Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Kisah Asisten Rumah Tangga Indonesia Kabur dari Kengerian Aleppo

Kisah Asisten Rumah Tangga Indonesia Kabur dari Kengerian Aleppo

Sri Sunarsih meninggalkan desanya di Banten untuk memperbaiki nasib. Namun dia justru terjebak enam tahun dalam kengerian Perang Saudara di Suriah.

Sketsanews.com, Banten – Sri Sunarsih sedang dalam perjalanan membeli kebutuhan pokok di Pasar Kota Aleppo, saat menyadari ada yang salah. Dia menyaksikan kehadiran tentara yang lebih banyak dari biasanya di jalanan. Dia tidak tahu apakah itu tentara pemberontak atau pemerintah. Yang Sunarsih tahu, jalanan sekitar kota banyak ditutup. Suasana menjadi mencekam. Seorang perempuan muda memberinya peringatan yang sulit dia pahami. “Saya langsung pulang setelah beli sayuran,” ujarnya saat dihubungi VICEIndonesia.

Insiden itu terjadi pertengahan 2012. Perubahan drastis menyelimuti Suriah. Aleppo—Kota terbesar sekaligus pusat perekonomian Suriah—menjadi wilayah mengalami kekerasan paling parah sepanjang perang saudara enam tahun terakhir. Pemberontak, kelompok teroris, serta pasukan loyalis Presiden Basyar al-Assad semua memperebutkan Aleppo. Kehancuran di mana-mana. Saat ini, kota terbagi dua. Pasukan pemerintah Suriah menguasai sisi utara, sementara pemberontak bertahan di kawasan timur Aleppo.

“Siang malam saya bisa mendengar suara ledakan bom dan peluru,” kata Sri Sunarsih dengan suara bergetar. “Bom pernah meledak di dekat rumah, menghancurkan kaca-kaca dan perabotan.”

Menurut PBB, lebih dari 100 ribu warga sipil masih terjebak di Aleppo. Banyak orang, termasuk anak-anak kekurangan pasokan bahan makanan. Jet tempur pemerintah Suriah melancarkan pemboman dari udara, di distrik-distrik yang dikuasai pemberontak. Kini, yang tersisa sepanjang mata memandang hanyalah puing-puing.

Di tengah kekacauan itulah, Sunarsih turut terjebak. Dia adalah satu dari tujuh orang buruh migran rumah tangga yang berhasil diselamatkan pemerintah Indonesia dari Aleppo, Suriah pada awal Januari lalu. Perempuan kelahiran 1987 asal Serang, Banten ini awalnya bekerja sebagai penjaga konter ponsel. Dengan alasan ingin mengubah garis hidup, Sunarsih memutuskan pergi ke luar negeri tanpa keahlian khusus.

Dia masuk ke Suriah pada 2009. Seperti ratusan ribu TKI lainnya, dia dikirim secara ilegal. Sang ayah yang mengatur keberangkatan melalui agen TKI kenalan. Sunarsih tidak tahu jika akan dikirim ke Suriah. Sang agen tidak memberikan informasi apapun. Dia tidak tahu soal kontrak kerja, dokumen keimigrasian, ataupun negara tujuan. Bahkan jumlah gaji pun dia tidak paham.

“Pas pertama datang ke Suriah, kota Aleppo ini indah. Saya memang jarang pergi ke luar. Paling cuma belanja sayuran. Kebetulan rumah dekat pasar,” kata Sunarsih. Kegiatan sehari-hari Sunarsih cuma mengurus rumah dan memasak. Dia tidak pernah menonton televisi, apalagi tahu soal kondisi politik di Suriah.

Perang yang tiba-tiba menyapa, dengan semua kengeriannya, memaksa Sunarsih belajar cara bertahan hidup.

“Siang malam saya bisa mendengar suara ledakan bom dan peluru,” kata Sri Sunarsih dengan suara bergetar. “Bom pernah meledak di dekat rumah, menghancurkan kaca-kaca dan perabotan.”

Kehidupan awal di Suriah berlangsung normal bagi Sunarsih. Dia tinggal bersama majikan di sebuah rumah bertingkat dua di dekat pusat kota Aleppo. Sunarsih mengaku betah. Sang majikan memperlakukannya dengan baik, tak pernah melakukan kekerasan fisik meski dia tak pernah digaji selama bekerja di masa perang.

Suara ledakan bom dan desingan peluru menggema di seantero kota adalah keseharian Sunarsih. Bangunan yang dulunya indah kini hancur lebur. Puing-puing menghampar. Orang-orang tercerabut dari tempat tinggalnya, tidur di sudut-sudut kota dan jalanan. Terkadang jam malam juga diberlakukan tanpa pernah dia ketahui alasannya.

“Sudah dua tahun belakangan ini kami menggunakan mesin diesel untuk listrik, itu pun cuma sampai jam 12 malam. Setiap tiga hari sekali majikan saya membeli air dari tukang keliling,” kata Sunarsih. “Harga barang-barang jadi mahal sekali. Kalau untuk makan sih masih bisa. Kami sudah tidak pernah membeli barang-barang lain kecuali bahan makanan.”

Dua anak mendorong keranjang barang di utara Aleppo. Foto oleh Khalil Ashawi

“Awal terjadi perang saya takut sekali dan sering menangis. Selama hampir delapan tahun saya tidak bisa mengontak keluarga di kampung. Tapi sekarang sudah terbiasa,” kata Sunarsih terbata-bata.

Pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus, Solahudin, mengatakan saat ini pihaknya masih belum memiliki data presisi jumlah TKI yang akurat yang masih berada di Suriah. “Para TKI ini kebanyakan memakai dokumen palsu ketika berangkat dari Indonesia. Data pastinya masih berada di tangan pemerintah Suriah,” kata Solahudin. Sejak 2012, KBRI telah merepatriasi 12.576 WNI yang sebagian besar TKI dari Suriah dalam 282 gelombang.

Indonesia memberlakukan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah sejak 2011. Namun hingga kini gelombang TKI yang masuk ke Timur Tengah, terutama Suriah, tetap tak terbendung. “Pemerintah Suriah tidak mengakui moratorium, jadi TKI yang masuk dianggap legal karena memiliki paspor, visa, bahkan ada nama agennya,” kata Solahudin.

“Sepertinya saya tidak akan pergi ke luar negeri lagi untuk bekerja. Saya ingin tinggal di kampung saja. Mungkin membuka usaha. Tapi saat ini saya cuma ingin kumpul bersama keluarga.” – Sri Sunarsih

Kelompok pemerhati hak-hak buruh dan pekerja Migrant Care mengecam lambatnya proses evakuasi TKI di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan bahwa saat ini masih ada sekitar 15 ribu tenaga kerja yang terjebak di Suriah. Menurut Anis, ketiadaan data selalu dijadikan alasan atas lambatnya evakuasi.

Solahudin mengatakan bahwa kesulitan utama proses evakuasi tak cuma karena minimnya data TKI tapi juga situasi di lapangan. “Wilayah di Suriah itu kan terbagi-bagi. Ada yang dikuasai pemerintah, ISIS, dan milisi pemberontak. Ini tentu menyulitkan,” kata Solahudin.

Sejak 22 Desember 2016, Aleppo sudah nyaris 100 persen direbut kembali pasukan pemerintah Suriah. Jatuhnya Aleppo ke tangan loyalis Presiden Assad membuat Turki dan Rusia memfasilitasi perundangan damai serta gencatan senjata. Perjanjian itu seringkali dilanggar kedua pihak. Setidaknya KBRI memiliki kesempatan mengevakuasi tujuh WNI yang masih terjebak di sana, termasuk Sri Sunarsih.

Sri Sunarsih mengaku tidak tahu akan dipulangkan ke Tanah Air. Awal tahun ini, dirinya tiba-tiba dijemput salah seorang pengacara KBRI. Sebelum meninggalkan rumah, sang majikan memberikan beberapa bulan gaji. Itu uang terakhir yang tersisa, karena perang menguras semua harta benda majikan Sunarsih. Uang tak seberapa itu menjadi kado perpisahan mereka.

Indonesia sejak dua tahun lalu sudah mendirikan posko/shelter di Aleppo untuk mendata dan menampung sementara para TKI. Pihak KBRI, kata Solahudin, juga bekerja sama dengan pengacara dan aktivis untuk mencari dan melobi para majikan agar menyerahkan tenaga kerjanya.

“Sepertinya saya tidak akan pergi ke luar negeri lagi untuk bekerja,” kata Sri. “Saya ingin tinggal di kampung saja. Mungkin membuka usaha. Tapi saat ini saya cuma ingin kumpul bersama keluarga. Saya bahkan belum memberitahu keluarga kalau saya mau pulang.”

(Wis)

%d blogger menyukai ini: