dia sudah survei lokasi tersebut tiga kali,” ujar Kepala Bidang Penindakan Densus 88 Polri Kombes Ibnu Suhendra saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (27/12/2014).

Sebagaimana dilansir joglosemar, teroris kelompok Badri Hartono ini juga sudah menyiapkan rangkaian bahan peledak untuk aksi pengeboman pada malam tahun baru di kafe di Solo itu. “Rencananya dia akan ngebom dari jarak jauh menggunakan timer,” imbuhnya.

Beruntung, tersangka sudah tertangkap sebelum melakukan aksi pengeboman tersebut. Namun saat ini Polri masih mewaspadai ancaman terorisme di malam pergantian tahun nanti, sebab masih ada yang belum tertangkap.

Zaenal, 35 tahun, salah satu tersangka teroris asal Sulawesi yang ditangkap pada Jumat, 19 Desember 2015, di Tasikmalaya, Jawa Barat, diduga diplot menjadi pelaku bom bunuh diri pada malam tahun baru di pengujung bulan ini.

Menurut informasi yang diperoleh Tempo, bom akan dibikin di Bandung lantas diledakkan pada malam tahun baru di Jakarta. Bom, yang oleh pelaku disandikan sebagai “donut”, rencananya dibuat Iwan alias Koki asal Padang. Nah, Zaenal-lah yang akan menjadi “pengantin” alias pelaku bom bunuh diri itu.

Iwan dan satu rekannya ditangkap polisi pada Jumat siang sekitar pukul 13.00 di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah (Banjar-Majenang). Setelah itu, petugas dari Polda Jawa Barat dan Densus 88 Mabes Polri menangkap Zaenal dan Asep Urip, 31 tahun, pukul 16.30 WIB ketika sedang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio di jalan sekitar Kampung Cihaji, Kelurahan Purbaratu, Kecamatan Purbaratu, Tasikmalaya. Ketika itu, mereka akan pergi ke acara pengajian di Kota Batik, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan bahwa Asep Urip dan Zaenal menyiapkan bom bunuh diri pada akhir Desember 2015. “Mereka tidak eksplisit menyebutkan apakah untuk Natal atau tahun baru,” ujarnya kepada Tempo hari ini, Minggu, 20 Desember 2015. Badrodin tak menjawab soal siapa yang akan menjadi pengantin.

Tim Densus 88 Antiteror menggerebek persembunyian terduga teroris di rumah terapung di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Terduga teroris itu diduga akan beraksi pada saat malam pergantian tahun.

“Para terduga teroris akan merencanakan aksi pidana terorisme pada hari raya Natal dan Tahun Baru 2017,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar saat dimintai konfirmasi detikcom, Minggu (25/12/2016).

Itu data-data kasus terorisme mulai dari 2012 sampai 2016 dengan tema yang sama yaitu ingin melakukan aksi di hari natal. Coba kita kaji kasus terorisme dengan kasus kejahatan yang lain.

Bagi yang (dulu) rajin nonton program berita kriminal ‘SERGAP’ di RCTI, pasti kenal sosok Bang Napi dengan celoteh khasnya: “ingat…kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada KESEMPATAN. Waspadalah… Waspadalah.”

Begitulah Teori Kejahatan diperkenalkan oleh para kriminolog. Bahwa NIAT dan KESEMPATAN adalah faktor yang bisa mendorong seseorang untuk melakukan tindak kejahatan.

NIAT ada, KESEMPATAN tidak ada; maka sulit bagi seseorang utk melakukan tindak kejahatan. Begitu juga sebaliknya, KESEMPATAN ada, tapi NIAT tidak ada; maka tidak akan terjadi tindak kejahatan.

Sekarang mari kita perhatikan teori tersebut dengan logika yang sangat sederhana. Jika memang para ‘teroris’ itu benar-benar ber-NIAT melakukan serangan bom, kenapa harus memilih waktu disaat KESEMPATAN yang tersedia sangat terbatas/sempit?

Benarkah para terduga aksi terorisme punya niat atau mereka dipaksa untuk berniat melakukan aksi menuruti sang sutradara. Alangkah bodohnya mereka kalau hanya mengikuti scenario sinetron ini. (Baca: Dollar Memperlancar Drama Terorisme di Indonesia)

Padahal masalah terorisme merupakan masalah yang besar dan urgen bagi Negara-negara di dunia dan masalah ini pun menjadi fokus utama bagi Indonesia di tahun 2017.

Sebagaimana dilansir tempo, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pada 2017, kepolisian akan memfokuskan kinerja pada beberapa sektor. “Terorisme masih menjadi fokus kepolisian, lalu narkoba, terutama bandar-bandar besar,” katanya di Mabes Polri, Rabu, 28 Desember 2016.

Menurut Tito, fokus kinerja tersebut bukan berarti mengesampingkan program-program prioritas lainnya. Persoalan pelayanan publik, pemberantasan korupsi, konflik pilkada, perdagangan manusia, konflik suku ras agama, serta kejahatan konvensional juga menjadi perhatian.

Menurut Tito, khusus untuk terorisme, pihaknya bakal serius. Sebab, dari catatan 2016, terjadi peningkatan mencapai 170 kasus terorisme dibanding pada 2015, yang sekitar 82 kasus. Namun ia mengklaim ancaman terorisme telah diatasi dengan cukup baik. Misalnya pada bom Sarinah, pelumpuhan kelompok Santoso yang tinggal 10 orang, serta pengungkapan terorisme menjelang Natal dan tahun baru.

Menurut Tito, dengan anggaran pada 2017 sekitar Rp 84 triliun, pihaknya mampu meningkatkan kinerja. Ia menilai langkah preventif bakal digencarkan untuk mencegah tindakan-tindakan melawan hukum. Dia menyatakan anggaran belanja modal, yang mencapai Rp 43 triliun, juga akan mampu meningkatkan kinerja para anggota kepolisian.

 

Kesimpulan

Berdasarkan data dan info di atas bisa kita simpulkan dengan pertanyaan yaitu

  1. Murnikah aksi terorisme yang ada di Indonesia atau memang ada scenario dan sutradaranya?
  2. Sampaikan kapan sinetron “Terorisme” berakhir?

(Jp)

%d blogger menyukai ini: