Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Cegah Penganiayaan di STIP Terulang, Begini Upaya Kemenhub

Cegah Penganiayaan di STIP Terulang, Begini Upaya Kemenhub

Lima tersangka kasus penganiayaan di STIP (Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom)

 

Sketsanews.com, Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tak ingin peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Amirullah Adityas Putra terulang kembali. Untuk itu, Kemenhub melakukan berbagai upaya pembenahan di lingkungan sekolahnya.

“Ada beberapa langkah yang dilakukan, pertama kegiatan ekstrakurikuler drum band dan pedang pora dibekukan hingga batas waktu yang belum ditentukan,” kata Kepala Informasi dan Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan.

Ervan menjelaskan kedua kegiatan ekstrakurikuler tersebut merupakan kebanggaan para taruna di sekolahnya. Oleh karena itu ekstrakurikuler ini rawan kekerasan.

“Ektrakurikuler ini jadi kebanggaan makanya kalau ada juniornya yang kurang serius atau apa dilakukan pembinaan oleh seniornya. Inilah yang langsung dihilangkan,” papar dia.

Sebenarnya, kata Ervan, latihan disiplin tidak hanya diberlakukan pada kedua ekstrakurikuler itu. Lantaran mereka diberikan pendidikan kepemimpinan sebagai bekal mereka menjadi perwira kapal.

“Ya kalau untuk latihan disiplin bukan hanya dua itu, tapi semua kegiatan. Mereka diberikan kemampuan memimpin bawahan sebagai perwira kapal,” terang Ervan.

Dia menambahkan kemampuan kepemimpinan tersebut menjadi bekal para taruna jika menjadi perwira kapal. Dengan bekal tersebut mereka bisa memimpin komando.

“Jika dia punya bawahan dia punya kemampuan mengendalikan bawahannnya, kemampuan kepemimpinan untuk komando itu. Kepemimpinan itu yang disalahgunakan,” sambung dia.

Ervan mengatakan langkah antisipasi kedua dilakukan dengan cara memisah taruna tingkat pertama dengan taruna senior. Untuk taruna tingkat pertama akan dipindahkan ke Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Yang biasa terjadi kekerasan kan senior kepada juniornya, sehingga tidak dipertemukan. Kalau yang sepantaran mereka kan kenal dan punya kesetaraan, lain dengan junior mereka tidak berani melawan,” terangnya.

Ervan menambahkan pengawasan di lingkungan kampus juga akan diperketat. Ervan mengakui pengawasan di lingkungan sekolahnya memang sudah diperkaya dengan CCTV hanya saja penjagaan petugas di lapangan masih minim.

“Petugasnya akan ditambah saat ini jumlahnya berapa masih kami diskusikan. Sebenarnya sudah ada penjaga kenapa masih lolos dilakukan (penganiayaan),” tegas Ervan.

Ervan menjelaskan selama ini STIP menyediakan rumah dinas bagi pengurus sekolah. Hanya seringkali pengurus, ketua sekolah, tidak berada di lokasi.

“Ketua sekolah itu harus tinggal di kampus, hanya kadang-kadang (dia) keluar,” sambung dia.

Selain Amirullah, ada lima siswa taruna lain yang juga diduga sebagai korban penganiayaan. Mereka adalah Ahmad Fajar, Ilham Wally, Bagus Budi Prayoga, Josua Simanjuntak dan Benny Syahril.

Mereka diduga dianiaya di Dormitory 4 kamar DM-205 lantai 2 STIP. Polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka akibat kejadian ini. Kelima orang tersebut adalah Sisko Mataheru, Willy Hasiholan, Iswanto, Akbar Ramadhan, dan Jakario. (Ad)

 

(sumber : Detik.com)

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: