Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hankam, Headlines, News, Opini Benarkah Dendam Kesumat Anton Charlyan kepada Umat Islam Diawali dari Kasus Siyono???

Benarkah Dendam Kesumat Anton Charlyan kepada Umat Islam Diawali dari Kasus Siyono???

Sketsanews.com – Berawal dari Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto yang membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3/2016).

Siyono meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta yang sebelumnya melakukan perjalanan selama 2 jam melakukan pencarian tersangka lain, akhirnya anggota membawa tersangka kembali karena hasilnya nihil. Namun di perjalanan tersangka melakukan perlawanan terhadap anggota dan menyerang anggota yang mengawal dan akhirnya terjadi perkelahian di dalam mobil. Detik.com, 12 Maret 2016.

Suratmi, istri Siyono, akhirnya datang untuk mengadukan ketidakadilan yang diterima suaminya kepada PP Muhammadiyah. “Saat di Jakarta saya sempat diminta menandatangani surat, tidak membawa kasus ini ke hukum, tidak meminta otopsi dan diminta mengikhlaskan. Ada lima poin seingat saya, Tapi saya tidak mau tanda tangan,” ujar Suratmi dalam pertemuan di kantor PP Muhammadiyah.

Suratmi menegaskan, dia tidak mau menandatangani surat tersebut karena merasa janggal dengan kematian suaminya dan ingin menuntut keadilan. Menurut dia, suaminya meninggal tanpa proses hukum. Kompas.com, 29 Maret 2016.

Pernyataan Tim Pembela Kemanusiaan PP Muhammadiyah, yang menilai adanya kejanggalan dalam proses penetapan tersangka kepada Siyono dan kematian Siyono. Dan selanjutnya melakukan proses otopsi terhadap mayat Siyono.

Hal tersebut membuat Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charliyan “kebakaran jenggot” dan angkat bicara di Gedung Mabes Polri. Anton mengatakan yang meninggal pentolan kelompok teroris. Barang siapa yang membela artinya membela teroris. Jelas pernyataan tersebut membuat luka di hati orang islam yang berkeinginan mengungkap kebenaran. Merdeka.com, 14 Maret 2016.

Sontak penyataannya menimbulkan kecaman dari berbagai pihak;

1.Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai, pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Pol Anton Charliyan yang justru sebagai teror. Dahnil menilai, munculnya pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri itu tidak lebih sebagai akrobat opini semata. Yakni dengan menuduh pihak-pihak tanpa dasar dan fakta yang jelas. “Panik ketika ada fakta yang mampu dibuka oleh kelompok masyarakat tentang apa yang sesungguhnya terjadi,” katanya menambahkan.

Menurut dia, tudingan ini juga sebagai kedangkalan bernalar Anton. Menurutnya, ada upaya yang dilakukan untuk mengarahkan opini publik dengan medelegitimasi para pihak yang berusaha mengungkap fakta sesungguhnya. Viva.com, 6 April 2016.

2. Anggota Komisi III DPR, Habib Aboe Bakar Al Habsy, mendesak agar Anton dipecat dari kepolisian. Menurut dia, bahasa yang digunakan Anton sudah sangat fatal sebagai seorang jenderal bintang dua.

“Kalau omongan Kadiv Humas itu layaknya dipecat. Enggak pantas ngomong menyatakan itu. Ini enggak punya kosakata yang bagus. Bintang dua lagi. Cara berbahasanya ke publik sudah salah. Apalagi calon Kapolda,” kata Aboe Bakar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (12/4).

Politikus PKS ini menyayangkan pihak Polri dan Densus 88 yang terlalu jauh berspekulasi dalam kasus kematian Siyono. Siyono dianggap jaringan teroris tapi belum ada pembuktian di pengadilan. Bahkan tewas setelah ditangkap Densus 88 dengan hasil autopsi terjadi sejumlah tindak kekerasan terhadap Siyono.

“Kami antiteroris, tapi kami ingin penegakan hukum teroris berjalan dengan baik. Jangan sampai yang dibunuh lebih banyak daripada yang diadili,” tuturnya. Merdeka.com, 12 April 2016.

3. Anggota Komisi III DPR Didik Mukriyanto menyayangkan pihak aparat justru menciptakan ketakutan terhadap pengungkapan kasus ini. Menurutnya, banyak pihak yang ditekan secara moral.

“Seharusnya kita semuanya dan negara mampu dan hadir dalam membina masyarakat kita. Ini terkait dengan bahwa kalau memang teroris terjadi, bagaimana upaya deradakalisasi. Deradikalisasi ini penting bukan hanya memunculkan rasa takut, bukan hanya memunculkan preasure. Bukan deradakalisasi menimbulkan rasa takut tapi membangkitkan kesadaran seseorang,” terangnya. Merdeka.com, 12 April 2016.

Akhirnya pada bulan April itu juga Irjen Pol Anton Charliyan diberhentikan dari Humas Polri.

Dari uraian diatas, sangatlah wajar jika Irjen Pol Anton menaruh dendam dengan Umat Islam. Dia dianggap sebagai pejabat Polri yang tidak kompeten ketika memberikan pernyataan tentang Kasus Siyono. Dianggap sebagai pembohong karena telah memberikan keterangan palsu terkait kematian Siyono.

Dan ketika bertugas sebagai Kapolda Jabar, dia merangkap sebagai pembina LSM GMBI.  Kedudukan tersebut dimanfaat untuk mengakomodir Masa LSM GMBI hadir sebagai saingan FPI.

Dengan bukti status Facebook Dejoey Alesandro yang menyatakan bahwa kepergiannya ke Polda Jabar seijin Kapolsek Jatibarang dan jajarannya, yang mana Jatibarang adalah wilayah Jabar.

Sementara dalam acara Audensi GNPF MUI dengan Komisi III DPR RI, Habib Rizieq mengatakan “Saya kurang paham, bagaimana GMBI bisa hadir bahkan masuk ke dalam Polda Jabar, sementara kami tidak boleh masuk ke dalam areal Polda Jabar. Jadi cukup mengejutkan, mereka berlalu lalang di dalam Polda Jabar dan mereka berdiri di belakang pasukan pengaman, bahkan ada yang memegang senjata tajam.

Jelaslah bahwa Kapolda Jabar terlibat dalam pengerahan Masa GMBI sebagai saingan FPI yang diakhiri dengan agenda pengeroyokan beberapa anggota dari FPI.

(ip)

 

%d blogger menyukai ini: