Sketsa News
Home Berita, Headlines, Opini Polemik Sebuah Buku “JOKOWI UNDERCOVER”

Polemik Sebuah Buku “JOKOWI UNDERCOVER”

Sketsanews.com, Jakarta – Pada akhir tahun 2016 NKRI “digoyang” oleh sebuah buku yang berjudul “Jokowi Undercover”. Terlepas benar tidaknya isi dari buku tersebut, masyarakat butuh sebuah klarifikasi dari seorang Jokowi.

Walaupun pada akhirnya, Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi Undercover, telah ditahan penyidik Bareskrim Polri. Ia ditangkap setelah menjalani pemeriksaan di Polsek Tunjungan, Jawa Tengah, pada Jumat 30 Desember 2016 lalu.

Sementara, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan sebelum dimuat dalam sebuah buku, tulisan Bambang Tri yang dianggap fitnah dan kebohongan itu sudah lebih dulu diunggah di akun facebook-nya pada 2014 lalu. Oleh karenanya, pada September 2016 lalu, penyidik langsung mengumpulkan alat bukti untuk memproses hukum Bambang Tri.

Beberapa persoalan yang diangkat dalam buku tersebut adalah:
1. Jokowi anak salah satu tokoh PKI Widjiatno alias Nyoto.
2. Ibu kandung Jokowi bukan Sudjiatmi, melainkan se-Ibu dengan Michael Bimo (keturunan PKI). Sedangkan Sudjiatmi adalah ibu tiri Jokowi.
3. Jokowi memalsukan data saat pencalonan Presiden Tahun 2014.

Ancaman Hukuman Bagi Bambang Tri:
1. Pasal tentang penghapusan Ras dan Etnis, Undang-undang ITE
Ancaman : 5 Tahun penjara dan denda Rp.500juta

2. Pasal tentang penyebaran kebencian dan rasa permusuhan
Ancaman : 6 Tahun penjara dan denda Rp. 1 milyar

3. Pasal tentang penghinaan penguasa negara, pasal 207 KUHP
Ancaman : 1 Tahun 6 Bulan penjara

Beberapa Pakar pun angkat bicara:

Anggota Komisi III DPR RI, Taufiqulhadi meminta agar ditangkapnya Bambang Tri atas kasus buku “Jokowi Undercover” tidak hanya diselesaikan sampai di tingkat kepolisian atau permintaan maaf saja.

Kadivhumas Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, Sejak 2014 saudara Bambang Tri ini sudah menulis. Dalam kesimpulan sementara dari analisis konten yang ada, bahwa buku ini tidak terdukung data primer dan sekunder yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga dugaan kuat pelanggaran hukum semakin kuat dari hasil proses analisis konten dan adanya keterangan ahli yang sudah diambil.

Direktur Institute for Criminal Justice Reform, Supriyadi Eddyono mengatakan hukum pidana adalah upaya terakhir apabila upaya-upaya lainya telah gagal. Dia menganggap kasus ini bisa ditangani Kejaksaan Agung dengan melarang peredaran buku tersebut. bbc.com.

Untuk sementara kita tinggalkan Bambang Tri dengan kasus dan hukumnya. Sekarang kita lihat kasus Mario Teguh dengan Kiswar. Berbulan-bulan terjadi konflik diantara mereka. Tetapi hanya dengan tes DNA perseteruan diantara mereka berubah menjadi sebuah kedamaian.

Nah, ada baiknya jika Jokowi menempuh jalan sebagaimana yang dijalani oleh Mario Teguh dan Kiswar. Hal tersebut akan bisa menyelesaikan teka-teki yang ada. Karena inti dari buku Bambang Tri adalah anggapan adanya aliran darah PKI ditubuh Jokowi.
(ip)

%d blogger menyukai ini: