Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Opini Proses Pembelajaran Lebih Penting dari Sekadar Jam Belajar

Proses Pembelajaran Lebih Penting dari Sekadar Jam Belajar

Antarina SF Amir dari Highscope Indonesia (Ist)

Penulis: Intan Fauzi

Sketsanews.com, Jakarta – Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diimbau untuk menilik kembali tujuan dari aturan lima hari sekolah dengan tujuan penguatan pendidikan karakter.

Menurut Antarina F Amir dari Highscope Indonesia, penguatan pendidikan karakter dilakukan dalam proses pembelajaran. “Pengembangan karakter sangat kuat pengaruhnya dari learning process. Salah satunya atmosfer dan suasana belajar. Ini dampaknya besar terhadap penguatan karakter,” kata Antarina dalam diskusi Populi Center di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6).

Ia mencontohkan, sistem hukuman dalam proses belajar tidak efektif diterapkan pada anak. Sebab, sistem hukuman berdampak pada kualitas percaya diri anak. Sebaliknya, sistem pendidikan harusnya mengajarkan anak bahwa membuat kesalahan termasuk dalam proses pembelajaran. “Kalau ini dilakukan, anak akan percaya diri, jujur, dan mau mengakui kesalahan,” ujarnya.

Oleh karenanya, Antarina menganggap, ada masalah mendasar dalam proses pembelajaran di sekolah dibandingkan hanya sekedar memikirkan banyaknya waktu belajar anak. Lamanya waktu belajar dinilai menambah beban pada anak.

“Jadi saya lebih cenderung menyamakan pendekatan belajarnya saja. Suasana belajarnya sama, tidak ada ketakutan, sekolah nyaman, budaya belajarnya baik, itu lebih baik konsen pada itu,” terang Antarina.

Disebut di Pasal 8 Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah menyebutkan kalau kebijakan lima hari sekolah dilakukan bertahap tergantung kesiapan sekolah.

Menanggapi hal ini, pemerhati pendidikan Tatang Mutaqqin menilai, inisiatif penerapan lima hari sekolah seharusnya datang dari sekolah. “Inisiatif itu harus datangnya dari sekolah, bukan regulasi. Basisnya bukan hanya di daerah tetapi juga sekolah, bahkan sekolah di daerah juga beragam (kondisinya),” kata Tatang pada kesempatan yang sama.

Kondisi yang berbeda-beda di tiap sekolah, bahkan tiap daerah, ujarnya, akan memunculkan keputusan berbeda setiap sekolah dalam menyikapi kebijakan lima hari sekolah. Menurut Tatang, jangan sampai kondisi tersebut membuat kepala sekolah bingung untuk menentukan sikap. “Jadi di level sekolah harus ada keputusan sekolah, guru, dan orang tua siswa,” ucap dia.

Anggota The James Coleman Associations itu bilang, sehingga tak perlu dipermasalahkan lagi, baik sekolah yang menerapkan maupun belum. Yang perlu dipikirkan lebih lanjut yakni bagaimana penguatan guru yang memberikan pembelajaran pendidikan karakter.
Sumber: Media Indonesia
(Ro)

%d blogger menyukai ini: