Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism Perang Dingin Kapolda Metro Jaya Dengan Menteri Pertahanan Indonesia

Perang Dingin Kapolda Metro Jaya Dengan Menteri Pertahanan Indonesia

Sketsanews.com – Diibaratkan sebuah dagangan, maka seorang pelaku bisnis tentunya akan gencar melakukan promosi barang yang akan dijualnya. Caranya pun bervariasi, ada yang ditawarkan langsung dengan lisannya/lisan orang lain, ada yang lewat perantara media baik itu cetak (berupa tulisan maupun gambar) ataupun media elektronik. Sangat naif jika ia meniadakan faktor promosi jika mengharapkan dagangannya laku dipasaran.
Demikian juga dengan dagangan yang berupa ‘pemikiran’. Si pemilik (atau paling tidak orang yang sejalan dengan pemikirannya) akan gencar melakukan berbagai terobosan agar pemikirannya dapat diterima oleh orang banyak.
Akhir-akhir ini pemikiran “kiri” kembali mencuat setelah sekian lama “menghilang”, kemunculan kembali PKI juga dapat diawali dengan maraknya simbol-simbol mereka yang tiba-tiba mencuat di masyarakat. Penggunaan simbol palu arit atau pun yang terkait dengan komunis, bisa diancam sampai dengan 20 tahun.

Namun ada saja orang yang tidak mempercayai akan kebangkitan PKI yang jelas-jelas mulai menampakkan batang hidungnya kembali di bumi indonesia ini.
Mengutip pernyataan Irjen Iriawan kepada pers bahwa: “Faktanya kan tidak ada, udah tidak ada PKI, tidak ada, bagaimana bisa bangkit, kita tahu juga embrio kalau ada,” Selasa (24/1/2017).
Mungkin saja Kapolda Metro Jaya tidak membaca berita, tapi apa mungkin sekelas Kapolda ti

dak tahu ? Atau kemungkinan informasi yg masuk kepadanya berasal dari orang-orang paham kiri yang selalu berusaha menutupi kebusukan pemikirannya, bisa jadi ? Atau bisa juga, sebenarnya ia tahu desas desus PKI mau bangkit lagi, namun sengaja tidak mengatakannya dihadapan media massa, agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Kemungkinan pertama, Selevel Kapolda tapi tidak tahu/ tidak membaca berita adalah tidak mungkin. Kita buka internet kemudian ketikkan kata “PKI”, maka segala macam yang berbau PKI akan muncul. Ambil contoh: beredarnya video penangkapan seorang pemuda berkendaraan motor, yang di jaketnya disematkan PIN dengan logo palu arit (PKI). Mau contoh lagi, beredarnya kaos warna merah dengan sablon logo PKI yang dipakai oleh masyarakat di tempat umum. Mau bukti lagi, ahh capek nulisnya…googling saja sendiri, engkau akan menemukannya.
Kemungkinan kedua, Kapolda tidak tahu karena informasi yang masuk kepadanya berasal dari orang-orang paham kiri. Kemungkinan ini bisa saja terjadi, dan ini membuktikan betapa lemahnya intelijen di institusi POLRI. Benar apa yang dikatakan Jendral (Purn) Kivlan Zein, bahwa antek PKI telah menyusup di segala lini, termasuk di pemerintahan. Beberapa bulan yang lalu pernah ada wacana untuk membubarkan Babinsa (persis kata DN Aidit yang meminta pembubaran Babinsa kepada pemerintah RI kala itu, karena Babinsa adalah pertahanan Pemerintah tingkat bawah, dengan tiadanya Babinsa maka PKI akan mudah bergerak di tingkat bawah).
Kemudian kalo desas desus kebangkitan PKI itu sengaja ditutupi, maka yang akan dirugikan adalah masyarakat, karena mereka tidak akan siap dengan kondisi terburuk, semoga saja itu tidak akan terjadi.
Klaim Irjen Iriawan di atas, bertolak belakang bahkan dinilai melecehkan temuan fakta yang dibeberkan oleh Menhan Ryamizard Ryacudu kepada publik.
Seperti dilansir Republika Online, Kamis 02 Juni 2016, Ryamizard mengatakan pihaknya memiliki hasil intelijen TNI yang menunjukkan kebangkitan PKI dan memiliki fakta-fakta yang lengkap akan indikasi tersebut.
“Kita kan Angkatan Darat, kita kan lengkap fakta-fakta segala macam. Coba lihat pakai baju kaus palu arit, pawai-pawai bubarkan teritorial, nginjek-nginjek patung revolusi, itu kan kelihatan menunjukkan diri. Artinya, tidak boleh,” ujar Ryamizard.
Upaya membangkitkan Partai Komunis Indonesia (PKI) terus bermunculan. Kali ini, lewat media sosial Facebook seseorang membuat akun yang menantang Tentara Nasional Indonesia. Akun dengan nama Partai Komunis Indonesia @NeoPKI itu sesumbar bakal menundukan TNI.
“Lini-lini strategis kepolisian sudah berada di tangan kami sepenuhnya, selanjutnya akan kami tundukkan TNI,” tulis akun tersebut.
Akun dengan gambar lambang pancasila, bintang, serta palu arit itu dibuat pada 23 Januari 2017.
Dalam waktu dua hari, akun ini diikuti oleh 214 orang serta disukai 165 orang. Akun ini juga mempunyai puluhan postingan. Postingan tersebut mengisyaratkan kebangkitan PKI. Mereka bahkan mengenalkan nama ketua dan wakil PKI.
“Perkenalkan Ketua Umum PKI WAHYU SETIAJI di juluki Aidit Muda dan Wakil Ketua TEGUH KARYADI di juluki Nyoto Muda. Mari “kembali kerumah kita,”
Mereka juga mempunyai komitmen untuk menggiring opini jika ulama dan negarawan pelaku makar.
“Kami akan terus giring opini bahwa kaum nasionalis dan ulama adalah pelaku makar. Kalian hanya bisa berteriak di media sosial dan melakukan demonstrasi saja tanpa tau harus berbuat apa lagi selain itu. Sedangkan kami sudah mencengkram lini-lini pemerintahan Jokowi,” ancamnya.
Tak hanya itu saja, aku ini menyebut jika 15 juta orang PKI telah bangkit. Namun pemerintah tidak melakukan apa-apa.
“15 juta orang PKI siap bangkit, lagi-lagi kalian hanya bisa teriak tanpa bisa berbuat apa-apa,” tutupnya.
“Parameter itu sudah ada kok. Kemungkinan-kemungkinan akan terjadi pun kita mampu prediksi. PKI ini kan tiap tahun kalau mau 17 Agustus itu kan pasti ada (mencuat) minta maaf, minta maaf. Ini jangan ini. Bahaya. Dari zaman SBY, Bu Mega, Gus Dur. Ada itu,” tutur Ryamizard dalam pertemuan di Gedung Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (6/6/2016).

Sangatlah tidak pantas jika Indonesia mengambil keputusan meminta maaf kepada PKI. Sebab, merekalah yang dengan jelas berbuat ulah dan membantai para tokoh pada masa itu.

Menhan juga menyinggung ketetapan MPRS dengan nomor TAP/XXV/MPRS/1996, yang mengatur tentang larangan ideologi marxisme/leninisme/komunisme, sebagai ideologi terlarang dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara.
Bukti lain, dengan ditemukannya dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target mendirikan negara komunis di Indonesia, ditemukan ahli sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi.
Menurut dia, fakta yang sebenarnya justru ada dalam buku kecil atau buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis CC (Comite Central) PKI pada 1957, yang merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI tentang negara komunis di Indonesia.
“Buku yang saya temukan itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumorpun diembuskan untuk mengaburkan fakta,” katanya.
Testimoni berbagai pihak itu mungkin benar, namun testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui skenario besar dari PKI untuk merancang tiga revolusi dengan goal untuk mendirikan negara komunis di Indonesia.
Oleh karena itu, hendaknya masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung media massa untuk “membesarkan” PKI guna mengaburkan sejarah dengan menghalalkan segala cara.
(Fya)

%d blogger menyukai ini: