Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, Nasional, News Akankah Berakhir Tuntutan Umat Islam dengan Terlaksananya Pilkada

Akankah Berakhir Tuntutan Umat Islam dengan Terlaksananya Pilkada

(Foto: PKS-Jakarta.or.id)

Sketsanews.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI 2017 baru selesai dilaksanakan hari ini. Meskipun demikian proses masih terus berlangsung karena belum terselesaikan semua masalah perhitungan suara.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa proses pilkada DKI Jakarta 2017 telah mengukir sejarah tersendiri bagi bangsa ini. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan ulah dari calon gubernur DKI, Basuki Tjahja Purnama atau yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok telah melakukan penghinaan terhadap ummat Islam di Indonesia dengan mengatakan “Jangan mau dibohongi dengan al Maidah”. Ucapan Ahok itu telah membuat umat Islam di Negara ini marah dan tersakiti, sehingga muncul aksi untuk menuntut Ahok ditangkap dan ditahan.

Berbagai aksi dilakukan untuk meminta kepolisian Indonesia menindak Ahok, namun dikarenakan kelambanan pihak aparat ini maka masyarakat Indonesia menggelar aksi mulai dari aksi 14 Oktober 2016 dimana ribuan ormas Islam yang dikomandoi oleh FPI melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta.

Dalam aksinya, mereka menuntut agar penyelidikan atas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama segera dilakukan. Habib Rizieq Shihab yang juga pimpinan FPI mengecam akan melakukan aksi yang lebih besar jika tidak kunjung merespon kasus ini dalam 3 Minggu berikutnya.

Proses penyelidikan yang dianggap berjalan sangat lamban membuat ormas Islam kembali menghimpun massa dalam jumlah yang lebih besar. Berbagai pesan disebarkan melalui media sosial untuk mengundang masyarakat hadir dan turut serta dalam unjuk rasa Aksi Bela Islam II yang nantinya lebih dikenal dengan ‘Aksi 4 November’ atau ‘Aksi Damai 411’.

Pada awal November 2016, para pengunjuk rasa yang berasal dari luar daerah mulai berduyun-duyun datang menuju DKI Jakarta untuk menghadiri aksi ini.

Pada 4 November 2016, aksi unjuk rasa ini kembali diadakan dengan jumlah massa yang sangat besar sekitar ratusan ribu orang. Aksi ini dimulai usai shalat Jumat dan menjadikan posisi di depan Istana Negara sebagai pusatnya. Kali ini para pengunjuk rasa berusaha agar tidak melakukan pengrusakan dan menjaga kebersihan agar tidak dikritik sebagaimana demo sebelumnya. Selain di Jakarta, aksi serupa juga diadakan di beberapa kota lainnya di Indonesia.

GNPF MUI selaku penyelenggara Aksi Bela Islam II mengungkapkan akan mengadakan kembali aksi serupa pada tanggal 2 Desember 2016. Habib Rizieq menyampaikan bahwa aksi ini akan berlangsung dengan super damai karena diadakan dalam bentuk ibadah bersama.

Pernyataan ini mendapatkan tanggapan beragam. Ketua DPR RI, Ade Komaruddin memilih untuk tidak menanggapi aksi tersebut dan meminta wartawan untuk bertanya langsung kepada para penyelenggara. Sedangkan Kapolri, Tito Karnavian mengancam tidak akan mengeluarkan izin untuk aksi tersebut karena khawatir akan ditunggangi.

Aksi terus berlangsung hingga terlaksananya proses pemilihan gubernur DKI 2017 baik putaran pertama maupun kedua. Dan yang terakhir ini dikenal dengan istilah “Tamasya al Maidah”. Aksi ini dilakukan dalam rangka mengawal proses berlangsungnya pilkada. Aksi ini dimulai dari masjid Istiqal terus berjalan dari TPS satu ke TPS lainnya.

Pasangan calon urut nomor 3 dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno menang versi hitung cepat atau quick count berbagai lembaga survei.

Situs The New York Times memuat kabar tersebut dengan tajuk “Early Result Suggest Loss for Jakarta Governor in Religiously Tinged Election”.

“Hasil tidak resmi dari pemilihan gubernur Jakarta, Ibu Kota Indonesia, pada Rabu menunjukkan bahwa petahana, Basuki Tjahaja Purnama, kalah dalam pertarungan sengit yang secara luas dipandang sebagai ujian bagi toleransi agama dan etnis di negara mayoritas muslim terbesar di dunia,” demikian kalimat pembuka di artikel The New York Times.

“Hanya beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup, lembaga survei independen melakukan hitung cepat dan hasilnya menunjukkan, penantang Ahok, Anies Baswedan, yang juga mantan menteri pendidikan memimpin dengan perolehan suara antara 56 dan 59 persen,” tulis media tersebut.

Situs berita Asian Correspondent hadir dengan artikel berjudul “‘Quick count’ shows Anies Baswedan is new Jakarta governor”.

“Meski Komisi Pemilihan Umum mengatakan bahwa hitung cepat bukanlah hasil akhir, namun data awal dari kebanyakan lembaga survei menunjukkan Anies Baswedan dan pasangannya Sandiaga Uno berhasil memimpin dengan 57-58 persen suara dibandingkan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat yang meraih 42 persen,” tulis Asian Correspondent dalam artikelnya.

Dalam ulasannya, Asian Correspondent juga mengutip cuitan Anies di media sosial Twitter pada detik-detik jelang kemenangannya versi hitung cepat.

“Teman-teman, siapapun yang telah Anda pilih, mari saling merangkul satu sama lain, saatnya bagi Jakarta untuk maju dan bahagia bersama,” demikian kutipan kicauan Anies.

Dengan kemenangan pasangan Anies-Sandi memunculkan pertanyaan mampukah pasangan Anies-Sandi memikul beban berat yang ada di pundak mereka atas tuntutan dan keinginan dari masyarakat DKI dan umat Islam khususnya yang telah banyak berkorban baik tenaga, dana dan pikiran untuk mendukung jadi gubernur DKI Jakarta.

Kalau mau belajar dari sejarah bangsa ini, belum pernah ada para pemimpin bangsa ini setelah mereka menjabat kemudian mau melaksanakan apa yang menjadi keinginan para pendukungnya.

Begitulah para pemimpin yang dihasilkan oleh sebuah system demokrasi. Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa demokrasi hanyalah melahirkan para pemimpin yang hanya mementingkan diri dan partainya, mereka lupa kepada para pendukungnya.

Apabila ini terjadi maka masyarakat akan lebih tersakiti dan menghilangkan rasa kepercayaan terhadap pemimpinnya.

Maka solusinya adalah mereka yang nanti terpilih harus benar-benar memegang janji dan umat Islam DKI harus tetap pada pendiriannya dan jika perlu merombak system demokrasi negeri ini karena telah terbukti kegagalannya.

(Jp)

  • Rani Mukerje

    Hati ini sakit dg ulah Ahok..
    Dg terpilihnya Anis-Sandi, jgn pernah kecewakan kami
    Kemenangan ini berkat rakyat Indonesia semuanya