Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Opini 212 adalah Wujud Nyata Ke-bhinneka Tunggal Ika-an

212 adalah Wujud Nyata Ke-bhinneka Tunggal Ika-an

Sketsanews.com – Indonesia sedang dirundung berbagai masalah yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. Masalah-masalah tersebut merupakan peristiwa yang mungkin terjadi karena kesukuan atau bisa jadi dikarenakan oleh ketidakpuasan terhadap pemerintah khususnya pihak keamanan dalam menangani berbagai kasus.

Sebagai contoh pada hari Sabtu tanggal 20 Februari 2016 terjadi kasus kriminalitas berupa penusukan di Jl P Antasari Gg 10 Harapan RT 03 Banjarmasin Timur, yang melibatkan warga kebetulan Suku Dayak Muslim (korban) bernama Eki Persia Rianda alias Dante bin Sukarna Jaya ( Warga Dayak Ngaju Mangkatip + Dayak Bakumpai Barito Selatan ), dengan 4 orang preman mantan residivis kebetulan Suku Madura (pelaku).

Peristiwa pembunuhan ini menyebabkan korban sempat mengalami kondisi kritis dan dirawat di Rumah Sakit, namun akhirnya meninggal dunia, senin 22 Februari 2016 dini hari. Eki Persia Rianda alias Dante (Korban) dikenal sebagai seorang penjelajah alam, anak band dan juga bekerja sebagai karyawan Mazda Banjarmasin bagian marketing berusia 20 tahun.

Sebagaimana beredar isu di media social baik path, twitter maupun facebook yang sifatnya provokatif bahwa akan akan terjadi perang antar suku yang berbunyi:

“Spanduk sudah terpajang lebar di Stal Sapi belakang Ramayana sentra Antasari Banjarmasin. Seorang pemuda Dayak dibunuh oleh warga pendatang, suku Madura. Hal ini membuat seluruh suku Dayak yang ada di Kalimantan menjadi agresif…??? Mungkinkah tragedi berdarah di kota Sampit tahun 1997 akan terulang lagi di kota Banjarmasin yang dijuluki kota seribu sungai Borneo. Mereka sudah siap di daerah masing-masing tinggal menunggu instruksi pemimpin / kepala suku Dayak dari 4 Kalimantan yaitu Selatan, Barat, Timur, Utara. Sumpah mereka darah harus dibayar dengan darah, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Mereka sudah siap menuju kota Banjarmasin. Apabila dalam 20 hari pelaku belum tertangkap polisi, besar kemungkinan kota yang dijuluki kota seribu sungai akan menjadi ‘Banjir darah tragedi Sampit ke 2’ kembali terulang”.

Coba kalau kita mau perhatikan isu ini mampu memicu permusuhan antar suku dan apabila hal ini dibiarkan oleh pihak keamanan maka akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Kita akan ambil contoh lagi kasus Tolikara, ini karena keterlambatan pihak keamanan mengatasi permasalahan yang terjadi di Irian . Dan apabila kalau kita mau kasih contoh banyak peristiwa yang mengarah kepada ancaman persatuan dan kesatuan NKRI atau mengancam kebhinneka tunggal ika.

Pertanyaan yang muncul adalah apa sebenarnya yang menyebabkan KebhinnekaTunggalIkaan Indonesia terkoyak, benarkah yang menyebabkan pemecah belah bangsa adalah fatwa MUI sebagaimana yang dituduhkan oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menilai, fatwa Majelis Ulama Indonesia memiliki pengaruh cukup besar pada kehidupan bernegara. Banyak contoh positif penerapan fatwa tersebut, misalnya, untuk menentukan halal atau haramnya produk makanan.

Namun, menurut Tito, belakangan ada fatwa yang menimbulkan gejolak stabilitas keamanan. “Menarik belakangan ini ketika fatwa MUI punya implikasi luas dan dapat menimbulkan dampak terhadap stabilitas gangguan kamtibnas,” ujar Tito dalam diskusi bertajuk “Fatwa MUI dan Hukum Positif” di PTIK, Jakarta, Selasa (17/1/2017).

Mari kita lihat aksi 212 yang digawangi oleh GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) MUI, sebuah aksi super damai dalam rangka mengawal fatwa MUI tentang kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.

AKSI 212 – Keberagaman di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Beragam suku, ras, dan agama hidup berdampingan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, filosofi “Bhineka Tunggal Ika” menjadi perekat yang kuat untuk menjaga integrasi dan kesatuan bangsa Indonesia.

Jum’at 2 Desember 2016  menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Jutaan umat Islam dari berbagai provinsi Tanah Air berkumpul di Monumen Nasional (Monas) untuk menggelar Aksi Super Damai. Aksi Bela Islam jilid III merupakan wujud cinta umat Islam terhadap NKRI dalam merawat Kebhinekaan, tak seorangpun menginginkan perpecahan di negeri ini.

Mereka adalah kaum professional, Ibu-ibu majlis taklim, mahasiswa, bahkan mereka adalah orang-orang tua, semua melebur dalam lautan manusia. Muncul ukuwah ditengah-tengah Aksi, ada relawan yang siap siaga di posko kesehatan, ada pula yang berbagi makanan dan minuman, ada yang saling mengingatkan untuk tidak menginjak taman, ada yang berbagi sejadah, Ada Petugas yang saling bahu membahu dengan Aparat kepolisian dan TNI  yang mengawal dan menjaga Aksi Super Damai agar berlangsung dengan tertib dan Aman. Bahkan hingga Aksi ini berakhir tak ada sampah yang tercecer disepanjang lokasi aksi. Sebab, sejumlah peserta sengaja menyediakan kantong sampah dan sapu lidi.

Mereka secara sadar memunguti sampah dan menampungnya agar tak ada sampah yang terserak. Semua berjalan dengan tertib, dan damai. Inilah pesan yang ingin disampaikan umat islam di Indonesia kepada dunia, bahwa  umat Islam cinta damai. Aksi super Damai ini juga menepis semua tuduhan media-media mainstream menjelang aksi. Umat Islam mencintai negerinya, sangat tidak mungkin berbuat ricuh ditanah kelahirannya sendiri.

Aksi Bela Islam Jilid III yang di prakarsai oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) adalah murni wujud kerinduan umat Islam akan tegaknya keadilan di negeri ini. Rindu itulah yang juga disampaikan oleh Aa Gym dalam sebuah acara televisi, tepatnya pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC), umat islam hanya minta keadilan, itu saja esensinya. Simpel, jujur dan bernas.

Sebagai negara hukum Indonesia menganut kesetaraan warga negaranya di mata hukum. Artinya tidak ada satupun warga negara yang memiliki keistimewaan di mata hukum.  Karena hukum tidak akan mungkin tegak, jika hukum itu sendiri tidak atau belum mencerminkan perasaan atau nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakatnya.

Cita-cita keadilan dan kemanusiaan yang adil dan beradab ini terukir apik dan manis dalam sila kedua pancasila. Menjadi manusia yang beradab dan menegakan keadilan itu menjadi poin penting dalam sila kedua yang merupakan fondasi kebhinekaan kita.

Kesimpulan

Berdasarkan fakta di lapangan akan aksi 212 GNPF MUI mampu mematahkan isu yang berkembang di media bahwa fatwa MUI sebagai pemecah persatuan bangsa dan bahkan  sebaliknya bahwa aksi 212 merupakan bentuk nyata kecintaannya kepada NKRI yang berfalsafah Bhinneka Tunggal Ika.

(Bz)

%d blogger menyukai ini: