Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Waspadalah, PKI Ada di Sekeliling Kita

Waspadalah, PKI Ada di Sekeliling Kita

 

Sketsanews.com – Pemerintah Indonesia digemparkan dengan bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebuah partai radikal kiri yang pernah dilarang di bumi Indonesia di masa pemerintahan orde baru.

Namun, kebangkitan partai berlambang paluarit ini terjadi pro dan kontra di kalangan para ahli. Sebagai contoh apa yang disampaikan oleh Ilham Aidit salah seorang anak dari tokoh PKI yang bernama Dipa Nusantara (DN) Aidit.

Anak kandung dari pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara Aidit, Ilham Aidit tidak yakin jika paham komunis bisa hidup kembali. Bahkan menurutnya, PKI tidak mungkin bisa berdiri kembali.

Ilham mempunyai alasan jika PKI dan komunisme tidak mungkin berkembang di Indonesia. Menurut dia, hal yang mungkin PKI dan komunisme bisa tumbuh jika Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 adalah tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan larangan paham komunis dicabut.

“Tapi mungkin nggak itu dicabut?” tanya lelaki berkaca mata itu.

Selain itu, menurutnya, eks anggota dan simpatisan PKI yang masih hidup saat ini sudah tidak mungkin bisa mendirikan partai. Usia mereka sudah 70 tahun lebih. Sementara keturunan-keturunan eks anggota dan simpatisan PKI kebanyakan hidup dalam trauma cap negatif komunisme di masa orde baru. Mereka menutup diri.

“Di dunia ini, hanya Indonesia yang takut sekali dengan bahaya munculnya komunisme. Itu ngak masuk akal,” kata dia.

Demikian halnya dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan, mengakui sulit menjawab soal isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia. Namun demikian, dia melihat kenyataan bahwa saat ini PKI sudah tak ada lagi di bumi pertiwi.

“Domainnya susah jawab itu. Karena faktanya kan enggak ada. Sudah enggak ada PKI, enggak ada,” kata Iriawan saat ditemui di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Selasa, 24 Januari 2017.

Iriawan mengatakan bahwa isu kebangkitan PKI sangat tidak masuk akal. Karena sejauh ini tidak ada sedikit pun tanda. Dia pun meyakini isu tersebut hanya dibuat-buat saja.

Berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa kebangkitan Partai Komunis Indonesia sudah mulai ada. Itu bisa dengan melihat adanya indikasi-indikasi yang mengarah akan kebangkitan partai tersebut.

Menurut mantan Aster Kasad Mayjen TNI Purn  Prijanto di Jakarta, Ahad (29/6/2014), mengatakan bahwa komunisme sedang lakukan rekonsolidasi secara serius dan terencana di Indonesia. Dia menambahkan hanya satu kalimat yang paling tepat, jangan pernah beri peluang untuk komunis berkuasa di Indonesia.

Lebih jauh, Prijanto mengatakan, istilah petugas partai yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi juga dinilai modus komunisme. Sebab, istilah petugas partai mirip dengan pekerja partai yang pernah diakan tokoh PKI DN Aidit.

Militer Indonesia masih tetap menyimpan kekhawatiran dengan dua peristiwa yang terjadi yaitu ‘Affairs Madiun’ tahun l948, yang memakan korban tidak sedikit, terutama di daerah Madiun. Kemudian, peristiwa tahun l965, pemberotakan PKI, di mana 7 orang jenderal di bunuh oleh kader-kader komunis (PKI) dan Gerwani, dan mayatnya dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Ini tidak mudah dihapus trauma dikalangan militer Indonesia.

Sebagaimana yang diketahui, Madiun  Affair  merupakan sebuah  konflik  kekerasan  yang  terjadi  di  Jawa  Timur bulan  September–Desember  1948  antara  pemberontak  komunis  PKI  dan  TNI. Peristiwa  ini  diawali  dengan  diproklamasikannya  Negara  Republik  Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Kota Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pulaoleh Menteri Pertahanan saat  itu,  Amir  Syarrifudin.  Proses  perjuangannya  adalah  menguasai  militer sebagai landasan untuk merebut kekuasaan politik. (lihat  [T.N],  Saksi  dan  Pelaku  Gestapu:  Pengakuan  Para  Saksi  dan  Pelaku Sejarah  Gerakan  30  September  PKI ,  Yogyakarta:  Media  Pressindo,  2000,  hlm. 234).

“Dalam otak orang PKI, Babinsa adalah salah satu dari ‘7 Setan Desa’ yang harus dimusnahkan. Adu domba, saling fitnah, lempar isu sembunyi tangan, mengobok-obok institusi TNI AD mirip dengan suasana kebatinan saat PKI akan lakukan kudeta tahun 1965,” kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2007-2012 tersebut.

Menurut Prijanto, pelan-pelan rakyat dijauhkan dari TNI di saat yang sama alutsista TNI dilemahkan. TNI akan terus dihancurkan dengan menggunakan isu HAM, dan tokoh-tokohnya disudutkan dengan pelanggaran HAM. Semua dijalankan dengan sistematis. Seperti nampak dalam kampanye negatif terhadap Prabowo.

Selanjutnya, Prijanto mengomentari pernyataan Jokowi, “Tank Leopard yang dibutuhkan TNI AD ditolak. Dalam sejarah, TNI-AD memang adalah musuh bebuyutan komunis-PKI. Sepertinya ada aktor tertentu yang secara terbuka ataupun tersembunyi memanfaatkan kebebasan dalam Pilpres untuk memfitnah dan adu domba. Ada apa? Siapa yang bermain?” jelas dia.

Dia menjelaskan, rangkaian peristiwa tersebut patut dinilai, komunis PKI menggeliat. Ancaman laten komunis sangat nyata, perlu kita waspadai. “Bagi saya hanya satu kalimat yang paling tepat, jangan pernah beri peluang untuk komunis berkuasa di Indonesia,” tandasnya.

Sekarang terjadi kolaborasi antara kader-kader komunis yang sudah menyusup di PDIP dengan kalangan Katolik yang memiliki ideologi ‘Theologi Pembebasan’ yang diadopsi dari Amerika Latin, dan bermuara di Tim Sukses Jokowi. Maka, sekarang Tim Sukses terus menggelindingkan dan menggelorakan tentang idiom atau kata ‘kerakyatan’.

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab dalam Simposium Nasional Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (01/06/2016), membeberkan indikasi-indikasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia.

Habib Rizieq mengungkap, salah satu indikasi bangkitnya PKI adalah adanya tuntutan pencabutan aturan yang melarang ideologi Komunisme yakni TAP MPRS No. XXV Tahun 1966.

Indikasi lainnya, lanjut Habib Rizieq adalah upaya penghapusan sejarah pengkhianatan PKI dalam kurikulum sekolah.

“Di sekolah dasar yang tadinya ada sejarah pengkhianatan PKI sekarang dihapus sehingga anak-anak kita tidak mengenal PKI itu seperti apa. Juga penghentian pemutaran film G 30 S/PKI dari TVRI membuat masyarakat jadi lupa kejahatan PKI,” ungkap Habib Rizieq.

Selanjutnya yang menandai bangkitnya Komunis di Indonesia adalah banyaknya “bantuan” China sebagai negara Komunis kepada Indonesia berikut kompensasinya. Terbaru adalah rencana Jokowi meminta maaf kepada PKI.

Sejarah Awal Mula Bangkitnya PKI di Era Masa Kini

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pelarangan tentang Partai Komunis diatur dalam Tap MPRS No. XXV/1966 yang berisi tentang pembubaran PKI, pernyataan organisasi terlarang di seluruh wilayah negara RI bagi PKI dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan/mengembangkan paham atau ajaran komunise/marxisme, leninisme.

Isu pencabutan soal Tap XXV/MPRS/1966 yang mengatur tentang Komunisme, Marxisme, dan Leninisme masih menjadi perdebatan. Terlebih setelah Presiden Gus Dur – sebelum berangkat ke Kuba –berkali-kali menyatakan tak keberatan Tap itu dicabut.

Komentar Gus Dur itu diungkapkan di berbagai tempat dan cukup demonstratif: di Istana, di Kongres PDIP Semarang, juga di Gajah Mungkur-Wonogiri, dan lain-lain. Tapi ucapan presiden itu ditentang oleh Menkumham Yusril Ihza Mahendra yang menolak pencabutan Tap itu. Tentangan juga datang dari TNI, yang menganggap ucapan Gus Dur itu sebagai pernyataan pribadi.

Tantangan terhadap Gus Dur kian terasa ketika Ormas-ormas Islam menyatakan penolakan pencabutan. Penolakan itu diikuti aksi demo massive di jalan-jalan protokol dan Istana Merdeka. Tapi Gus Dur di Meksiko malah menilai para penolak itu tak mengerti persoalan.

Pakar hukum tata negara Refly Harun menyatakan Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang menjadi dasar hukum bagi pemerintah dalam menangkapi para pengguna atribut palu-arit, menyita buku-buku yang dianggap berhaluan kiri, dan membubarkan berbagai diskusi terkait peristiwa 1965, sesungguhnya bertentangan dengan konstitusi yang menjamin kebebasan berpikir dan berekspresi tiap warga negara Indonesia.

Oleh sebab itu, menurut Refly, Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 itu mestinya dicabut karena berlawanan dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Republik Indonesia.

“Seharusnya kalau mau, Tap MPRS itu ditinjau dan dicabut, barulah tidak ada dasar hukum lagi untuk melarang warga berpendapat,” kata Refly kepada CNNIndonesia.com di Jakarta, Jumat (13/5).

Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 itu ialah tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, dan larangan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme.

Berawal dari sinilah ajaran komunisme/marxisme-leninisme mendapat angin segar bisa hidup kembali di Indonesia. Komunisme yang sempat “mati suri” pasca runtuhnya Uni Soviet dan komunisme Eropa Timur. Tapi komunisme China makin kuat dan bermetamorfosis. Komunisme Indonesia sama saja. Tidak pernah mati. Mereka kini bangkit kembali, menguat, menyusup kemana-mana, termasuk ke PDIP dan Pilpres.

Kebangkitan kembali komunisme Indonesia sedang terjadi. Mereka siap-siap merebut kekuasaan tanpa disadari rakyat Indonesia. Apa buktinya? Bukti 1, kebangkitan komunisme Indonesia, dapat disaksikan dengan banyaknya acara-acara dan kegiatan-kegiatan yang secara terbuka mengusung isu komunisme.

Budiman Sujatmiko, Rieke “Oneng” Pitaloka, Ribka Tjiptaning, Adian Napitupulu dll, gencar bikin acara-acara usung dan sosialisasikan komunisme. Celakanya, banyak aktifis, tokoh-tokoh, politisi-politisi, akademisi, bahkan ulama, tanpa sadar ikut terlibat dan membantu gerakan komunis ini. Mereka sadar atau tanpa sadar mendukung bangkitnya komunis Indonesia yang membonceng isu HAM, demokrasi, hak-hak buruh, anti SARA dst.

Komunisme yang agung-agungkan ateisme, selalu benturkan agama vs negara, raih kekuasaan melalui cara-cara kekerasan = anti Pancasila dan anti agama. Paham komunis era pasca kemerdekaan beda dengan komunisme era pra kemerdekaan, dimana saat itu tokoh-tokoh komunis banyak yang kuat agamanya.

Paska kemerdekaan, menguatnya komunisme Soviet dan China, komunis “hijau” sudah lenyap. Yang dominan adalah komunis merah. Musuh Pancasila. Pada 1945 – 1965 komunis menyusup ke TNI, berkuasa di Birokrasi, dominan politik, berpengaruh terhadap Presiden dan meraih simpati rakyat.

Kini, komunisme Indonesia mendapat dukungan dari sejumlah jendral purnawirawan, eksis di politik, dan mulai meraih simpati rakyat. Sejumlah jendral purn binaan atau kader LB Moerdani memanfaatkan tokoh-tokoh komunis Indonesia untuk mewujudkan rencana mereka = hancurkan Islam

Upaya hancurkan Islam adalah bagian dari rencana menguasai Indonesia. Karena Islam adalah kekuatan riil di Indonesia, bersama TNI/Polri

Partai yang paling mengakomodir para tokoh-tokoh komunis ini adalah PDIP. Karena romantisme sejarah atau pun karena pertimbangan praktis. Tokoh-tokoh eks PRD, FORKOT dan ormas-ormas lain berpaham kiri, sosialis utopis, komunis, ramai-ramai masuk PDIP. Sekarang mereka mau kuasai PDIP.

Faksi komunis di PDIP semakin menguat ketika PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC). PDIP mengirim kader-kadernya belajar ke PKC. Sedikitnya tiga kali atau 3 gelombang pengiriman kader-kader PDIP belajar PKC China. Disana mereka belajar dan merevitalisasi ideologi komunis.

Kesimpulan

Waspadalah bahwa partai berlambang paluarit atau PKI ada di sekeliling kita yang ingin mencoba menguasai Indonesia.

Sebagaimana halnya tujuan PKI melakukan pemberontakan di Madiun adalah pertama, PKI ingin mendirikan pemerintahan sosialistis yang berazazkan Marxisme-Leninisme di Indonesia yang berawal dari Madiun.

Kedua, PKI ingin mencari massa untuk menentang TNI dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuannya.

Ketiga, PKI ingin menguasai negara Republik Indonesia dan merubah sistem pemerintahan yang diawali dari pemerintahan kota Madiun.

(Jp)

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: