Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Menyoal Islam Konservatif dan Islamofobia di Indonesia

Menyoal Islam Konservatif dan Islamofobia di Indonesia

Sketsanews.com – Dunia perpolitikan di Indonesia paska Pilkada DKI 2017 semakin hangat dibicarakan apalagi dengan terpilihnya pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Media barat menyebut bahwa kemenangan Anies merupakan kemenangan dari Islam Konservatif. Konservatif, diartikan sebagai mempertahankan kondisi, kebiasaan dan tradisi yang ada.

Dalam konteks ini, lebih diartikan sebagi Islam yang berpegang pada nilai nilai yang ada, tentu dalam artian Islam yang berpegang pada nilai nilai al Quran dan Al Hadits. Khususnya tentu saja dalil-dalil naqli yang terkait dengan kepemimpinan Islam, lebih khusus lagi adalah QS. Al Maidah 51, atau Al Maidah Power.

Sebagaimana yang disebutkan Republika.co, bahwa Media Inggris BBC menulis judul ‘Jakarta Election: Governor Concedes to Muslim Rival’. Pada awal berita, BBC mengungkapkan bagaimana gubernur Kristen telah mengakui kekalahan atas kandidat Muslim yang juga mantan menteri.

Media AS, CNN, menulis judul Jakarta governor conceded election after divisive campaign.” Pada paragraf kedua CNN menyebut kekalahan Ahok sepertinya merupakan kemenangan bagi kelompok konservatif Muslim. Straits Times menulis judul ‘Ahok loses Jakarta election to ex-minister’. Pada paragraf awal Times menulis bagaimana kekalahan Ahok diwarnai dengan ketegangan rasial dan agama.

Financial Times menulis dalam judulnya, ‘Christian governor ousted in Jakarta election.’ Pada paragraf pertama Times juga menggambarkan bagaimana kekalahan Ahok merupakan kemenangan kelompok konservatif Islam dan kalahnya pluralisme.

Media AS, New York Times menulis, ‘Jakarta governor concedes Defeat in Religiously Tinged Election’. Menurut Times pemilihan ini merupakan tes bagi toleransi keagamaan dan etnis di negara mayoritas Muslim. Media Australia ABC News menulis judul, ‘Jakarta election: ‘Quick count’ show Muslim candidat soaring past Christian governor Ahok’.

Pertanyaan yang muncul adalah betulkah ini merupakan kemenangan Islam Konservatif atau ini merupakan bentuk nyata ketakutan orang-orang Barat dengan berkuasanya kelompok Islam.

Padahal dalam dunia perpolitikan ini merupakan kemenangan yang wajar karena masyarakat mulai menyadari akan butuhnya seorang pemimpin yang jujur dan mau mengerti akan kebutuhan rakyatnya.

Untuk menjawab pertanyaan diatas perlu kiranya untuk mengetahui arti Konservatif itu sendiri.

Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, conservāre, melestarikan; “menjaga, memelihara, mengamalkan”. Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula.

Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante.

Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang otentik sebagai “bertahannya dan penguatan orang-orang tertentu dan ungkapan-ungkapan kebudayaannya yang dilembagakan.”

R.J. White pernah mengatakannya demikian:

“Menempatkan konservatisme di dalam botol dengan sebuah label adalah seperti berusaha mengubah atmosfer menjadi cair … Kesulitannya muncul dari sifat konservatisme sendiri. Karena konservatisme lebih merupakan suatu kebiasaan pikiran, cara merasa, cara hidup, daripada sebuah doktrin politik.”

Jadi kalau merujuk kepada definisi Konservatif diatas maka ini adalah sesuatu yang wajar apabila masyarakat ingin perubahan kondisi dengan memilih pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan tidak ada kaitannya dengan Islam Konservatif.

Islam Konservatif dan Islamofobia

Tuduhan yang dilontarkan oleh media Barat bahwa kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno merupakan kemenangan dari Islam Konservatif adalah sesuatu yang berlebihan. Namun pada intinya mereka hanyalah ada rasa takut dan benci apabila Islam berkuasa dimana mereka menganggap tidak akan dapat tempat.

Sebenarnya kalau kita lihat kebencian dan ketakutan kaum minoritas ada dalam perumusan Pancasila yang terdapat di dalam piagam Jakarta. Dalam piagam Jakarta disebutkan bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk pemeluknya.

Satu kata “Menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, membuat resah kaum minoritas sehingga kemudian mereka berusaha mendekati kaum bangsawan untuk menghilangkan kata tersebut.

Ini merupakan titik awal ketakutan kaum minoritas kepada Islam sehingga mereka berusaha keras untuk menghalang halangi kubu umat Islam masuk dalam politik praktis.

Apalagi hari ini, masyarakat sudah mulai sadar akan kebutuhan terhadap agama dan kerinduan hidup di bawah naungan syariat. Hal tersebut dikarenakan kegagalan sistem demokrasi yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi antar suku bangsa.

Jadi wajar apabila semakin berkembang di masyarakat majlis majlis taklim baik golongan tua maupun muda untuk memenuhi kebutuhan akan pentingnya agama.

Kalau ini dianggap sebagai titik perkembangan Islam Konservatif di Indonesia maka ini sangatlah berlebihan justru ini merupakan bentuk nyata ketakutan kepada Islam atau islamofobia dari orang-orang yang tidak senang terhadap Islam.

(Jp)

%d blogger menyukai ini: