Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Tari Sining akan Masuk Kurikulum Pendidikan di Aceh Tengah

Tari Sining akan Masuk Kurikulum Pendidikan di Aceh Tengah

Tari Sining akan Masuk Kurikulum Pendidikan di Aceh Tengah

Sketsanews.com, Takengon – Tari Sining yang merupakan salah satu tarian masyarakat di dataran tinggi tanoh Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, yang sempat hilang dalam beberapa dekade terakhir, kini coba dihidupkan kembali oleh para pelaku seni di daerah tersebut.

Anak Kobath salah seorang pelaku seni dan budaya Gayo kepada RRI menjelaskan, Tari Sining merupakan tari menggambarkan gerakan burung wo, yang pada masa lalu ditampilkan pada saat pelantikan Reje (kepala kampung) maupun saat akan mendirikan rumah.

“Kalau untuk Reje biasanya sebelum mereka dilantik akan dibawa ke laut (danau) untuk dimandikan kemudian di tepung tawar, disaat itulah ada hiburan yaitu tari sining, sedangkan untuk pembangunan rumah biasa dilakukan para lelaki dewasa diatas kayu pada tiang rumah panggung yang biasanya dilakukan secara spontanitas,” jelasnya, Jumat (13/01/2017). Seperti dikutip dari RRI.

Hanya saja kini tari yang dilakukan para laki-laki dewasa itu kini telah hilang, adapun dokumen terakhir tentang penari sining adalah Ceh Sahak, yang membawakan tari tersebut di lapangan Musara Alun, Takengon pada tahun 1972, untuk itu pada tahun 2017 ini tari sining direncanakan masuk dalam kurikulum Pendidikan.

“Tari Sining ini akan dimasukan ke kurikulum di sekolah-sekolah baik tingkat SD hingga SMA Sederajat, bahkan juga ke Perguruan Tinggi di sini, mestinya ini sudah berjalan tapi kita masih menunggu SK dari pusat untuk diberikan kepada beberapa pelatih yang akan mengajarkan tarian ini,” katanya.

Tari sining sendiri pada tahun 2016 lalu, juga masuk dalam program revitalisasi budaya yang hampir punah, yang diselenggarakan Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Propinsi Aceh.

Terdapat Empat seni asal propinsi paling barat Indonesia itu yang masuk dalam program tersebut yakni Landok Sampot (Aceh Selatan), Tari Laweut (Banda Aceh), Rapa’i Geurimpheng (Pidie) dan Tari Sining (Aceh Tengah). (Al)

%d blogger menyukai ini: