Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Politik Kunjungan Raja Salman antara Harapan dan Fatamorgana

Kunjungan Raja Salman antara Harapan dan Fatamorgana

Saudi King Salman, center left, and Indonesian President Joko Widodo walk under umbrellas during heavy rain at the presidential palace in Bogor, West Java, Indonesia, Wednesday, March 1, 2017. Salman arrived in the world’s largest Muslim nation on Wednesday as a part of a multi-nation tour aimed at boosting economic ties with Asia. (AP Photo/Achmad Ibrahim, Pool)

Sketsanews.com – Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz berkunjung ke Indonesia pada tanggal 1 – 9 Maret 2017. Dalam kunjungan ke Indonesia raja Salman membawa rombongan sebanyak 1500 orang dan kunjungan ke Indonesia ini merupakan rangkaian kunjungan ke Asia selain kunjungan raja Salman ke Jepang, China dan Malaysia.

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz Ali Saud ke Indonesia mendapat sambutan yang gegap gempita. Kunjungan ini juga melambungkan berbagai ekspektasi dari berbagai pihak. Dalam tur selama 31 hari di Asia ini, Indonesia menjadi negara kedua yang disinggahi oleh Raja Salman.

Selain mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Indonesia kedatangan raja Salman ke Negara kita tercinta ini juga menjadi sorotan banyak pihak baik dari media-media asing. Kenapa demikian?

Diantaranya adalah kondisi raja Salman sendiri yang sudah sepuh, ini juga menjadi daya tarik tersendiri karena dia harus melakukan persiapan yang luar biasa. Namun yang paling penting mengapa kedatangan raja Salman mendapat sambutan yang luar biasa adalah:

  1. Kargo bermuatan hampir mencapai 500 ton

Sebelum tiba, pihak Arab Saudi telah mengirim beberapa barang kebutuhan Raja Salman ke Jakarta dan Bali. Dengan berat total 459 ton, kargo tersebut mencakup dua unit Mercedes-Benz S600 dan dua tangga listrik.

PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) Direktur Adji Gunawan mengatakan kargo, 63 ton akan dibongkar di Bandara Halim Perdanakusuma. Sisanya, 396 ton akan dibawa ke Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar, Bali.

Total muatan yang dibawa Raja Salman dalam kunjungan ini pun disorot oleh media Inggris, The Independent melalui artikel berjudul “King Salman of Saudi Arabia lands in Indonesia with 459 tonnes of luggage and two mercedes”.

CNN juga memuatanya dengan tulisan “1,500 people, 2 elevators and 500 tons of luggage — here’s how the Saudi king travels”.

  1. Tangga berlapis emas

Laman Inggris The Sun dalam tulisan “Golden Touchdown Saudi King Salman arrives in Indonesia on a gold escalator – along with 506 tonnes of luggage, two limos and 1,000 staff” memberitakan bahwa dalam kunjungan ke Indonesia ini Raja Salman membawa dua eskalator berlapis emas, sepasang limusin Mercedes-Benz dan toilet custom yang telah dibuat untuknya di sebuah masjid di Jakarta.

  1. Lebih dari 1000 delegasi

Dalam kunjungan kali ini Raja Salman membawa serta 900 delegasi. Jumlah tersebut lebih banyak dari total yang dibawanya saat kunjungan ke Malaysia.

Jumlah pendamping Raja Salman menjadi sorotan media Australia ABC.net.au dalam tulisan “Saudi King Salman and entourage of 900 people make milestone visit to Indonesia”.

Beberapa media menyebut total delegasi mencapai 1.500 orang. Seperti dimuat Reuters dengan “Saudi king to visit Indonesia in March with entourage of 1,500: Indonesian officials”.

  1. 150 juru masak

Sebanyak 150 juru masak dikerahkan untuk memberikan hidangan terbaik kepada rombongan Raja Salman di pesawat Jakarta dan Bali. Ratusan juru masak yang berasal dari Aerofood ACS, sebuah perusahaan penyedia inflight catering bertaraf internasional di bawah naungan Garuda Indonesia ini, bertugas memasak dan meracik menu makanan bercitarasa Timur Tengah favorit Raja Salman.

Juru masak Aerofood ACS terus bekerja 24 jam penuh yang dibagi dalam tiga shift, dan berkolaborasi dengan juru masak kepercayaan Kerajaan Arab Saudi untuk menyiapkan hidangan premium bertaraf internasional.

  1. Ribuan Petugas Keamanan

Pengamanan dalam rangka kunjungan Raja Salman ke Indonesia menjadi sorotan media Singapura, Channel News Asia. Melalui artikel “Saudi king arrives in Indonesia under tight security”, mereka menyoroti jumlah petugas yang dikerahkan.

Dalam artikel, setidaknya 9.000 polisi dan militer untuk kunjungan 12 hari. Laman media China, Xinhua dengan tulisan “Indonesia to deploy 10,000 personnel to secure visit of Saudi Arabia’s King Salman” menyebutkan bahwa Indonesia mengerahkan 10 ribu personel untuk mengamankan kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud di Indonesia.

Namun yang paling penting adalah apa sebenarnya misi kunjungan raja Salman ke Indonesia. Kunjungan ke Indonesia dianggap banyak pihak sebagai kunjungan yang historis. Pasalnya, ini adalah kunjungan Raja Saudi sejak 46 tahun lalu. Agak janggal, katanya, tidak ada kunjungan Raja Saudi ke Indonesia, negeri muslim terbesar, selama 47 tahun. Apalagi, dalam kunjungan ini, Salman ditemani rombongan hingga 1500 orang, di antaranya 25 orang pangeran dan 10 menteri.

Seperti yang diungkapkan oleh Seskab Pramono Anung, Raja Salman akan berada di Indonesia selama sekira sembilan hari. Tiga hari akan diisi dengan agenda di Jakarta dan sisanya sekira enam hari di Bali. Raja Salman disambut langsung oleh Presiden Jokowi di bandara Halim Perdana Kusuma dan langsung menuju ke Istana Bogor melalui jalur darat dan melakukan pertemuan bilateral kurang lebih selama 2 jam.

Kepala Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Ikatan Agen tour dan Perjalanan Indonesia), I Ketut Ardana, menjelaskan, dari informasi yang diterimanya Raja Salman telah memesan Hotel The St Regis Resort, The L Resort and Spa, Hilton Bali Resort, dan The Ritz Carlton. “Empat hotel itu tempat menginap rombongan Raja Salman selama berlibur di Bali mulai 4-9 Maret depan,” kata Ardana di Kuta, Minggu, 26 Februari 2017.

Jadi kunjungan 9 hari ke Indonesia juga bisa dikatakan sebagai liburan massal rombongan Raja Saudi ke Bali. Sebab dari 9 hari waktu kunjungan, yang lebih banyak merupakan liburan, yaitu 6 hari. Begitupun, anggota rombongan yang ikut menyertai agenda resmi Raja Salman sangat kecil dibanding jumlah rombongan yang mencapai 1500 orang.

Liburan Termahal

Berdasarkan estimasi anggaran yang dihabiskan oleh raja Salman beserta rombongan mencapai puluhan milyar. Menurut estimasi Asnawi, untuk urusan menginap di Jakarta saja Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan minimal Rp 16 miliar per hari. “Taruhlah tarif menginap per malamnya Rp 20 juta per malam. Kamar yang disewa 800. Hasilnya dikalikan tiga hari, sudah Rp 48 miliar uang yang beredar hanya untuk sewa hotel,” tuturnya.

Itu baru urusan penginapan, belum urusan sewa mobil, tiket pesawat dan konsumsi. Kalau kita simulasikan  dengan maskapai penerbengan komersil yaitu penerbangan Saudia Airlines Riyadh – Jakarta. Asumsi harga tiket yang digunakan dalam perhitungan ini adalah Saudia Airlines pulang pergi dengan rute tersebut adalah Rp 10 juta.

Untuk mengangkut sejumlah 1.500 orang, rombongan Kerajaan Arab Saudi akan menggunakan 7 pesawat berbadan lebar. Jika dikalikan dengan jumlah peserta, jumlahnya bisa mencapai Rp 14,550 miliar.

Untuk memenuhi jadwal kunjungan ke Bali, rombongan akan kembali menempuh penerbangan dengan rute Jakarta Denpasar. Harga tiket pesawat untuk rute tersebut adalah Rp 4 juta untuk tiket pulang pergi. Total biaya yang dihabiskan untuk pesawat menuju ke Bali tersebut mencapai Rp 6 miliar.

anggaran biaya sewa mobil, rombongan Arab Saudi punya gaya tersendiri dalam melakukan kunjungan ke luar negeri. Mereka akan menyewa mobil mewah untuk seluruh delegasi.

Kunjungan di Washington DC, rombongan Kerajaan Arab Saudi menyewa 400 mobil Mercedez Benz. Hal serupa juga kembali dilakukan saat Raja Salman berkunjung ke Prancis.

Jika di Jakarta, mobil dengan merk tersebut disewakan dengan harga Rp 20 juta per hari. Dengan asumsi jumlah mobil yang akan disewa oleh Kerajaan Arab Saudi sebanyak 400 mobil, anggaran yang dihabiskan akan sebanyak Rp 8 miliar per hari.

Angka yang digunakan untuk menghitung jumlah pengeluaran untuk makan didasarkan pada harga restoran hotel bintang 5. Baik di Bali maupun di Jakarta, harga restoran berkisar di angka Rp 250 ribu per pax.

Untuk seluruh perkiraan kebutuhan pokok perjalanan 1.500 rombongan dari kerajaan Arab Saudi selama 9 hari, totalnya mencapai Rp 6,7 miliar.

Harapan dan Fatamorgana

Rencana kedatangan raja Salman Indonesia merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, sehingga mereka sangat berantusias bahwa dia akan mampu mengobati hati yang terluka. Kalau boleh diibaratkan perasaan kangennya seorang anak yang ditinggal bapaknya dan sebentar lagi bapaknya akan kembali menemuinya.

Itu merupakan gambaran nyata kenapa demikian? Karena bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan dikunjungi oleh seorang kepala Negara / raja dari pemerintahan yang diakui sebagai pemerintahan Islam. Apalagi kondisi saat ini di Indonesia sedang ramai-ramainya isu penistaan agama, sehingga masyarakat Indonesia ingin mengadukan kepada rajanya.

Selain itu, menurut informasi yang berkembang di media-media social bahwa kedatangan Raja Salman juga akan melunasi semua hutang Indonesia yang hari berada dalam cengkeraman Amerika dan China.

Sungguh amat disayangkan, ternyata kedatangan raja Arab Saudi tidak sesuai dngan harapan, karena bukannya untuk memberikan dana secara cuma-cuma tapi bentuknya adalah investasi sebagaimana yang ditawarkan oleh Negara lainnya, hanya yang membedakan kalau Negara lain investasi berbunga tapi dengan kerajaan Arab Saudi 0%.

Dalam pertemuan di Istana Presiden di Bogor, Presiden Joko Widodo dan Raja Salman di Istana Bogor menandatangani 11 Nota Kesepahaman atau MoU, antara lain mencakup ekonomi, kebudayaan, usaha kecil dan menengah, serta industri aeronautika.

Alangkah bagusnya apabila anggaran baik yang digunakan untuk biaya liburan maupun yang diinvestasikan dimana anggaran tersebut jumlahnya mencapai trilyunan itu dibagikan kepada semua masyarakat miskin di Indonesia dengan gratis bukan dengan cara investasi.

Masalahnya jika itu bentuknya investasi maka hanya akan dinikmati oleh segolongan tertentu sedang rakyat miskin tidak mendapat bagian sedikitpun. Sedangkan keuntungannya untuk mengembalikan modal kepada kerajaan Arab Saudi.

Namun pertanyaan yang menggelitik adalah kenapa Jokowi lebih memilih kepada Negara Islam / kerajaan Arab Saudi (itu kalau mau dikatakan sebagai Negara Islam) untuk berinvestasi kepada Indonesia, bukan memilih kepada China atau Amerika?

Jelas ini nilai politiknya, kenapa presiden Jokowi tidak memilih China atau Amerika, karena hal itu tidak mungkin dengan melihat kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini. Dengan adanya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok terkuak semua musuh-musuh bangsa ini yakni pengusaha China (9 naga). Jadi kalau presiden Jokowi tetap bersikeras memilih China maka dia pun akan terkena imbasnya.

Demikian juga Amerika yang mana hari ini lebih banyak masalahnya (kasus PT. Freeport), jelas ini akan menyeretnya dalam kesulitan ketika mencalonkan presiden pada periode berikutnya.

(Jp)

%d blogger menyukai ini: