Sketsa News
Home Berita Terkini, Tekno-Sains The Habibie Center: Dialog ‘warung kopi’ untuk memecah echo chamber

The Habibie Center: Dialog ‘warung kopi’ untuk memecah echo chamber

Sketsanews.com – Sebenarnya topik bahasan Tech Talk ini sangat keren dan futuristik. Bagaimana menjadikan sosial media sebagai tempat untuk memberdayakan atau empowering (the nation).

Namun manfaat terbesar yang saya lihat adalah forum ini merupakan pertama kalinya teman-teman yang sama-sama memiliki visi dan gagasan untuk memerangi hoax (anti hoax), namun berada dalam silo (chamber) yang terpisah (terpolarisasi), bertemu untuk saling mendengarkan dan menyampaikan gagasan dari gerakannya masing-masing (lihat grafik SNA terlampir).

Silo Kelompok Muslim

Saya senang sekali Mas Ferry Koto jauh-jauh dari Surabaya terbang ke Jakarta dapat menghadiri forum ini. Beliau sangat tepat mewakili dan menyuarakan pendapat, gagasan, dan rencana dari teman-teman muslim yang berada dalam silo yang terpisah dari silo teman-teman masyarakat anti hoax.

Beliau menjelaskan bahaw faktor pemerintah yang tidak satu suara, media mainstream yang tidak adil dalam berita, merupakah beberapa alasan mengapa mereka tidak percaya kepada berita dari pemerintah dan media mainstream, sehingga media-media baru bermunculan. Dan pandangan mereka bahwa Masyarakat anti hoax dekat dengan tokoh-tokoh pendukung salah satu paslon yang selama ini dianggap sering membuat hoax, adalah salah satu alasan mengapa teman-teman dari silo muslim ini memiliki distrust terhadap gerakan yang dideklarasikan di berbagai kota tersebut.

Beberapa alasan dan penjelasan ini sangat bermanfaat bagi teman2 dari Masyarakat anti hoax tentang persepsi yang selama ini ada terhadap mereka dari silo teman-teman muslim.

Masyarakat Anti Hoax

Sementara itu, Mbak Santi Indra Astuti sebagai akademisi mewakili Masyarakat Anti Hoax menjelaskan landasan teori dan body of knowledge tentang hoax, yang membangun narasi dan literasi per-hoax-an dalam gerakan ini. Beliau menjelaskan rencana dan tahapan2 yang akan dilakukan oleh Masyarakat anti hoax. Pentingnya membangun literasi, bagaimana itu dibangun, dijelaskan dengan gamblang.

Dan dalam diskusi, mas Muhammad Jawy (Adjie) sebagai ketua gerakan ini, menjelaskan informasi yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat, khususnya dari silo muslim. Yaitu, gerakan ini adalah gerakan independen, tidak di bawah Kominfo, tidak dibayar pemerintah, bahkan diminta oleh kominfo untuk memberi kritikan dan tekanan kepada pemerintah khususnya kominfo untuk membuat atau melakukan suatu kebijakan yang penting untuk melawan hoax.

Di jelaskan juga, bahwa gerakan ini bekerja sama dengan seluruh kelompok keagamaan, misal dengan Muhammadiyah, NU, dan dengan gereja dan kelompok keagamaan lainnya. Mas Adjie bahkan bilang bahwa saat ini kita memiliki satu gagasan yang bisa menyatukan seluruh bangsa Indonesia, yaitu gerakan melawan hoax, karena sudah meresahkan semua pihak.

Penjelasan ini tentunya menjadi informasi baru bagi teman-teman muslim bahwa mereka sebenarnya berada dalam gerbong yang sama terkait upaya memerangi hoax. Dan semua akhirnya menyadari bahwa memang ada mispersepsi yang menjadi dinding pemisah antara dua silo tersebut.

Pengantar dan Pembahas Diskusi

Sebelum mereka berdua menyampaikan paparan, mas Ilham Habibie menjelaskan tentang bagaimana teknologi tumbuh dan berkembang menuju titik kestabilan. Facebook pada awalnya adalah perusahaan penyedia teknologi. Itu definisi mereka pada awalnya. Namun, kini ternyata mereka berubah menjadi perusahaan media. Platform FB telah menjadi media yang diisi oleh pengguna dan dikonsumsi oleh pengguna. Sayangnya saat ini aturan2 pers/media tidak diterapkan pada Facebook, sehingga perlu ada peninjauan ulang atas facebook.

Sementara itu, Drone Emprit sendiri menyajikan Peta dan Tantangan gerakan anti hoax di Indonesia. Dijelaskan tentang polarisasi yang ada di sosial media dalam menyikapi gerakan anti hoax, serta adanya distrust terhadap gerakan ini, meski semua sepakat dengan ide anti hoax. Juga dilaporkan hasil penelitian dari Univ Columbia tentang perlunya hoax buster dan kontra narasi dalam memerangi hoax di cluster2.

Terakhir mas Rudi Sukandar (associate THC) memaparkan tentang pasar ide, perang informasi, psy war yang tengah melanda sosial media kita. Hoax tidak berkaitan dengan tingkat usia atau pendidikan seseorang. Dipaparkan juga bagaimana kita harus memulai dari hal yang paling mikro dalam memerangi hoax, yaitu dari diri sendiri.

Rencana Ke depan

Saya dengar sayup-sayup mas Ferry Koto dan Muhammad Jawy ngobrol pasca acara, bahwa mereka akan lanjutkan dengan acara bersama yang mempertemukan kedua silo. Kesamaan pandangan terhadap hoax, kegelisahan yang sama, membawa mereka untuk bersama-sama bergerak memerangi hoax.

Benar kata mereka berdua, bahwa kita harus kembali ke habitat awal, yaitu obrolan warung kopi, ketemuan darat, untuk berdialog dan saling mendengar. Tidak melalui sosial media, tetapi melalui dipolmasi warung kopi.

Terimakasih

Terimakasih kepada Mbak Rahimah ‘Ima’ Abdulrahim yang telah mensupport dialog ini, mbak Santhi Serad yang menjadi moderator, dan kang Nano Estananto yang pertama kali mengenalkan saya ke mas Ilham Habibie sehingga kita bisa sampai di sini.

Semoga dialog yang telah diinisiasi oleh The Habibie Center ini bisa menjadi tradisi kembali dalam memecahkan distrust, echo chamber, dan konflik.

FB. Ismail Fahmi

 

(in)

%d blogger menyukai ini: