Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News ‘The Last Barongsai,’ Menaruh Harapan pada Barongsai Terakhir

‘The Last Barongsai,’ Menaruh Harapan pada Barongsai Terakhir

Sketsanews.com Jakarta– Kho Huan (diperankan Tyo Pakusadewo) terpaku saat tangannya memegang surat undangan kejuaraan Barongsai yang terus datang dari tahun ke tahun. Namun, ia tampaknya tidak sedikit pun tertarik untuk membacanya.

Ia kemudian membuka lembar surat lain yang diterima. Kali ini berisikan pengumuman tentang anaknya, Gunadi atau Aguan (diperankan Dion Wiyoko) yang mendapatkan beasiswa kuliah ke Singapura.

Bangga akan hal itu, ia pun mendukung sepenuhnya agar sang anak dapat meneruskan pendidikannya. Namun, untuk dapat mengklaim beasiswa itu, Aguan masih harus menyelesaikan administrasi dan persyaratan awal ke Singapura.

Di sisi lain, sebagai etnis Cina Benteng yang tinggal di Tangerang, Banten keluarga Kho Huan dulunya adalah pendiri sanggar Barongsai. Aguan berpikir, bila ia pergi menimba ilmu ke negeri seberang, siapa yang akan meneruskan sanggar itu

Apalagi sanggar itu sempat terlantar setelah wafatnya sang ibunda. Kho Huan sendiri menyesal, karena merasa tak mampu menghidupi keluarganya dari sekadar bermain Barongsai.

Barongsai pun menjadi pelampiasan kemarahan pada dirinya. Dari tahun ke tahun Kho Huan menyembunyikan surat undangan kejuaraan Barongsai dari Aguan. Ia tak ingin anaknya terjebak dan bergantung hidup dari membesarkan budaya Barongsai, seperti dirinya.

Tapi Aguan tak sengaja menemukan surat kejuaraan yang disembunyikan sang ayah. Dilema menghampiri Aguan. Meneruskan studi atau memuaskan gairah bermain barongsai yang ada dalam darahnya. Ia yang keras kepala pun bersikukuh untuk ikut kejuaraan.

Sementara dalam dirinya, masih tersimpan keinginan untuk terus bersekolah.

Kho Huan yang mengetahui itu, berjanji sebisa mungkin mencarikan biaya dan meminta Aguan melupakan barongsai. Tapi haruskah warisan budaya dan sejarah keluarga itu dilupakan?

Eksekusi Kurang Berani
Dengan tujuan melestarikan warisan budaya barongsai dari etnis Tionghoa yang mulai hilang, film ini kurang memberikan visual atas kondisi yang terjadi.

Ario Rubbik sebagai sutradara terlalu terang-terangan menyampaikan pesan itu secara verbal, melalui dialog antar pemain. Tapi tidak ada dukungan visual atas apa yang ingin disampaikannya.

Dalam salah satu dialog misalnya, disebutkan bahwa Kho Huan tak setuju bila barongsai diteruskan dengan tampil mengamen di pusat perbelanjaan. Ario ingin mengungkapkan bahwa kini telah terjadi peralihan makna terhadap warisan budaya.

“Barongsai itu seperti ondel-ondel, mulanya dianggap sebagai sesuatu yang sakral tapi kemudian sekarang sudah berubah makna dengan ditemukan di mal dan jalan-jalan,” katanya.

Sayangnya, realita saat ini tak dimunculkan oleh Ario.

Tak ada visual bahwa barongsai saat ini ramai mengamen dipusat-pusat perbelanjaan. Cerita hanya berkutat pada konflik keluarga bahwa Gunadi tak diizinkan meneruskan budaya karena ia harus mengutamakan pendidikan.

Namun setidaknya, kegigihan Aguan untuk mempertahankan budaya menjadi suatu bentuk pesan kuat tersendiri. Apalagi Ario memunculkannya dengan ironi bahwa yang muda lah yang justru bersikukuh untuk memilih budaya.

Dari fakta itu Ario seolah ingin menyampaikan pesan, memang sepatutnya yang muda yang harus menjadi penerus budaya agar terus lestari.

Penggarapan Kurang Maksimal

Tidak hanya cerita yang dieksekusi kurang baik dengan Ario, akting dari sejumlah pemeran yang sudah cukup sering menandai keterlibatan dalam film layar lebar pun kurang digali dengan baik.

Seperti halnya pada Dion. Bila membandingkan dengan aksinya sebagai anak keturunan Tionghoa dengan sikap kerasnya dalam film Cek Toko Sebelah, emosi dalam karakternya di film ini ada yang tertahan, seperti tak sepenuhnya tereksplorasi dalam diri Dion.

Akting pemeran-pemeran pendukung pun sama halnya. Mereka tak digali untuk tampil lebih natural. Hal yang paling menonjol adalah peran dari Vinessa Ines dan Furry Citra yang terlalu kaku.

Terlebih saat keduanya beradegan saling mengeluhkan keresahan. Tak hanya emosi yang tidak tersampaikan, visualnya pun cukup buruk. Kamera tampak goyang dan kentara kalau itu hanya diambil dari satu sudut kamera yang kemudian bergerak mengambil sudut pandang lain.

Belum lagi, saat adegan kehadiran sosok ibu Aguan yang telah meninggal dan hadir lewat mimpi. Ketulusan ibu pada anaknya tidak tampak dalam adegan itu. Ekspresinya di sana begitu kaku dan datar.

Meski demikian, keterlibatan komedian Azis Gagap boleh diberikan apresiasi. Perannya cukup mencairkan suasana dan memberi kesegaran di tengah film itu.

Belum lagi adanya kehadiran Rano Karno dan Suti Karno, yang menandai kembali aksi mereka di depan kamera. Dengan banyolan khas Betawi, kehadiran mereka pun mengobati kerinduan akan peran mereka di Si Doel Anak Sekolahan.

Boleh dibilang, The Last Barongsai terselamatkan berkat penampilan Rano, Suti, dan Azis yang terasa lebih natural.

Secara garis besar, tujuan Ario untuk mengangkat budaya yang mulai ditinggalkan cukup baik. Hanya saja, perlu pendalaman yang lebih matang untuk menghadirkan cerita yang ditemukannya menjadi sebuah film yang memukau. (Ags)

%d blogger menyukai ini: