Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, News MEREKA INGIN HENTIKAN “GELOMBANG”

MEREKA INGIN HENTIKAN “GELOMBANG”

Sketsanews.com – Bagai buih di laut. Begitulah orang menggambarkan kondisi umat Islam Indonesia selama ini. Sekalipun jumlahnya mayoritas, tapi karena tidak bersatu alias terpecah2, jadilah kita bagai buih di laut…..gampang diombang ambingkan oleh kekuatan minoritas yg memiliki akses ekonomi dan politik yg kuat.

Selama bertahun-tahun umat islam terpinggirkan dan hidup tanpa rasa kebanggaan. Umat islam hanya bilangan dan angka-angka politik belaka yang didekati dan dirangkul hanya pada saat pilpres, pileg dan pilkada saja. Fungsinya hanya sebatas hewan tunggangan untuk menghantarkan seseorang ke tampuk kekuasaan. Setelah itu kita kembali dinista dan dipinggirkan. Bahkan rezim sengaja membuat dua lembaga untuk menstigma islam sebagai teroris.

Penistaan dan penghinaan terhadap umat Islam semakin massif dan sistematis dua tahun terakhir ini. Mulai dari pembunuhan alm ustad Siyono secara se-wenang2 oleh densus 88, penistaan Islam dan ulama oleh Ahok, kriminalisasi ulama, mobilisasi massa mendemo dan mengancam kesalamatan ulama dan tokoh2 Islam, mewacanakan pembubaran MUI, FPI, HTI, memblokir situs-situs Islam, menghilangkan kolom agama di ktp, sertifikasi ulama, pencabutan perda-perda syariah, dan mengintimidasi umat islam melaui UU ITE, dan banyak lagi.

Kini, pasca penistaan Islam dan ulama oleh Ahok, umat Islam se-konyong tersadar dari tidur lelapnya. Tiba-tiba mereka sadar akan potensinya. Sadar akan kekuataannya. Sadar akan jumlahnya yang mayoritas.

Saat itulah Habib Rizieq bersama ulama lainnya, MUI, FPI, HTI, Muhammadiyah berhasil menyatukan buih-buih di laut itu jadi gelombang yang maha besar yang terujud dalam Aksi Bela Islam 1,2 dan 3. Jutaan umat Islam dari berbagai pelosok negeri melauti ibu kota menuntut penangkapan ahok sang penista Islam yang diikuti aksi yg sama oleh puluhan juta umat islam di berbagai provinsi.

 

Aksi 212 Monas

Ya, kini umat islam telah jadi gelombang.

Gelombang ini akan makin membesar dan akan membangkit kesadaran politik umat Islam. Inilah yg menakutkan musuh2 politik umat islam yang selama ini berkuasa di republik ini. Mereka takut gelombang itu akan menyapu dan menerjang mereka. Karena itu, dengan kemampuan ekonomi mereka, dan kemampuan mereka mengendalikan penguasa — mereka berupaya untuk memecah gelombang itu seraya mengembalikannya jadi buih di laut.

Berbagai cara mereka lakukan untuk itu. Mulai dari kriminalisasi para ulama seperti Habib rizieq yg dianggap sebagai penggerak gelombang.

Berbagai sangkaan yang tidak masuk akal terkesan dipaksakan untuk menjeratnya. Kini umat islam sudah terlanjur jadi gelombang. Mereka pikir dengan mengkriminalisasi para ulama, gelombang itu akan terhenti dan kembali jadi buih. Tidak.

Hari ini melalui sosmed ini kita sampaikan pada mereka atau siapapun yg mencoba menghambat perjuangan umat islam bahwa kami akan terus berjuang. Jangan berdiri di depan gelombang atau anda yang akan diterjang. Kepada warga muslim DKI kita serukan, ujudlah diri anda gelombang dahsat pada pilgub pebruari 2017 dengn cara tidak memilih Ahok.

Dia adalah bagian dari kekuatan yg mencoba menghentikan gelombang kesadaran dan kekuatan politik umat Islam. Dia adalah bagian dari kekuatan yang bernafsu mengembalikan umat islam jadi buih di laut. Sekarang terpulang pada umat Islam sebagai sebagai warga negara mayoritas, sebagai pemilik negeri yang sah…..apakah kita mau dikembalikan jadi buih? Miskin dan terpinggirkan ? Hina dan dinistakan minoriras ?

Allahu Akbar. Allahu Akbar…..

Hayo sudah tiba zaatnya bersatu dan jadi GELOMBANG.

Salam Indonesia. Salam fastabiqulkgairat………………..

NB : kepada saudara2ku seiman, saya mengimbau agar anda berkenan menshare setiap.postingan yg tentu saja bila anda nilai berisi ajakan amar makruf nahi.mungkar. Semoga kita jadi gelombang. (FB. Sofyan Tanjung)

 

(in)

%d blogger menyukai ini: