Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News Membuka Tabir Musuh Besar Indonesia

Membuka Tabir Musuh Besar Indonesia

 

Sketsanews.com – Indonesia adalah Negara kepulauan yang terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia. Indonesia juga diapit oleh dua samudera yakni samudera Hindia dan Pasifik. Secara geografis Indonesia jelas menduduki posisi yang silang dan mengakibatkan memiliki nilai yang sangat strategis dalam hubungan dengan dunia internasional.

Kepulauan Indonesia terletak pada posisi silang, yakni di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia; serta di antara dua samudera, Samudera Hindia dan Samudera Indonesia. Prinsip geopolitik ini adalah bahwa bangsa Indonesia memandang wilayahnya sebagai ruang hidupnya namun bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk memperluas wilayah negara Indonesia senantiasa satu dan utuh. Kepentingan nasional itu merupakan turunan lanjut dari cita-cita nasional, tujuan nasional, maupun visi nasional. Makna geopolitik posisi silang Indonesia itu dapat dilihat dari beberapa aspek seperti di bawah ini:

  1. Ideologis: Indonesia berada di antara ideologi kapitalisme di Selatan dan komunis di sebelah utara;
  2. Politik: Indonesia berada diantara dua sistem politik yang berbeda, yaitu demokrasi Australia dan demokrasi Asia Selatan;
  3. Ekonomi: Indonesia berada di antara sistem ekonomi liberal Australia dan sistem ekonomi sentral Asia, sehingga Indonesia menjadi inti jalur perdagangan lalu lintas dunia, menjadi jalur transportasi negara-negara lain, dan menjadi sumber devisa di bidang perekonomian. Karena posisi strategis Indonesia ini mempermudah hubungan dengan negara lain, ikatan dagang Lalu lintas perdagangan damai dan lancar;
  4. Budaya: Sebagai sumber penghasilan di bidang pariwisata yang juga membawa pengaruh budaya dari Negara lain.
  5. Sistem Pertahanan: Indonesia berada di antara sistem pertahanan maritim di selatan, dan sistem pertahanan kontinental di utara.

Indonesia di Asia Pasifik

Dalam kajian geopolitik meskipun belum sepakat bahwa persaingan global Amerika Serikat (AS) versus Cina di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, akan mengarah pada konflik bersenjata sebagaimana diprediksi oleh Dr Samuel Huntington pada dekade  1990-an.  Namun  ada  satu  trend  global  yang  saat  ini  tidak  terbantahkan: Persaingan global antar negara-negara adidaya, yaitu antara AS versus Cina-Rusia, telah  bergeser  dari  kawasan  Timur  Tengah  dan  Asia  Tengah,  ke  kawasan  Asia Pasifik.  Artinya,  Asia  Pasifik  akan  menjadi  “Medan  Perang”  baru  berbagai kepentingan  negara-negara  adidaya.  Sehingga  Indonesia,  otomatis  juga  akan menjadi “Sasaran Arena Pertarungan” berbagai negara-negara adidaya.

Karena itu, sudah seharusnya para “Pemangku Kepentingan” Kebijakan Luar Negeri kita mulai mempertimbangkan kembali nilai strategis Indonesia secara geopolitik, seraya menjadikannya sebagai landasan penyusunan kebijakan-kebijakan strategis terkait politik luar negeri dan perekonomian nasional. Sehingga bisa memainkan peran  aktif  dan  aktor  yang  sadar  geopolitik,  dalam  mengantisipasi  terjadinya pergeseran konsentrasi pertarungan global dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah ke Asia Pasifik.

Andaikan kita menyimak dan menyelami pandangan dan analisis para founding fathers kita, Bung Karno dan Dr Sam Ratulangie, tren global yang saat ini tengah berlangsung, semestinya tidak mengagetkan kita lagi. Pada 1930-an, Bung Karno sudah mengingatkan betapa strategisnya kawasan Asia Pasifik di kelak kemudian hari:

“Bahwa Asia-Pasifik akan jadi pusat-nya dunia, perang lautan teduh adalah babak pembuka Kemerdekaan Asia Raya. Kelak Eropa hanya jadi benua tua yang sakitsakitan sementara Asia Pasifik akan tumbuh bak gadis molek yang menghantui setiap pikiran ‘lelaki.’

Malalui sekelumit ungkapan ini, jelaslah Sukarno sudah meletakkan pandangan geopolitiknya yang amat menjangkau masa depan. Terbukti sekarang Asia Pasifik jadi rebutan antara Amerika Serikat dan Cina, dan perang beneran kemungkinan akan meletus karena Cina sudah memperkuat armadanya di laut Nanyang (Laut Selatan Cina) sementara Amerika Serikat sudah membuka armada siap tempur di Darwin Australia.

Siapa Musuh Besar Bangsa Indonesia Sebenarnya

Berdasarkan kajian diatas maka bisa ditarik benang merah bahwa kekuatan besar yang sangat berhasrat menguasai dunia hari ini adalah Amerika Serikat dan China. Dan Indonesia pun tidak luput dari incaran mereka yang mana hari ini mereka dengan membawa ideology mereka berusaha ingin menguasai Indonesia.

Lantas bagaimana mereka menguasai Indonesia?

Sebelum kita masuk bagaimana strategi mereka menguasai bangsa ini, alangkah baiknya melihat kembali bagaimana bangsa Yahudi menggenggam dunia. Kenapa demikian, karena para penguasa atau penjajah akan meniru gaya yang dimainkan oleh pendahulunya.

Konspirasi dalam Perjalanan Sejarah

Berawal dari terkuaknya konspirasi modern pada tahun 1784 yang mengakibatkan seluruh dokumen rahasia jatuh pada pemerintahan Bavaria. Peristiwa itu terjadi setelah Adam Weiz Howight, salah seorang tokoh pendeta Kristen terkemuka dan profesorTheologi pada Universitas Angold Stadt di Jerman murtad dari agamanya. Ia kemudian mengikuti faham Atheisme.

Pada tahun 1770 tokoh-tokoh Yahudi Jerman menemukan Adam Weiz Howight sebagai seorang cendekiawan yang paling tepat untuk dimanfaatkan, demi kepentingan Yahudi. Mereka segera menghubungi Howight untuk selanjutnya memberi tugas penting, agar Howight bersedia meninjau Kitab Protokol tokoh-tokoh Zion klasik, kemudian menyusunnya kembali berdasarkan prinsip modern sebagai langkah untuk menguasai dunia, yaitu dengan meletakkan faham Atheisme dan menghancurkan seluruh ummat manusia. Lebih jelasnya, untuk menghancurkan bangsa lain selain Yahudi (Gentiles),yaitu dengan menyalakan api peperangan dan pembunuhan massal (genocide),pemberontakan dan membentuk organisasi teroris berdarah dingin, di samping menghancurkan pemerintah yang berlandaskan prinsip kemanusiaan.

Tahun 1776 Howight telah menyelesaikan tugasnya dengan cemerlang, dengan meletakkan dasar-dasar sebagai landasan program berdarah sebagai berikut:

  1. Menghancurkan pemerintah yang sah, dan mendongkel ajaran agama dari pemeluknya.
  2. Memecah-belah bangsa non-Yahudi (Gentiles) menjadi berbagai blok militer yang saling bermusuhan terus-menerus, dengan menciptakan berbagai masalah antara blok-blok itu, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, budaya, ras dan seterusnya.
  3. Mempersenjatai blok-blok agar saling menghancurkan.
  4. Menanamkan benih perpecahan dalam suatu negeri, kemudian memecah-belah lagi menjadi berbagai kelompok, yang saling membenci. Dengan begitu, sendi-sendi agama dan moralitas serta materi yang mereka miliki akan terkuras habis.
  5. Mewujudkan seluruh cita-cita yang telah disusun secara bertahap, yaitu menghancurkan pemerintah sah serta norma-norma susila, termasuk ajaran agama dan moralitas yang menjadi pegangan masyarakat. Ini merupakan langkah pertama untuk menabur benih pergolakan, kebejatan dan kekejaman.

Perhatikan bagaimana yang dilakukan oleh bangsa Amerika Serikat terhadap Negara-negara di dunia termasuk Indonesia tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Bagaimana Amerika Serikat menguras habis seluruh kekayaan Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Salah satu bentuk penjajahan neoliberalisme di negeri kita adalah kasus Freeport, yang untuk kesekian kalinya mencuat ke permukaan. Nampaknya kali ini kesabaran masyarakat Papua tak terbendung lagi, sehingga protes-protes yang muncul diwarnai dengan demonstrasi beruntun dan bahkan bentrok fisik dengan aparat TNI/Polri.

Kontrak Karya (Contract of Work Area) yang ditangani pemerintah Orde Baru telah mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan rakyat. Sejak awal kehadiran Freeport di Mimika Papua (7 April 1967) telah memicu konflik, terutama dengan masyarakat suku Amungme dan Komoro. Perlakuan yang tidak akomodatif dari pemerintah dan pihak Freeport terhadap tuntutan masyarakat setempat telah memicu protes-protes yang berkepanjangan.

Lokasi pertambangan di daerah Ertsberg (gunung bijih tembaga) Papua pertama kali ditemukan oleh seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda, Jean Dory, pada 1936. Kemudian dilanjutkan dengan ekspedisi Forbes Wilson pada 1960, yang menemukan kembali Ertsberg. Freeport sendiri pertama kali melakukan penambangan pada Desember 1967, pasca Kontrak Karya I (April 1967). Ekspor pertama konsentrat tembaga terjadi pada Desember 1972. Kemudian pada 1986 ditemukan lagi sumber penambangan baru di Grassberg (gunung rumput) yang kandungan bahan tambangnya jauh lebih besar. Kandungan bahan tambang emas yang terdapat di situ adalah yang terbesar di dunia.

Diperkirakan kuantitas produksi yang dapat diperoleh Freeport dalam sehari adalah 185 ribu sampai 200 ribu ton bijih tembaga dan emas. Singkatnya, Freeport dapat mengeruk dari kedua lokasi tersebut sekitar 30 juta ton tembaga dan 2,744 miliar gram emas. Bila dihitung secara kasar dengan standar harga per gram emas 100 ribu rupiah, berarti nilai emas yang terkandung di bumi Papua sekitar 270 triliun rupiah. Itu baru dari emas saja, belum produk tambang lainnya.

Kenyataan ini jelas sekali membuat Freeport semakin berhasrat untuk memperpanjang Kontrak Karya. Oleh karena itu, dibuatlah Kontrak Karya II pada Desember 1991, yang memberikan hak kepada Freeport untuk menambang selama 30 tahun dengan kemungkinan perpanjangan selama 2 kali 10 tahun. Dengan demikian, Kontrak Karya II ini akan berakhir pada 2021; jika diperpanjang, maka akan berakhir pada 2041.

Namun ironisnya, masyarakat daerah dan negara tak memperoleh hasil yang proporsional dari pertambangan tersebut. Kontribusi Freeport kepada APBN (hingga 2005) hanya 2 triliun rupiah pertahun (sekitar 0,5 persen dari total dana APBN), di mana saham negara hanya 9,36% dan sisanya dimiliki perusahaan Amerika tersebut. Sungguh, nilai yang sangat minim untuk ukuran perusahaan raksasa seperti Freeport, yang penghasilannya pada 2005 mencapai 4,2 miliar dolar (sekitar 42 triliun rupiah).

Kantor berita Reuters memberitakan bahwa empat bos besar Freeport minimal menerima bagian 126,3 miliar rupiah perbulan. Chairman perusahaan itu, James R. Moffet, menerima lebih dari 87,5 miliar rupiah perbulan. Sedangkan President Directornya, Andrianto Machribie, menerima sekitar 15,1 miliar rupiah perbulan. Dan tak dipungkiri bahwa para pejabat pemerintahan Orde Baru juga memperoleh bagian yang menggiurkan.

Freeport bahkan dengan leluasa memanfaatkan aparat keamanan dari TNI dan Polri untuk menghadapi aksi protes masyarakat. Untuk itu, Freeport telah mengucurkan dana yang sangat besar bagi aparat keamaan, yang telah beralih fungsi menjadi bodyguard atau centeng itu. Koran The New York Times memberitakan bahwa Freeport telah membayar sekitar 30 juta dolar kepada TNI dan Polri antara 1998 dan 2004. Lebih dari itu, Freeport juga telah menjejali hingga puluhan dan ratusan ribu dolar ke kantong sejumlah pejabat militer senior. Bahkan pada 2003 Freeport juga mengakui telah membayar TNI dan Polri sebesar 11 juta dolar antara 2001 dan 2002. Karenanya, kerap terjadi pelanggaran HAM di lokasi sekitar penambangan.

Namun ironis sekali, pemerintah kita justru terus membela keberadaan Freeport di Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Freeport selalu memberi laporan data kinerja perusahaan kepada pemerintah Indonesia, sehingga tak ada alasan untuk menutup perusahaan Amerika tersebut. Masalahnya, seberapa jauh kejujuran mereka dalam memberikan laporan itu.

Itu baru dari sisi ekonomi Indonesia sudah tidak punya kekuatan apapun. Bagaimana bangsa Amerika Serikat memecah belah bangsa ini dengan memunculkan drama terorisme yang tidak tahu sampai kapan drama ini selesai. Mungkin pemerintah Indonesia akan menolak kalau ada campur tangan Amerika, namun perlu diingat kembali kata-kata presiden Amerika Serikat “Stick and Carrot”, “You are with me or you are with terrorist” Dari kata-kata itu jelas tersirat bahwa siapa yang tidak bersama Amerika berarti bersama teroris dan Indonesia memilih bersama Amerika dengan terus memerangi teroris ala Amerika.

Sebagaimana dilansir tempo, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pada 2017, kepolisian akan memfokuskan kinerja pada beberapa sektor. “Terorisme masih menjadi fokus kepolisian, lalu narkoba, terutama bandar-bandar besar,” katanya di Mabes Polri, Rabu, 28 Desember 2016.

Menurut Tito, fokus kinerja tersebut bukan berarti mengesampingkan program-program prioritas lainnya. Persoalan pelayanan publik, pemberantasan korupsi, konflik pilkada, perdagangan manusia, konflik suku ras agama, serta kejahatan konvensional juga menjadi perhatian.

Menurut Tito, khusus untuk terorisme, pihaknya bakal serius. Sebab, dari catatan 2016, terjadi peningkatan mencapai 170 kasus terorisme dibanding pada 2015, yang sekitar 82 kasus. Namun ia mengklaim ancaman terorisme telah diatasi dengan cukup baik. Misalnya pada bom Sarinah, pelumpuhan kelompok Santoso yang tinggal 10 orang, serta pengungkapan terorisme menjelang Natal dan tahun baru.

Menurut Tito, dengan anggaran pada 2017 sekitar Rp 84 triliun, pihaknya mampu meningkatkan kinerja. Ia menilai langkah preventif bakal digencarkan untuk mencegah tindakan-tindakan melawan hukum. Dia menyatakan anggaran belanja modal, yang mencapai Rp 43 triliun, juga akan mampu meningkatkan kinerja para anggota kepolisian.

Strategi Komunis Menguasai Indonesia

Apabila kita mengkaji sejarah masa silam berkenaan dengan bagaimana PKI mampu menguasai pemerintahan orde lama, dari sana bisa ditemukan titik pangkal penyebab mereka mengendalikan penguasa pada saat itu karena ketidakstabilan perekonomian, program pembangunan nyaris tidak jalan, kemiskinan dan kebodohan merajalela. Kondisi ekonomi yang serba rumit itu lebih diperparah lagi dengan munculnya berbagai pemberontakan seperti DI/TII dan PRII-Permesta.

Kondisi itu dimaksimalkan PKI untuk mengembangkan perekrutan massal anggotanya. Di bidang pertanian, PKI mendorong kader-kadernya untuk melakukan reclaiming lahan, mendorong Soekarno untuk melakukan program Land Reform. Janji bagi-bagi lahan menjadi program utama PKI.

Demikian pula kondisi hari ini, kondisi ekonomi yang tidak jelas ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperburuk kondisi masyarakat. Diantara strategi yang dilakukan oleh mereka dengan memberikan dana kepada orang-orang tertentu sebagai ujung tombak mereka melancarkan aksinya.

Strategi pertama menguasai kekayaan alam dengan memberikan dana, buktinya masalah proyek reklamasi pulau G.

Ceritanya, pulau hasil reklamasi, Pulau G sudah dijual ke Hongkong. Dari kepulauan yang sudah diserahkan Inggris ke Republik Rakyat Cina (RRC), pengusaha Pulau G, Agung Podomoro Land (PT.Wisesa) yang dimiliki Sugianto Kesuma alias AGuan, diperoleh dana segar sekitar Rp 40 Triliun dari lembaga keuangan disana.

Dari dana yang diperoleh itu diserahkan kepada AHok Rp 12 triliun, nah yang Rp 10 triliun itu diserahkan AHok kepada Megawati. Dari dana itu pengusaha yang memperoleh hak atas tanah reklamasi Pulau G, diwajibkan juga membangun 40 ribu rumah susun. “Pulau (reklamasi) G itu gak boleh gagal atau dibatalkan. Siapapun yang membatalkan atau menggagalkannya, jangankan AHok, Jokowi pun, pasti kami lengserkan. Enak aja udah terima, mau batalkan proyek itu,”ujar informan itu menirukan kata-kata pengusaha tersebut.

Desas desus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri menerima uang Rp 10 Triliun, mulai tampak titik terangnya. Seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang diketemui informan indonesiapolicy.com menyatakan info tersebut valid.

Strategi berikutnya adalah dengan memasukan orang-orang asing di seluruh penjuru nusantara yang mana dengan kehadiran mereka menambah maraknya peredaran narkoba, prostitusi dan sabotase.

Pengamat kebijakan publik Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah mengatakan bahwa Indonesia harusnya belajar dari Tibet. Sejak 700 tahun lalu, China sangat berbaik hati sama Tibet. Dengan gaya yang terkesan santun, China membantu Tibet dalam membangun infrastruktur.

Proyek dikerjakan militer China, yang dikirim ke Tibet sebagai pekerja pada proyek-proyek investasi pembangunan kereta api, jalan dan lain-lain. “Namun, pada saat yang sudah ditentukan para pekerja itu mengeluarkan senjata mereka menodong polisi dan tentara, sampai akhirnya peradaban di Tibet hancur.”

Dengan pola yang sama, Amir Hamzah melihat hal ini juga sedang dijalankan China di Indonesia kini. Selain berinvestasi di Indonesia, investor China juga telah menyelundupkan para militer China ke Indonesia dengan dalih tenaga kerja proyek.

Dan kini, daerah pesisir Indonesia, dari Pelabuhan Belawan Bagian Timur Sumatera kemudian masuk ke Banten, sampai akhirnya sampai ke Surabaya, sekitar 97 persen telah dikuasai oleh China.

“Dan tidak mustahil apartemen-apartemen tempat-tempat tertentu di pesisir pantai itu mereka gunakan sebagai tempat persembunyian mereka untuk mengintai perairan Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian, katanya, di Sulawesi Tengah ada Pabrik Nikel yang cukup besar, yang bahkan dari 6.700 pegawai 5.000 di antaranya merupakan pegawai dari China. Belum lagi di Banten dan di Katapang.

Strategi berikutnya adalah menghancurkan umat Islam di Indonesia karena Islam merupakan kekuatan yang real di Indonesia bersama TNI dan Polri.

Dan kondisi hari ini yang sedang terjadi di Indonesia adalah bentuk nyata dari rencana mereka dengan cara membenturkan umat Islam dengan TNI maupun Polri. Ini seharusnya disadari oleh semua pihak yang mana sejatinya mereka sedang menghancurkan atau menghilangkan umat Islam.

Mereka berusaha sekuat tenaga dan berbagai cara yang penting rencana mereka berhasil, kita dapat lihat bagaimana maraknya sentimen anti islam dilancarkan melalui konspirasi global, agen-agennya AWaS, kader-kader Moerdani dan komunis. Lihat bagaimana oknum-oknum KPK ditunggangi mereka untuk menghancurkan simbol-simbol islam melalui kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh partai islam.

 

Kita lihat bagaimana media-media massa dimanfaatkan utk membonsai tokoh-tokoh Islam dan mengorbitkan tokoh-tokoh sekuler sebagai IKON di tengah-tengah masyarakat. Kita lihat bagaimana media massa sangat gencar mengeksploitasi aib para ulama, ustad dan tokoh Islam, baik yang riel atau pun jadi-jadian. Karena Indonesia sekarang menganut demokrasi liberal dimana kekuasaan harus diraih melalui partai politik, aktifis-aktifis komunis ramai-ramai masuk partai.

Partai yang paling mengakomodir para tokoh-tokoh komunis ini adalah PDIP. Karena romantisme sejarah atau pun karena pertimbangan praktis. Tokoh-tokoh eks PRD, FORKOT dan ormas-ormas lain berpaham kiri, sosialis utopis, komunis, ramai-ramai masuk PDIP. Sekarang mereka mau kuasai PDIP.

Faksi komunis di PDIP semakin menguat ketika PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC). PDIP mengirim kader-kadernya belajar ke PKC. Sedikitnya tiga kali atau 3 gelombang pengiriman kader-kader PDIP belajar PKC China. Disana mereka belajar dan merevitalisasi ideologi komunis.

Kesimpulan

Berdasarkan data dan fakta diatas sejatinya musuh besar bangsa ini adalah Amerika Serikat dengan mengusung ideology liberalisme dan China dengan komunisme nya. Dan hari ini bangsa Indonesia sedang terninak bobokan dengan belaian tangan-tangan halus berhati harimau yang suatu saat pasti akan memangsanya.

(Bz)

  • EKHY GBJKT22514

    Saya terinspiratif dan sangat agree dengan topik tulisan ini.

%d blogger menyukai ini: