Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat, News Kemenkes Kerahkan Dokter Spesialis Kejiwaan untuk Korban Gempa Aceh

Kemenkes Kerahkan Dokter Spesialis Kejiwaan untuk Korban Gempa Aceh

Pasien yang merupakan korban gempa dirawat di RS Umum Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (8/12). Gempa 6,5 SR yang berpusat di Pidie Jaya, Aceh pada Rabu (7/12), mengakibatkan 97 orang tewas, ratusan orang luka-luka dan ratusan bangunan rusak berat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/16.

Sketsanews.com, Jakarta – Kementerian Kesehatan mengerahkan enam dokter spesialis kejiwaan sebagai bagian dari penanggulangan pasca gempa bumi di Aceh.

“Enam dokter itu akan berkoordinasi dengan Pusat Krisis, Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Dinkes Provinsi Aceh, serta pemangku kepentingan lain untuk penanganan masalah kesehatan jiwa dengan program jangka pendek dan jangka panjang,” kata Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes Fidiansyah, Senin (12/12), seperti dilansir dari aktual.com

Dia menyebutkan beberapa kegiatan yang dilakukan tim dokter kejiwaan, seperti melakukan pertolongan pertama psikologi melalui pengukuran cepat sehingga didapat data awal status kesejahteraan jiwa setiap individu dan keluarga.

Tim dokter, kata dia, juga melakukan sinergi dan harmoni dengan program kesehatan fisik dan lingkungan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar sandang, papan, dan pangan berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.

Selain itu, lanjut dia, tim turut mewujudkan suasana kondusif dan produktif untuk kegiatan sehari-hari, seperti belajar bagi usia sekolah dan bekerja bagi usia produktif.

Dukungan terapi juga diberikan bagi kelompok yang membutuhkan, seperti terapi bermain serta bercerita bagi anak-anak, konseling individual, dan kelompok bagi usia dewasa.

Tim kesehatan, kata Fidi, juga bertugas memberi layanan kesehatan jiwa yang terintegrasi dengan layanan fisik. Selain itu, tim dokter kejiwaan Kemenkes memberi layanan rujukan ke RSU-RSJ terhadap gangguan jiwa berat dan melakukan intervensi terhadap orang-orang dengan stres berat.

Fidi mengatakan bahwa tim bertugas secara terpadu pada tanggal 11 hingga 20 Desember, baik di posko induk maupun “mobile” di 46 titik pengungsian.

“Program jangka panjang dilakukan sebagai pemantapan program jangka pendek disertai penguatan jejaring sistem pencegahan dan pengendalian masalah keswa secara menyeluruh dan berkesinambungan.”

(Fya)

%d blogger menyukai ini: