Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, News Menjaga Ekosistem Bakau di Taman Nasional Sembilang

Menjaga Ekosistem Bakau di Taman Nasional Sembilang

Sketsanews.com Sumut – Hijau, segar, dan kokohnya pepohonan bakau adalah pemandangan yang terlihat sepanjang pesisir pantai Sumatra Selatan. Jejeran pohon bakau itu sangat tertata apik.

Habitat pohon tersebut sangat berkuasa di kawasan itu, bahkan termasuk di kawasan Taman Nasional Sembilang yang didominasi sebagian adalah hutan bakau.

Tak hanya pesisir pantai, habitat pohon bakau juga terjaga di sepanjang kawasan sungai yang berada di Taman Nasional tersebut. Ada salah satu perkampungan masyarakat yang berada di salah satu lokasi Taman Nasional itu yakni Dusun IV Sembilang Desa Sungsang VI, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin dan berbincang dengan warga sekitar.

Saat wartawan ini mendatangi lokasi pwrkampungan itu, ternyata hampir semua masyarakat mengandalkan mata pencahariannya dari perairan di sekitar wilayah itu.

Salah satu warga Dusun IV Sembilang Desa Sungsang VI, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Khairuddin menjelaskan, rata-rata warga yang tinggal di dusun tersebut adalah nelayan. “Kami disini hidup dan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, baik ikan, kepiting dan berbagai jenis hewan air lainnya. Disini adalah salah satu tempat yang ikannya cukup banyak dan melimpah,” jelasnya.

Selain di perairan laut, banyak juga warga yang lebih memilih mencari ikan di sekitar sungai dan disekitar hutan bakau. Jenis ikan yang biasa didapati yakni ikan sembilang, ikan bungkak, kepiting, udang, dan sebagainya. Ikan-ikan dan hewan air ini banyak mencari makanan di sekitar hutan bakau, karenanya itu adalah tempat yang paling banyak disinggahi ikan-ikan. Sehingga kami pun mencari ikan-ikan disana. Hasilnya alhamdulillah,” ungkap dia.

Karena hal itu juga, semua warga dusun sangat konsisten dalam menjaga kelestarian hutan bakau. Diakuinya, tidak ada satu pun warga yang merusak hutan bakau tersebut. Begitupun yang ditekankan kepada warga di luar kawasan Sembilang yang biasa mencari ikan di lokasi itu.

Kepala Dusun IV Sembilang, Yunan Alwi menuturkan, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan kelestarian ekosistem hutan bakau sangat kental. Meski bakau biasanya tumbuh dengan sendirinya, namun banyak juga masyarakat yang membantu menanam bibit bakau di sekitar kawasan tersebut.

“Bibit bakau yang biasanya jatuh dengan sendirinya itu oleh warga dibantu dicolok (ditanam) ke tanah lumpur yang ada disekitarnya. Warga juga ada yang membatasi area pertumbuhan bakau baru dengan jaring-jaring agar tidak ada manusia yang menyandarkan perahu diatas areal tanam itu,” jelasnya.

“Bibit bakau yang biasanya jatuh dengan sendirinya itu oleh warga dibantu dicolok (ditanam) ke tanah lumpur yang ada disekitarnya. Warga juga ada yang membatasi area pertumbuhan bakau baru dengan jaring-jaring agar tidak ada manusia yang menyandarkan perahu diatas areal tanam itu,” jelasnya.

Penanaman bibit bakau juga kerap dilakukan warga bersama elemen-elemen atau instansi yang kerap datang mengunjungi Taman Nasional tersebut. Bahkan pernah anak-anak sekolah dengan warga sekitar datang dan menanam bibit bakau di lokasi tersebut.
“Perhatian pemerintah cukup besar ke daerah tersebut. Sebab apabila hutan bakau ini rusak maka hasil perikanan pun akan berkurang. Ini juga yang menjadi perhatian dan kesadaran masyarakat setempat,” terang dia.

Menurut dia, warga sekitar sangat peduli dengan kelestarian lingkungan karena selain ikan dan hewan air, daerah tersebut juga menjadi tempat hidup bagi beberapa hewan lainnya. Seperti burung migran, harimau, beruang, babi hutan dan sebagainya. Dijelaskan Yunan, di dalam dusun tersebut ada sebanyak 472 kartu keluarga dengan 1.340 jiwa didalamnya dan semua adalah nelayan sementara ada juga lima persen diantaranya yang berdagang di daerah tersebut.

Salah satu pengelola Taman Nasional Sembilang sekaligus Pengendali Ekosisten Hutan Taman Nasional Berbak Sembilang, Agus Prabowo menjelaskan, ada beberapa zona yang berada di kawasan Taman Nasional Sembilang itu yakni zona rimba, zona inti, zona rehabilitasi, dan zona tradisional.

Semua masyarakat yang tinggal di daerah tersebut sudah disosialisasi dan memahami atas pembagian zona tersebut. “Zona tradisional adalah zona yang bisa mereka diami. Zona lainnya tidak diperbolehkan. Zona tradisional juga tidak boleh diperluas. Artinya yang ada saat ini maka itulah zona yang tetap dan tidak boleh ada penambahan bangunan dan sebagainya,” jelasnya, dikutip dari Mediaindonesia

Hutan bakau di wilayah Taman Nasional Sembilang ini merupakan potensi keanekaragaman hayati dan fauna. Ada Harimau Sumatra, burung migran, dan sebagainya. “Ada sekitar 87 ribu hektar hutan bakau disini. Dan semuanya dalam kondisi baik. Disini bukan hanya ada berbagai ikan yang boleh ditangkap, ada juga hewan air yang dilindungi dan tak boleh dijarah atau ditangkap. Seperti ikan blangkas, penyu, ikan napoleon dan lainnya,” terangnya.

Yang ditekankan lagi, kata dia, nelayan dilarang menangkap ikan dengan sistem yang tidak seharusnya seperti meracun atau mengebom. Karenanya di wilayah tersebut nelayan hanya menggunakan sistem tradisional untuk menangkap ikan.

Demi menjaga itu, pihaknya terus melakukan pengembangan kemitraan masyarakat. Sebab tidak menutup kemungkinan masih banyak tangan-tangan jahil yang melakukan ilegal logging ataupun ilegal fishing.

%d blogger menyukai ini: